Opini

Larang Sana, Larang Sini: AS dan Drama Proteksionisme AI

27
×

Larang Sana, Larang Sini: AS dan Drama Proteksionisme AI

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

AS melarang DeepSeek, Cina justru membuka diri. Drama proteksionisme AI, antara ketakutan dan inovasi. Siapa yang menang?

Larang Sana, Larang Sini: AS dan Drama Proteksionisme AI; Opini oleh Ahmadie Thaha; Kolumnis

Tagar.co – Dunia teknologi sedang menyaksikan sebuah drama besar: Amerika Serikat (AS), sang penjaga gerbang inovasi, berusaha mengunci pintu rapat-rapat, sementara Cina, dengan senyum dermawan, justru membuka gerbangnya selebar-lebarnya. Dunia menonton persaingan ini dengan kepalan tangan, “Yes!”

Episode terbaru dari saga ini menampilkan DeepSeek, startup AI asal China yang sukses menarik perhatian global. Namun, alih-alih menyambut inovasi ini dengan tangan terbuka, AS justru memilih menebarkan larangan. Pertanyaannya: sampai kapan AS bisa terus bermain sebagai “polisi AI dunia” tanpa merugikan dirinya sendiri?

Baca juga: Keluarnya AS dari WHO, Bisnis Mengalahkan Nyawa?

Ketika DeepSeek, diikuti Qwen, melesat sebagai pemain utama dalam teknologi AI, banyak yang terkejut melihat reaksi berlebihan dari Washington. NASA buru-buru melarang penggunaan DeepSeek dengan alasan keamanan nasional, sementara Angkatan Laut AS juga menginstruksikan personelnya untuk menjauhi teknologi ini.

Senat AS juga ribut. Senator Josh Hawley mengajukan rancangan undang-undang yang melarang perusahaan AS berinvestasi di sektor AI Ccina. Bahkan, dia meminta pemerintah mengenakan ancaman sanksi 1 juta dolar dan penjara bagi warga AS yang ketahuan mendownload DeepSeek. Entah kenapa, dia tidak menyertakan nama AI lainnya, Qwen.

Baca Juga:  Roblox: Dunia tanpa Pagar, Anak tanpa Penjaga

Jika ini bagian dari episode dari serial drama geopolitik, maka AS jelas sedang berperan sebagai “antagonis defensif” yang panik melihat lawannya berkembang terlalu cepat. Dengan Donald Trump sebagai presiden yang berlagak seperti pesilat mabuk, Amerika terlihat makin kacau, makin jauh dari cita-cita “great again.

Pasalnya, larangan-larangan yang diberlakukan Amerika ini justru memunculkan pertanyaan: apakah proteksionisme ini efektif? Fakta menunjukkan bahwa AS telah mencoba strategi serupa terhadap Huawei dan TikTok, tetapi hasilnya justru berbanding terbalik. Perang tarif mereka pun dipastikan akan gagal.

Bukannya melemah, Cina justru semakin kreatif dan mandiri dalam mengembangkan teknologinya. Seperti kata Fu Cong, perwakilan tetap Cina di PBB, “Jangan pernah meremehkan kecerdikan ilmuwan dan insinyur Cina.” Ini menunjukkan, Cina sendiri tak akan menyerah, bahkan semakin berpengalaman, menghadapi segala pembatasan AS.

Perbedaan pendekatan antara AS dan Cina dalam AI semakin jelas: AS bersikeras mempertahankan model tertutup, sedangkan Cina justru mengadopsi pendekatan open-source. DeepSeek, misalnya, mengusung prinsip berbagi teknologi dengan komunitas global, memberikan kesempatan bagi pengembang di berbagai belahan dunia untuk ikut serta dalam revolusi AI.

Baca Juga:  Pola Firaun dalam Politik Modern

Di sisi lain, perusahaan AI asal AS seperti OpenAI justru semakin eksklusif, menutup akses ke model-model terbaru mereka. Ironisnya, sementara AS menuduh Cina tidak transparan, justru Cina yang kini terlihat lebih inklusif.

Dampaknya? Narasi global pun bergeser: China yang sejak dulu dikenal sebagai negeri komunis tampak sebagai sosok dermawan yang membagikan teknologi, sementara AS sebagai negeri kapitalis semakin terkesan pelit dan paranoid.

Reaksi AS terhadap DeepSeek bukan hanya soal persaingan teknologi, tapi juga soal citra dan kepercayaan global. Banyak negara di Global South melihat langkah AS sebagai bentuk ketakutan yang berlebihan, sementara pendekatan Cina lebih menarik karena memberi kesempatan bagi negara berkembang ikut serta dalam revolusi AI.

Tidak heran jika raksasa teknologi seperti Microsoft, Nvidia, dan Amazon tetap memilih mengadopsi model reasoning terbaru dari DeepSeek, terlepas dari tekanan politik di Washington. Jika tren ini terus berlanjut, AS bisa kehilangan daya tariknya sebagai pusat inovasi global, karena dunia tidak akan menunggu negara yang terlalu sibuk menutup pintu untuk melindungi dirinya sendiri.

Baca Juga:  Fatwa Tarjih: Dam Bisa Disembelih di Tanah Air

Sejarah telah membuktikan bahwa proteksionisme teknologi lebih sering gagal daripada berhasil. AS mungkin bisa memperlambat laju Cina dengan berbagai larangan, tetapi tidak bisa menghentikan inovasi yang sudah menjadi arus utama.

Sebaliknya, semakin banyak larangan yang diberlakukan, semakin besar simpati dunia terhadap Cina, yang kini tampil sebagai pemimpin teknologi yang lebih terbuka. Tak peduli Cina itu embahnya negeri komunis.

Jika AS ingin tetap relevan dalam perlombaan AI, mungkin sudah saatnya mengubah pendekatan. Alih-alih menutup pintu, mengapa tidak mulai membuka dialog dan membangun model kerja sama yang lebih sehat? Boleh jadi, pada akhirnya AS meninggalkan gaya gertaknya?

Karena jika terus menerapkan strategi “banned here, banned there,” larang sana, larang sini, maka jangan heran jika dunia pada akhirnya akan memilih berpaling dan mencari alternatif yang lebih ramah serta terbuka. Dan Cina menyediakan apa yang mereka cari.

Sampai kapan AS ingin terus main “kucing-kucingan” dengan inovasi? Dunia sedang menunggu jawaban. (#)

Ma’had Tadabbur AQur’an, 5 Februari 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni