
Konsep masjid berkemajuan menegaskan peran masjid sebagai pusat pendidikan, dakwah yang ramah, dan pemberdayaan ekonomi. Masjid hadir untuk memajukan umat—lahir dan batin.
OlehProf. Triyo Supriyatno, M.Ag.; Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Tagar.co – Dalam sejarah Islam, masjid tidak pernah berhenti menjadi pusat kehidupan umat. Ia bukan hanya tempat bersujud dan berzikir, tetapi juga tempat berpikir dan bergerak.
Dari masjid, ilmu disebarkan, keputusan sosial diambil, hingga solidaritas umat ditegakkan. Masjid Nabawi di masa Rasulullah Saw. adalah contoh paling nyata: di sanalah wahyu menjadi peradaban, dan ibadah bertransformasi menjadi pergerakan.
Kini, ketika Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengangkat tema “Masjid Berkemajuan sebagai Pusat Gerakan Ilmu, Dakwah, dan Kesejahteraan Umat” dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II tanggal 24–26 Oktober 2025 di Batu, Malang, gagasan itu terasa sangat relevan. Ia menjadi ajakan untuk meneguhkan kembali fungsi masjid sebagai motor kemajuan umat di tengah perubahan zaman yang kian cepat dan kompleks.
Masjid dan Gerakan Ilmu
Dalam Islam, ilmu adalah fondasi kemajuan. Perintah pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. adalah “Iqra”—bacalah. Membaca bukan sekadar melafalkan teks, tetapi memahami makna, menggali hikmah, dan menggerakkan amal.
Masjid berkemajuan seharusnya menjadi rumah ilmu bagi jamaah. Di sanalah anak-anak belajar membaca Al-Qur’an dengan makna, remaja berdiskusi tentang etika digital, dan orang dewasa mendalami ekonomi syariah atau teknologi ramah lingkungan. Ilmu agama dan ilmu dunia tidak perlu dipisahkan; keduanya harus saling menguatkan.
Dulu, lembaga pendidikan besar seperti Al-Azhar di Mesir dan Al-Qarawiyyin di Maroko lahir dari tradisi keilmuan di masjid. Kini, masjid di Indonesia pun bisa menghidupkan tradisi itu dengan cara yang sesuai zaman: menghadirkan kajian tematik interaktif, kelas literasi digital Islam, atau forum ilmiah jamaah.
Dakwah berbasis ilmu inilah yang akan menjadikan umat Islam semakin rasional, terbuka, dan siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan akar spiritualnya.
Masjid: Dakwah yang Mencerahkan
Masjid berkemajuan bukanlah masjid yang kaku atau eksklusif, melainkan masjid yang mampu menjadi rumah besar bagi semua golongan umat. Dakwah di dalamnya tidak bersifat menghakimi, melainkan mengedukasi; tidak menebar kebencian, tetapi menumbuhkan kasih sayang.
Majelis Tabligh Muhammadiyah selama ini menekankan pentingnya dakwah bil hikmah — dakwah dengan kebijaksanaan dan pemahaman mendalam terhadap konteks sosial.
Dakwah di era digital perlu menjangkau ruang-ruang baru: dari mimbar masjid hingga ruang virtual. Artinya, penceramah tidak cukup fasih berbicara, tetapi juga peka terhadap masalah kemanusiaan: kemiskinan, pengangguran, krisis moral, dan disinformasi.
Masjid berkemajuan harus menjadi tempat lahirnya wacana Islam yang ramah dan solutif. Masjid tidak boleh menjadi arena konflik ideologi, tetapi laboratorium sosial tempat nilai-nilai Islam dihidupkan dalam kerja nyata — memperkuat keluarga, mendidik anak muda, serta menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat yang makin individualistis.
Masjid: Pusat Kesejahteraan Umat
Dalam sejarahnya, Rasulullah Saw. menjadikan masjid sebagai pusat distribusi zakat, sedekah, dan wakaf. Masjid bukan hanya tempat berdoa agar sejahtera, tetapi juga alat untuk mewujudkan kesejahteraan.
Masjid berkemajuan di Indonesia dapat menghidupkan semangat ini dengan mengembangkan program ekonomi jamaah. Misalnya, koperasi masjid, pelatihan wirausaha mikro, klinik keuangan syariah, atau bazar produk jamaah. Dengan pengelolaan yang transparan dan profesional, masjid bisa menjadi instrumen pengentasan kemiskinan di tingkat lokal.
Lebih dari itu, kesejahteraan yang dimaksud tidak hanya material, tetapi juga sosial dan spiritual. Masjid harus mampu menghadirkan ketenangan batin, memperkuat solidaritas, dan menjadi ruang empati. Di tengah masyarakat yang makin terfragmentasi oleh perbedaan politik atau pandangan keagamaan, masjid perlu tampil sebagai perekat ukhuwah.
Membangun Masjid yang Berdaya
Namun, mewujudkan masjid berkemajuan tentu tidak mudah. Banyak masjid hari ini masih berorientasi pada pembangunan fisik semata — megah, tetapi sepi dari aktivitas pemberdayaan. Tantangannya bukan pada jumlah masjid, tetapi pada kemampuan menghidupkan fungsinya.
Karena itu, ada beberapa agenda penting yang perlu dilakukan:
-
Profesionalisasi Takmir Masjid
Pengurus masjid perlu dibekali kemampuan manajemen, komunikasi publik, dan pengelolaan keuangan yang transparan. -
Digitalisasi Masjid
Memanfaatkan media sosial, aplikasi keuangan, dan kanal dakwah digital untuk memperluas jangkauan. -
Kolaborasi dengan Dunia Pendidikan dan Bisnis
Bekerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga zakat, dan pelaku usaha untuk pemberdayaan ekonomi jamaah. -
Inklusivitas Jemaah
Masjid harus membuka ruang bagi semua: laki-laki dan perempuan, muda dan tua, berbagai profesi.
Masjid sebagai Titik Balik Peradaban
Muhammadiyah sejak awal berdiri telah menempatkan masjid sebagai poros gerakan dakwah dan pendidikan. Gagasan masjid berkemajuan adalah kelanjutan dari cita-cita besar itu—menghadirkan Islam yang berilmu, berkeadaban, dan berkemanfaatan bagi sesama.
Jika umat Islam ingin kembali memimpin peradaban, maka masjid harus dihidupkan bukan hanya dengan doa, tetapi juga dengan kerja. Dari masjid, ilmu harus tumbuh, solidaritas sosial menguat, dan ekonomi umat berdaya.
Masjid yang berkemajuan adalah masjid yang hidup—jemaahnya tidak hanya ramai di waktu salat, tetapi juga aktif belajar, berdiskusi, dan berbagi. Di situlah wajah Islam yang sebenarnya: beribadah sekaligus memajukan kehidupan.
Karena itu, membangun masjid berkemajuan sejatinya adalah membangun peradaban Islam yang mencerahkan—rahmatanlil-‘alamin—kebermanfaatan bagi semesta. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni









