
Kuadran ketiga: Inovasi program, kunci melejitkan kinerja Lazismu. Pentasyarufan harus mulai diarahkan pada program-program yang berdampak dan mampu mengubah taraf hidup penerima manfaat
Tagar.co – Inovasi program menjadi kunci penting dalam upaya melejitkan kinerja Lazismu. Ikhwanushshofa dari Lazismu Jawa Tengah memaparkan Kuadran Ketiga: Inovasi Program dalam acara Upgrading Amil Lazismu. Kegiatan dilaksanakan di Graha Umsida, Trawas Kabupaten Mojokerto, Sabtu (31/1/2026).
Ikhwan menegaskan, untuk meningkatkan kinerja Lazismu, manajerial lembaga zakat perlu mengubah cara berpikir dalam pentasyarufan. Program Lazismu, menurutnya, tidak boleh berhenti pada pendekatan karitatif atau bantuan jangka pendek semata.
“Pentasyarufan harus mulai diarahkan pada program-program yang berdampak dan mampu mengubah taraf hidup penerima manfaat,” ujar Ikhwan – sapaan akrabnya.
Low Budget High Impact
Dalam inovasi program, Ikhwan memperkenalkan dua konsep utama, yakni low budget–high impact dan berbasis kawasan. Melalui konsep tersebut, Lazismu dituntut mampu menghadirkan program dengan biaya relatif efisien, namun memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan serta terukur.
Dia mencontohkan pengalamannya saat melakukan kajian dampak bantuan terhadap UMKM di kawasan wisata. Dalam riset tersebut, Lazismu tidak hanya menyalurkan bantuan modal, tetapi juga melakukan pendampingan berkelanjutan kepada pelaku UMKM.
“Hasilnya, bantuan yang disertai pendampingan mampu meningkatkan kapasitas usaha dan pendapatan penerima manfaat,” jelasnya.
Menurut Ikhwan, konsep program ideal adalah pentasyarufan yang tidak sekadar menghabiskan dana, tetapi mampu memberikan peningkatan kualitas hidup atau bahkan perubahan taraf hidup bagi penerima manfaat dalam jangka waktu pendampingan yang terukur.
Program Berbasis Kawasan
Ikhwan menilai, selama ini sasaran pentasyarufan dalam enam pilar program Lazismu masih tersebar di berbagai titik lokasi. Kondisi tersebut membuat dampak program belum sepenuhnya membentuk ekosistem pemberdayaan yang kuat.
Karena itu, Ikhwan mendorong hadirnya inovasi program berbasis kawasan. Melalui pendekatan ini, pemberdayaan tidak dilakukan secara terpisah-pisah, melainkan terintegrasi dalam satu wilayah atau komunitas tertentu.
“Ketika pemberdayaan dilakukan berbasis kawasan, maka akan terbentuk ekosistem zakat,” tuturnya.
Dengan menggulirkan program enam pilar secara terintegrasi dan berkelanjutan di satu kawasan, Lazismu diyakini mampu menghadirkan dampak yang lebih nyata. Sekaligus memperkuat peran zakat sebagai instrumen pemberdayaan dan transformasi sosial. (#)
Jurnalis Yekti Pitoyo. Penyunting Sugiran.












