Rileks

Kisah Ketangguhan: Jejak Tsunami di PLTD Apung Banda Aceh

96
×

Kisah Ketangguhan: Jejak Tsunami di PLTD Apung Banda Aceh

Sebarkan artikel ini
PLTD Apung 1 (Foto burangrang.com)

Kapal PLTD Apung adalah saksi bisu kedahsyatan tsunami yang menerjang Aceh pada 26 Desember 2004. Kapal generator listrik milik PLN ini, dengan panjang 63 meter dan bobot 2.600 ton, terseret gelombang tsunami sejauh 2,5 kilometer dari Pelabuhan Ulee Lheue hingga ke tengah kota Banda Aceh.

Kisah Ketangguhan: Jejak Tsunami di PLTD Apung Banda Aceh; Oleh Kholis Ernawati, Dosen dan Alumnus Universitas Airlangga, Bekasi

Tagar.co – Perjalanan saya ke Aceh pada 1-3 Mei 2023, saat itu dalam rangka menjalankan tugas dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan Indonesia (LAMPT Kes).

Sebagai asesor, saya ditugaskan untuk melakukan asesmen lapangan pada program studi kesehatan di salah satu perguruan tinggi di Banda Aceh. Ini merupakan penugasan kedua saya di tahun 2023, dari biasanya empat hingga enam kali penugasan dalam setahun ke berbagai penjuru Indonesia.

Setiap penugasan biasanya berlangsung selama tiga hari, termasuk perjalanan. Namun, jika lokasi kampus yang diasesmen cukup jauh, durasi tugas bisa diperpanjang.

Saat itu, saya bertugas bersama seorang asesor dari Universitas Sriwijaya, Palembang. Seperti biasa, di sela kesibukan tugas, saya selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi destinasi wisata lokal atau situs bersejarah di daerah yang saya kunjungi.

Tak Lekang oleh Waktu

Pada 3 Mei 2023, hari terakhir penugasan, sebelum bertolak ke bandara, kami menyempatkan diri mengunjungi beberapa situs bersejarah yang menjadi pengingat tragedi tsunami Aceh 2004.

Salah satunya adalah Museum Kapal PLTD Apung di Punge Blang Cut, Banda Aceh. Museum ini bukan hanya simbol dahsyatnya kekuatan alam, tetapi juga bukti nyata ketangguhan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana.

Baca Juga:  Abdul Mu’ti Singgung “Inflasi Ceramah” Ramadan, Ajak Perkuat Literasi Al-Qur’an

Baca juga: Menjelajahi Gili Iyang: Pulau Oksigen dengan Sejuta Pesona

Kunjungan ke Museum Kapal PLTD Apung ini bukanlah yang pertama. Seingat saya, ini sudah kali ketiga saya menginjakkan kaki di tempat ini. Sejak 2016, saya memang kerap berkunjung ke Aceh untuk riset dan pengabdian masyarakat terkait pencegahan dan penanggulangan Demam Berdarah Dengue.

Kerja sama dengan Universitas Indonesia, Subdit Arbovirus Kemenkes, Poltekkes Banda Aceh, Dinas Kesehatan Banda Aceh, dan Dinas Pendidikan Banda Aceh, mengharuskan saya bolak-balik ke Banda Aceh, setidaknya satu hingga dua kali dalam setahun. Dan setiap kali ke Aceh, saya seolah tak pernah bosan mengunjungi berbagai destinasi wisata, termasuk situs bersejarah seperti museum ini.

Di depan Museum Kapal Apung PLTD

Aceh yang Bangkit

Kapal PLTD Apung adalah saksi bisu kedahsyatan tsunami yang menerjang Aceh pada 26 Desember 2004. Kapal generator listrik milik PLN ini, dengan panjang 63 meter dan bobot 2.600 ton, terseret gelombang tsunami sejauh 2,5 kilometer dari Pelabuhan Ulee Lheue hingga ke tengah kota Banda Aceh.

Kini, kapal tersebut berdiri kokoh di tengah permukiman, beralih fungsi menjadi monumen peringatan sekaligus destinasi wisata edukasi. Dahulu ia menyuplai listrik bagi masyarakat Banda Aceh, kini dengan peran barunya, kapal ini tetap memberikan manfaat.

Masyarakat sekitar turut merasakan dampak ekonominya, dengan membuka toko suvenir atau menjadi pemandu wisata. Ini menunjukkan bahwa mereka telah bangkit dan menata kembali hidup.

Baca Juga:  Ujian Tugas Akhir di Unair, Siswa Sekolah Kreatif Baratajaya Uji Karya Riset dan Proyek

Saya mengamati bagian-bagian kapal. Cat yang mulai pudar, besi yang berkarat, dan cerobong asap yang menjulang tinggi menjadi pengingat bisu tragedi itu. Di puncak cerobong inilah, satu-satunya awak kapal yang selamat bertahan hidup.

Teropong yang dulu digunakan untuk memantau lautan, kini hanya menghadap permukiman dan pepohonan hijau yang tumbuh subur. Setiap sudut kapal ini menyimpan cerita tentang kekuatan alam dan ketahanan manusia.

Saat menapaki tangga menuju dek, saya membayangkan kengerian dan kepanikan yang dirasakan awak kapal saat itu. Dari media https://telusuri.id/jejak-tsunami-aceh-di-monumen-kapal-pltd-apung/, saya membaca bahwa dari 13 awak kapal, hanya satu orang yang selamat. Membayangkan peristiwa itu membuat saya merenung, betapa besar kuasa Tuhan dan betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam.

Cukup lama saya berada di atas kapal, membayangkan betapa kuatnya dorongan air yang mampu menghempaskan benda seberat ini ke daratan. Dari atas kapal, pemandangan Banda Aceh yang telah pulih terlihat jelas. Rumah-rumah baru, jalanan yang rapi, dan kehidupan yang terus berdenyut, menjadi bukti bahwa masyarakat Aceh mampu bangkit dari keterpurukan.

Di depan Tugu Monumen Peringatan Tsunami di Area Museum Kapal PLTD Apung

Ruang Refleksi

Saya melanjutkan langkah, menjelajahi area di sekitar kapal. Di area museum, tepatnya di bagian depan dekat pintu masuk, terdapat tugu peringatan dengan deretan nama korban. Dinding dengan relief gelombang tsunami menggambarkan kedahsyatan ombak yang meluluhlantakkan Aceh.

Begitu banyak nama yang terukir, menyadarkan saya akan besarnya kehilangan yang dirasakan masyarakat Aceh. Banyak di antara mereka yang jasadnya tak pernah ditemukan. Beberapa pengunjung tampak ceria berfoto, sementara yang lain terlihat larut dalam renungan saat membaca nama-nama korban di tugu.

Baca Juga:  Siswa Program Internasional Spemduta Serap Wawasan Global di American Corner Unair

Kehadiran museum ini tak hanya sebagai pengingat tragedi, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran. Tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana, menjaga kelestarian lingkungan, dan mensyukuri hidup.

Bagi siapa pun yang ingin menyelami lebih dalam tentang tragedi tsunami Aceh dan belajar tentang ketangguhan manusia, Museum PLTD Apung adalah tempat yang wajib dikunjungi. Ini bisa menjadi perjalanan reflektif yang mengajarkan kita tentang kekuatan alam, kehilangan, dan harapan.

Tentang Makna dan Perjalanan Pulang

Waktu kunjungan kami harus berakhir, mengingat jadwal penerbangan ke Jakarta dari Bandara Sultan Iskandar Muda. Perjalanan dari Museum Kapal PLTD Apung ke bandara memakan waktu sekitar 30 menit, sehingga kami harus bergegas agar tak ketinggalan pesawat.

Sepanjang perjalanan menuju bandara, saya melihat pembangunan yang terus berjalan. Gedung-gedung baru, seperti sekolah dan fasilitas umum, bermunculan, mencerminkan tekad masyarakat untuk bangkit dan menata kehidupan yang lebih baik. Pemandangan ini semakin memperkuat keyakinan saya bahwa tragedi bisa menjadi titik balik untuk perubahan positif.

Di dalam pesawat, saya kembali merenung, tentang pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, dan tentang kekuatan komunitas dalam membangun kembali kehidupan.

Aceh, dengan kisah ketangguhannya, telah mengajarkan saya makna sejati dari ketahanan dan harapan. Allahu Akbar! (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni