OpiniUtama

Memuliakan Pekerja: Refleksi Islam di Hari Buruh

43
×

Memuliakan Pekerja: Refleksi Islam di Hari Buruh

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Hari Buruh bukan sekadar momentum protes. Ini panggilan reflektif bagi umat Islam untuk menegakkan ekosistem kerja yang adil, manusiawi, dan menjunjung martabat setiap pekerja.

Oleh Ulul Albab; Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur; Akademisi Unitomo

Tagar.co – Setiap 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional. Namun ironisnya, dari tahun ke tahun, peringatan May Day ini biasanya tak hanya ditandai dengan orasi dan poster, tetapi juga diwarnai oleh tumpukan keresahan. Keresahan yang menumpuk. Mengapa? Karena di balik pertumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologi, nasib jutaan buruh semakin dibayangi masalah dan penuh ketidakpastian.

Di Indonesia misalnya, bisa kita baca dari data BPS yang menunjukkan bahwa hingga akhir 2024, masih terdapat lebih dari 58 juta pekerja informal di Indonesia, yang tidak memiliki jaminan kerja, kesehatan, apalagi jaminan masa depan pensiun.

Baca juga: Prabowonomics Jadi Bahan Diskusi Cendekiawan Muslim di Surabaya

Di sektor manufaktur, banyak buruh menghadapi kontrak jangka pendek dan sistem kerja yang rawan eksploitasi. Sementara di era digital, otomatisasi dan kecerdasan buatan mulai menggantikan fungsi manusia dalam skala yang tak bisa diabaikan.

Baca Juga:  'Pramugari' Khairun Nisa: Cermin Retak Negeri Pencitraan

Prediksi para ahli menyebut bahwa di tahun-tahun mendatang, jutaan pekerjaan konvensional akan tergantikan oleh mesin. Maka persoalan buruh bisa kita baca bukan hanya soal upah, melainkan juga soal eksistensi manusia sebagai pelaku kerja. Di tengah dunia yang berubah cepat, buruh menghadapi dilema besar, yaitu: bagaimana caranya buruh tetap relevan, dan bagaimana buruh tetap dihormati?

Tulisan ini hadir sebagai ajakan reflektif. Di samping kita memperingati Hari Buruh, kita juga mengajak semua pihak, khususnya umat Islam dan para cendekiawan, untuk merenung ulang tentang hakikat kerja, keadilan sosial, dan tanggung jawab kolektif kita dalam membangun ekosistem kerja yang manusiawi.

Dalam Islam, kerja adalah kehormatan, bukan sekadar sumber nafkah. Bahkan Rasulullah Saw. bersabda: “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Dawud Alaihissalam makan dari hasil kerja tangannya.” (H.R. Bukhari No. 2072).

Hadis ini menunjukkan betapa terhormat dan mulianya orang yang bekerja untuk mencari nafkah demi menafkahi diri dan keluarganya. Apa pun pekerjaan dan profesinya, asal halal, maka itu jauh lebih baik daripada meminta-minta.

Baca Juga:  Ibnu Muljam dan Pelajaran Nuzululquran: Saat Al-Qur'an Dibaca tanpa Hikmah

Di zaman ketika kapitalisme cenderung mengejar laba sebesar-besarnya, narasi seperti ini penting digaungkan ulang. Untuk mengingatkan kita semua tentang makna dan nilai bekerja. Islam tak pernah memisahkan antara spiritualitas dan produktivitas. Kerja bukan hanya bagian dari hidup, tetapi bagian dari ibadah.

Pekerja Bukan Sekadar “Tenaga”

Kita sering lupa bahwa di balik pembangunan, teknologi, dan fasilitas modern yang dibangun, ada tangan-tangan buruh: dari tukang bangunan hingga petugas kebersihan, dari buruh pabrik hingga sopir angkutan. Mereka semua harus dilihat bukan sekadar sebagai “tenaga kerja” atau “mesin”, tetapi sebagai subjek dari peradaban.

Islam bahkan memerintahkan agar pekerja diperlakukan dengan adil dan mulia. Dalam hadis lain, Rasulullah Saw. memperingatkan: “Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya mengering.” (H.R. Ibn Majah, No. 2443). Hadis ini bukan sekadar menunjukkan etika Islam dalam mempekerjakan orang, tetapi juga memberikan pesan kuat tentang prinsip keadilan yang harus diterapkan. Sebab bekerja adalah bentuk pengorbanan, dan pengorbanan layak dibalas secara terhormat.

Kita Perlu Ekonomi yang Beradab

Hari Buruh juga seharusnya menjadi momen reflektif tentang: sudahkah sistem ekonomi kita beradab? Refleksi ini penting karena dalam kenyataannya, perlakuan terhadap pekerja sering kali mengabaikan kepentingan mereka. Ada dilema di sini. Di satu sisi, pekerja dituntut memenuhi produktivitas tinggi, tetapi di sisi lain, kesejahteraan sering kali tertunda atau kurang diperhatikan.

Baca Juga:  Menanti 1 Syawal: Antara Ilmu, Ijtihad, dan Kedewasaan Umat

Kita melihat banyak pekerja outsourcing yang nasibnya gamang, buruh informal tanpa perlindungan, dan ketimpangan yang terus melebar. Maka, panggilan Islam adalah jelas: tegakkan keadilan sosial—bukan hanya dalam distribusi upah, tetapi juga dalam akses, jaminan, dan martabat.

Maka, mari kita rayakan Hari Buruh bukan hanya dengan libur atau aksi, tetapi dengan kesadaran baru: bahwa setiap orang yang bekerja untuk nafkah halal, yang menafkahi keluarga, yang menjaga integritas dalam pekerjaannya—mereka itu sedang beribadah. Mereka adalah bagian dari kekuatan bangsa.

Hari ini kita diingatkan kembali: tak ada peradaban besar tanpa pekerja yang dimuliakan. Maka, tugas kita bersama—pemimpin, pengusaha, akademisi, dan aktivis—adalah menegakkan ekosistem kerja yang adil, manusiawi, dan penuh keberkahan. (#)