Feature

Serangan ke Iran dan Retaknya Solidaritas Dunia Islam

127
×

Serangan ke Iran dan Retaknya Solidaritas Dunia Islam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Respons negara-negara Muslim terhadap konflik Iran menunjukkan kenyataan pahit: dunia Islam masih terpecah dalam kepentingan geopolitik dan belum memiliki kepemimpinan kolektif yang benar-benar diakui.

OlehUlul Albab; Akademisi dan Pengamat Dunia Islam; Ketua ICMI Jawa Timur

Tagar.co – Serangan militer yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran bukan sekadar episode baru dalam ketegangan geopolitik Timur Tengah. Peristiwa ini membuka kembali pertanyaan lama yang hingga kini belum menemukan jawaban yang meyakinkan: siapa sebenarnya yang memimpin dunia Islam hari ini?

Baca juga: Negara Arab Diam Melihat Perang Iran-Israel, Ini Alasannya

Reaksi negara-negara Muslim terhadap serangan tersebut menunjukkan satu kenyataan yang tidak mudah disangkal. Dunia Islam tidak berada dalam satu barisan politik yang solid. Sebagian negara mengecam serangan itu sebagai pelanggaran kedaulatan negara. Sebagian lainnya memilih sikap lebih hati-hati dengan menekankan stabilitas kawasan. Ada pula yang lebih fokus pada kepentingan nasional masing-masing.

Perbedaan sikap ini memperlihatkan sesuatu yang lebih mendasar: dunia Islam saat ini berada dalam kondisi fragmentasi geopolitik.

Baca Juga:  Iran Tetap Tegak di Tengah Operasi Persepsi

Sejak runtuhnya Kekhalifahan Ottoman pada awal abad ke-20, umat Islam hidup dalam sistem negara-bangsa yang memiliki kepentingan nasional sendiri-sendiri. Solidaritas keagamaan tetap ada, tetapi dalam praktik politik internasional ia sering kali kalah oleh kalkulasi keamanan, ekonomi, dan diplomasi masing-masing negara.

Dalam konfigurasi geopolitik kontemporer, dunia Islam setidaknya memiliki beberapa pusat pengaruh. Iran memposisikan diri sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi Barat dan Israel. Arab Saudi memiliki legitimasi religius sebagai penjaga dua kota suci Makkah dan Madinah. Turki berusaha memainkan peran sebagai kekuatan militer dan diplomasi regional yang semakin aktif.

Namun, tidak satu pun dari pusat-pusat kekuatan tersebut benar-benar mampu tampil sebagai pemimpin dunia Islam yang diterima secara luas.

Serangan terhadap Iran justru semakin memperlihatkan realitas tersebut. Ketika sebuah negara Muslim diserang oleh kekuatan eksternal, dunia Islam tidak secara otomatis bersatu dalam satu sikap politik. Setiap negara tetap mempertimbangkan kepentingan strategisnya sendiri.

Dalam situasi seperti ini, paradoks geopolitik sering muncul. Konflik yang terjadi di kawasan dunia Islam justru membuka ruang bagi kekuatan eksternal untuk memperluas pengaruhnya. Israel dapat memperkuat kerja sama keamanan dengan sebagian negara Arab yang melihat Iran sebagai ancaman regional. Rusia berpotensi meningkatkan perannya sebagai mediator geopolitik. Cina memperoleh peluang memperluas pengaruh ekonomi dan diplomatiknya.

Baca Juga:  Perang Iran Vs Israel: Senjata, Strategi, dan Kemandirian Militer

Ironinya, ketika dunia Islam terfragmentasi, pihak yang paling diuntungkan sering kali justru aktor-aktor di luar dunia Islam.

Fragmentasi ini juga memperlihatkan satu persoalan yang lebih dalam: krisis kepemimpinan dunia Islam. Tidak ada satu negara yang memiliki kombinasi legitimasi religius, kekuatan geopolitik, stabilitas politik, dan penerimaan luas dari umat.

Di tengah perdebatan ini, ada yang sering menyebut Indonesia sebagai moral leader dunia Islam. Secara demografis, Indonesia memang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia. Tradisi Islam moderat dan pengalaman demokrasi juga sering dipandang sebagai model yang menarik.

Namun, pertanyaan kritis tetap perlu diajukan: apakah dunia Islam benar-benar melihat Indonesia sebagai pemimpin yang layak? Bahkan di dalam negeri sendiri, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius dalam tata kelola politik, ekonomi, dan pembangunan nasional.

Karena itu, mungkin terlalu dini berbicara tentang kepemimpinan global. Tantangan pertama Indonesia justru terletak pada kemampuannya memperkuat kualitas kepemimpinan di dalam negeri.

Namun, satu hal tetap jelas. Serangan terhadap Iran bukan sekadar persoalan konflik regional. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa dunia Islam masih berada dalam fase pencarian bentuk kepemimpinan kolektifnya.

Baca Juga:  Kejahatan Perang Trump

Sejarah menunjukkan bahwa setiap krisis geopolitik sering menjadi titik awal lahirnya konfigurasi kekuatan baru. Pertanyaannya bukan hanya siapa yang paling kuat secara militer, tetapi siapa yang mampu menawarkan visi masa depan bagi dunia Islam di tengah perubahan global yang semakin cepat.

Dan hingga hari ini, pertanyaan itu masih terbuka. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni