Kultum Ramadan

Kultum Ramadan: Ketakwaan Sejati, dari Puasa ke Perilaku Nyata

59
×

Kultum Ramadan: Ketakwaan Sejati, dari Puasa ke Perilaku Nyata

Sebarkan artikel ini
Aji Damanuri

Ramadan adalah momentum meningkatkan ketakwaan. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melatih diri menjaga lisan, amal, dan hubungan sosial. Bagaimana kita mengimplementasikan takwa dalam kehidupan sehari-hari?

Kultum Ramadan: Ketakwaan Sejati: Dari Puasa ke Perilaku Nyata (Seri 5); Oleh Dr. Aji Damanuri, M.E.I., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung, Ketua Dewan Pengawas Syariah Lazismu Tulungagung.

Tagar.co – Implementasi takwa dalam kehidupan adalah materi kultum yang sangat tepat disampaikan di bulan Ramadan. Berikut naskah lengkapnya:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ.

Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Swt. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Baginda Rasulullah saw.

Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang dan ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti. Kadang naik, kadang turun. Ada suka, ada duka. Ada senyum, ada tangis. Kadangkala dipuji, tetapi pada suatu saat kita dicaci. Jangan mengharapkan keabadian dalam perjalanan hidup.

Baca juga: Kultum Ramadan: Keikhlasan Niat, Kunci Utama dalam setiap Ibadah

Baca Juga:  Takbir di Balik Luka: Kisah Rini di Hari Kemenangan

Pada kesempatan ini, izinkan saya menyampaikan sedikit renungan tentang tujuan akhir dari puasa, yaitu takwa, serta bagaimana kita dapat mengimplementasikan takwa dalam kehidupan sehari-hari selama bulan Ramadan.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah mencapai takwa. Takwa bukan sekadar takut kepada Allah, tetapi lebih dari itu, takwa adalah kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan, yang mendorong kita untuk selalu taat kepada-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Takwa bukanlah konsep yang abstrak, tetapi harus terwujud dalam perilaku dan tindakan nyata. Takwa bukan hanya diproklamasikan, tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan. Kita tidak boleh hanya sekadar omong kosong. Mengaku bertakwa, tetapi tidak mampu membuktikannya.

Berikut beberapa cara mengimplementasikan takwa dalam kehidupan sehari-hari selama puasa Ramadan:

1. Menjaga Lisan dan Perbuatan Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya.” (H.R. Bukhari)

Baca Juga:  Kenyang dari Sampah Masjid

Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat atau merugikan orang lain. Misalnya, menghindari ghibah, fitnah, dan kata-kata kasar. Dengan demikian, kita melatih diri untuk selalu berkata dan berbuat baik.

2. Menjaga Hubungan dengan Sesama

Takwa juga tercermin dalam bagaimana kita berinteraksi dengan sesama. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa puasa adalah momentum untuk meningkatkan kepedulian sosial. Misalnya, dengan memperbanyak sedekah, membantu orang yang membutuhkan, dan menjaga silaturahmi.

Allah Swt. berfirman:

وَتَعَاوَنُو عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُو عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (Al-Maidah: 2)

3. Menjaga Waktu dan Amal Ibadah

Puasa mengajarkan kita untuk disiplin dalam mengatur waktu. Misalnya, dengan bangun lebih awal untuk sahur, melaksanakan salat tepat waktu, dan memperbanyak ibadah sunah seperti salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan zikir. Ini semua adalah bentuk implementasi takwa dalam kehidupan sehari-hari.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa takwa memiliki tiga tingkatan:

  1. Takwa dasar: Menjauhi segala yang haram.
  2. Takwa menengah: Menjauhi hal-hal yang syubhat (samar-samar).
  3. Takwa tinggi: Menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat, meskipun halal.

Selama Ramadan, kita diajak untuk mencapai tingkat takwa yang lebih tinggi, yaitu tidak hanya menjauhi yang haram, tetapi juga meningkatkan amal kebaikan dan menghindari hal-hal yang sia-sia.

Baca Juga:  Kontrak Tersembunyi di Balik Gencatan Senjata

Dikisahkan, seorang sahabat Nabi bernama Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. pernah memiliki seorang pembantu yang selalu memberinya makanan. Suatu hari, pembantu itu membawa makanan yang didapatkan dari sumber yang tidak jelas.

Abu Bakar pun bertanya, “Dari mana kamu mendapatkan makanan ini?” Pembantu itu menjawab, “Saya pernah meramal untuk seseorang, dan dia memberikannya sebagai hadiah.” Abu Bakar segera memuntahkan makanan itu dan berkata, “Aku hampir saja menghancurkan diriku sendiri.”

Kisah ini menunjukkan betapa Abu Bakar sangat menjaga ketakwaannya, bahkan dalam hal sekecil makanan. Dia tidak ingin mengambil risiko mengonsumsi sesuatu yang syubhat, apalagi haram.

Dengan demikian, puasa Ramadan adalah sarana untuk mencapai takwa yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menjaga lisan, perbuatan, hubungan sosial, dan waktu, kita dapat mengimplementasikan takwa secara nyata. Mari kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan kita, bukan hanya selama bulan ini, tetapi juga seterusnya.

Demikian kultum singkat yang dapat saya sampaikan. Semoga kita bisa menjadi orang yang bertakwa. Kurang lebihnya mohon maaf.

نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Penyunting Mohammad Nurfatoni