Feature

Melepas Penat di Lereng Lawu: Catatan Perjalanan Keluarga Besar SD Al-Islam Cerme

38
×

Melepas Penat di Lereng Lawu: Catatan Perjalanan Keluarga Besar SD Al-Islam Cerme

Sebarkan artikel ini
Foto bersama semua dewan guru sebelum arung jeram di Kali Pucung Solo (Tagar.co/Mardiyana Z.)

Keluarga besar SD Al-Islam Cerme, Gresik, menempuh perjalanan ke lereng Lawu untuk menyegarkan jiwa, menguatkan kebersamaan, dan pulang dengan semangat baru mendidik generasi bangsa.

Cerme — Mentari belum sepenuhnya merekah di ufuk timur ketika jarum jam menunjuk pukul 05.30 WIB. Saat sebagian besar warga masih berselimutkan mimpi, keluarga besar SD Al-Islam Cerme, Gresik, Jawa Timur, justru telah berkumpul dengan wajah-wajah cerah dan semangat yang meluap.

Selasa, 23 Desember 2025, menjadi hari istimewa—hari untuk sejenak melepaskan penat setelah satu semester bergelut dengan papan tulis, rapor, dan dinamika kelas.

Dari Cerme Menuju Sejuknya Lereng Lawu

Rencana perjalanan sempat mengalami perubahan. Dalam sambutan pemberangkatan, Kepala SD Al-Islam Cerme, Cicik Indrawati, menjelaskan bahwa tujuan wisata yang semula Malang akhirnya dialihkan ke Solo, dengan Kali Pucung sebagai destinasi utama—sebuah sudut alam tersembunyi di lereng Gunung Lawu.

Baca juga: Eco-Travel Keluarga: Menanam 7R, Merawat Masa Depan Bumi

“Tujuannya satu: mengistirahatkan pikiran dan tenaga dewan guru serta karyawan. Hawa pegunungan diharapkan menyegarkan kembali semangat kami sebagai pendidik,” ujar Cicik.

Baca Juga:  Lawan Banjir dengan Prestasi: Ratusan Siswa Gresik Selatan Ikuti KMNR di SD Al-Islam Cerme

Perjalanan sekitar lima jam dari Gresik terasa ringan oleh canda, cerita, dan tawa di sepanjang bus. Azka Rizal, koordinator kegiatan, memastikan rombongan tiba dengan selamat di kawasan yang menyuguhkan kebun teh hijau, udara dingin, dan aliran sungai sebening kaca.

“Pemandangannya alami, sejuk, dan menenangkan. Sayang kalau tidak dinikmati,” tutur Amanda, guru kelas satu, sambil menikmati panorama Lawu yang membentang di hadapan mata.

Canda Tawa di Arus Sungai

Setibanya di Kali Pucung, sambutan ramah pemandu lokal membuka rangkaian kegiatan. Suasana makin cair ketika sesi outbound dimulai. Rini, sang pemandu, mengajak seluruh peserta melakukan senam otak untuk melatih fokus dan kekompakan. Siapa pun yang lengah harus menerima “hukuman” ringan: coretan bedak cair di wajah.

Gelak tawa pecah melihat wajah para guru yang penuh coretan putih, namun tak satu pun kehilangan keceriaan. Puncak keseruan datang saat rombongan menjajal tubing, mengarungi sungai kecil berarus deras.

“Medannya cukup menantang dan benar-benar menguji keberanian,” kata Siti Fatimah, guru Ismuba, sambil tersenyum puas setelah menaklukkan jeram.

Baca Juga:  Tryout TKA SD Al-Islam Cerme: Asah Mental, Disiplin, dan Literasi Digital Siswa

Kegiatan di Kali Pucung ditutup dengan doa bersama—hening, khidmat, dan penuh rasa syukur.

Foto bersama para ustazah setelah penat berjalan dari Pasar Klewer Solo (Tagar.co/Mardiyana Z.)

Daster Klewer dan Kemegahan Syekh Zayed

Belum lengkap ke Solo tanpa menyapa Pasar Klewer. Di sinilah sisi “ibu rumah tangga” para guru tampil penuh warna. Daster menjadi primadona belanja. Yulirahmawati, guru kelas lima, tampak memborong aneka pilihan untuk keluarga di rumah. Sementara Wida Afriyani tak lupa mencarikan baju untuk buah hati dan suami tercinta—oleh-oleh kecil yang menjadi pengobat rindu.

Menjelang malam, rombongan menuju destinasi penutup: Masjid Raya Syekh Zayed. Arsitektur megah yang terinspirasi Masjidil Haram di Mekkah membuat langkah-langkah mereka terhenti sejenak.

“Masya Allah, indahnya luar biasa,” ucap Ustad Wafiq, terpukau oleh kemegahan pilar dan cahaya lampu yang memantul lembut di kubah masjid.

Pulang dengan Semangat Baru

Tepat pukul 21.00 WIB, bus meninggalkan Solo. Lelah yang manis membuat sebagian besar peserta terlelap sepanjang perjalanan. Pukul 00.30 WIB, rombongan tiba kembali di gerbang SD Al Islam Cerme—lelah di tubuh, segar di jiwa.

Baca Juga:  Seru dan Edukatif, Trial Class SD Al-Islam Cerme Bikin Anak-Anak Betah

Meski mata mengantuk, semangat baru terpancar jelas. Azka Rizal berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut.

“Semoga di lain waktu kita bisa kembali merenggangkan otot dan pikiran. Dengan hati yang segar, tenaga kami pun kembali penuh untuk mendidik anak bangsa,” tutupnya. (#)

Jurnalis Mardiyana Z. Penyunting Mohammad Nurfatoni