Telaah

Memaknai Penyakit: Ujian, Sunatullah, atau Musibah?

62
×

Memaknai Penyakit: Ujian, Sunatullah, atau Musibah?

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi freepik.com premium

Penyakit bukan sekadar soal tubuh, melainkan cermin hubungan manusia dengan Allah, dirinya, dan cara ia menjalani hidup.

Oleh Drs. H. Mudji Imam Syafi’i, M.M.

Tagar.co – Penyakit yang menimpa seseorang tidak selalu bermakna sama. Dalam perspektif Islam, sakit dapat menjadi ujian, dapat pula sekadar proses alamiah (sunatullah), atau bahkan musibah akibat perilaku manusia sendiri. Perbedaan makna itu sangat bergantung pada kondisi iman, cara hidup, dan sikap batin orang yang mengalaminya.

Islam memandang manusia sebagai makhluk yang utuh—jasmani dan rohani, dunia dan akhirat. Karena itu, cara seseorang memaknai sakit tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan bagaimana ia menjalani hidup.

1. Penyakit sebagai Ujian bagi Orang Beriman

Bagi seorang mukmin, penyakit dapat menjadi ujian yang bernilai kebaikan apabila ia telah menjalani hidup secara wajar: tidak berlebihan, adil dan seimbang, menjaga hak dan kewajiban jasmani–rohani, serta menata kehidupan dunia dan akhirat secara proporsional.

Allah Swt. berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Dan demikianlah Kami jadikan kamu sebagai umat pertengahan (adil dan seimbang).” (Al-Baqarah: 143)

Apabila seseorang telah berusaha hidup seimbang, namun tetap ditimpa penyakit, maka besar kemungkinan Allah sedang menghendaki kebaikan baginya—sebagai penghapus dosa dan peningkatan derajat.

Rasulullah Saw. bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ…

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegundahan, kesedihan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus dosa-dosanya.” (Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Ummul Mukminin ‘Aisyah Ra.:

“Tidak ada satu musibah pun yang menimpa seorang Muslim, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya, bahkan sampai duri yang mengenainya.” (Muslim)

Bahkan dalam Hadis Qudsi disebutkan bahwa Allah menjadikan sakit sebagai jalan menuju surga atau penyucian dosa bagi hamba-Nya yang tetap memuji dan berserah diri.

Nabi Ibrahim As. menegaskan:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkanku.” (Asy-Syu‘ara: 80)

Dan Rasulullah Saw. bersabda:

إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ

“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan Dia pula yang menyediakan obatnya.” (Muslim dan Ahmad)

2. Penyakit sebagai Proses Alamiah pada Usia Lanjut

Bagi mereka yang telah memasuki usia lanjut—sekitar 60 hingga 70 tahun ke atas—penyakit sering kali bukan lagi ujian khusus atau musibah, melainkan proses kemanusiaan yang wajar. Tubuh manusia memiliki batas usia pakai, sebagaimana mesin yang perlahan mengalami keausan.

Meski seseorang telah menjaga pola makan, berolahraga teratur, hidup tertib, beribadah dengan baik, serta menjaga ketenangan batin, penyakit tetap bisa datang. Dalam dunia medis, penjelasannya sering kali sederhana: faktor usia.

Allah Swt. berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ…

“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kuat, lalu Dia kembalikan kamu menjadi lemah dan beruban.” (Ar-Rum: 54)

Dan firman-Nya:

وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ

“Barang siapa Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada keadaan lemah.” (Yasin: 68)

Sikap terbaik dalam fase ini adalah sabar, tawakal, ridha, dan tetap berikhtiar menjaga kesehatan semaksimal mungkin.

3. Penyakit sebagai Musibah Akibat Perilaku Manusia

Ada pula penyakit yang muncul sebagai akibat langsung dari perilaku manusia sendiri—meskipun tetap terjadi dengan izin Allah. Terutama pada mereka yang hidup tidak teratur, bergelimang maksiat, mengabaikan kesehatan jasmani dan rohani, serta merusak kesehatan hati dan jiwa.

Penyakit seperti ini dapat menjadi peringatan keras atau bahkan siksaan di dunia, dan apabila tidak disadari serta ditaubati, akan berlanjut dengan azab di akhirat.

Allah Swt. berfirman:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَهُمْ سُوءُ الْعَذَابِ…

“Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang buruk, dan di akhirat mereka adalah orang-orang yang paling rugi.” (An-Naml: 5)

Penutup

Penyakit bukan semata persoalan fisik. Ia adalah cermin relasi manusia dengan Allah, dengan dirinya, dan dengan kehidupannya. Ia bisa menjadi jalan penghapus dosa, proses alami usia, atau peringatan keras akibat penyimpangan hidup.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita kesehatan yang melahirkan syukur, dan bila diuji dengan sakit, dianugerahkan kesabaran, husnuzan, serta akhir kehidupan yang baik.

Semoga bermanfaat. Amin. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni