Opini

KHGT: Ikhtiar Menyatukan Umat dalam Satu Waktu Ibadah

46
×

KHGT: Ikhtiar Menyatukan Umat dalam Satu Waktu Ibadah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Perbedaan awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha kerap memecah umat. Muhammadiyah mengusulkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), bukan untuk mengklaim kebenaran, melainkan merintis persatuan ibadah lintas batas.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.

Tagar.co – Setiap Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha kita selalu dihadapkan pada kenyataan yang menyedihkan: umat Islam berbeda dalam menentukan waktu ibadah. Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang diusung Muhammadiyah hadir bukan untuk menambah perpecahan, melainkan sebagai ikhtiar mempersatukan umat dalam satu waktu. Namun, apakah kita benar-benar siap menyambutnya?

Setiap kali bulan Ramadan dan Syawal tiba, sebagian kaum Muslimin memulai puasa lebih awal, sementara sebagian lainnya menyusul sehari kemudian. Demikian pula saat Idulfitri, gema takbir menggema di langit yang berbeda-beda, bukan karena zona waktu, melainkan akibat penetapan awal bulan yang tidak serempak.

Baca juga: Kalender Hijriah Global atau Kalender Ormas

Perbedaan ini kerap dianggap sebagai rahmat. Namun, dalam skala global, ia juga menjadi penanda bahwa barisan umat Islam belum bersatu dalam satu waktu ibadah. Inilah kegelisahan yang mendorong Muhammadiyah menawarkan gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

KHGT bukan mimpi kosong. Ia lahir dari ijtihad ilmiah dan spiritual yang panjang—berangkat dari keprihatinan atas perbedaan waktu ibadah yang terus berulang. KHGT menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal dengan pendekatan matlak global, yaitu satu zona waktu dunia yang berbasis data astronomis presisi.

Dengan kata lain, apabila hilal telah wujud di mana pun di permukaan bumi sebelum matahari terbenam, maka malam itu seluruh dunia memulai bulan baru. Sebuah pendekatan yang tidak hanya rasional, tetapi juga menjunjung tinggi prinsip tauhid dalam kesatuan umat.

Baca Juga:  Adab Membaca Al-Qur’an: Berhenti saat Mengantuk

Mengapa Sekarang?

Namun, muncul pertanyaan yang wajar dan kritis: Mengapa harus diberlakukan sekarang? Bukankah lebih baik menunggu hingga mayoritas dunia Islam sepakat? Bukankah diplomasi global dan mufakat kolektif lebih utama sebelum KHGT dijadikan rujukan? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak disambut dengan sikap defensif, melainkan dengan kerendahan hati dan argumen yang berbasis ilmu.

Muhammadiyah sadar, KHGT tidak bisa berjalan sendiri. Karena itu, diplomasi dan edukasi telah dan terus dilakukan melalui forum-forum seperti Majma’ Al-Fiqh Al-Islami, ICOP, MABIMS, dan dialog antar lembaga falakiyah dunia.

Namun, seperti halnya ijtihad para ulama terdahulu, konsensus tidak selalu hadir di awal. Ijtihad itu diuji dan dibuktikan lewat konsistensi dan keteguhan niat. Dalam konteks ini, Muhammadiyah tidak sedang mendahului mayoritas untuk merasa unggul, tetapi mengajukan satu solusi umat yang dapat dikaji dan dipertimbangkan bersama.

Baca juga: KHGT Diluncurkan: Muhammadiyah Tawarkan Solusi Global untuk Kesatuan Umat Islam

Sebagian menolak KHGT dengan alasan “hilal belum terlihat di Indonesia,” sehingga memulai bulan baru berdasarkan wujud hilal di tempat lain—misalnya di Eropa—dianggap tidak relevan. Namun, ini sesungguhnya kurang tepat. KHGT tidak menyamaratakan waktu magrib seluruh dunia, melainkan menyatukan kriteria.

Jika hilal telah wujud di tempat mana pun sebelum matahari terbenam, maka hari berikutnya dianggap sebagai tanggal satu. Ini mengacu pada prinsip ittihad al-mathla’ (kesatuan tempat terbit hilal), bukan ta’addud al-mathali’ (keberagaman tempat hilal).

Baca Juga:  Doa ke Makkah sebelum Dewasa

Landasan pemikiran ini tidak lepas dari pandangan substansial terhadap sabda Rasulullah ﷺ:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sering dimaknai secara lokal, seolah hilal hanya sah untuk wilayah tertentu. Padahal, “melihat” dalam konteks ini bisa dimaknai sebagai indikator masuknya waktu, bukan sebatas penglihatan kasatmata, melainkan kesadaran waktu kolektif. KHGT menggunakan hasil hisab yang sangat presisi dan telah terbukti secara ilmiah, sehingga “melihat” bisa bermakna “mengetahui dengan pasti.”

Lebih dari itu, Al-Qur’an menegaskan fungsi bulan sebagai penanda waktu:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah bagi bulan itu agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.” (\Yunus: 5)

Ayat ini bukan sekadar perintah untuk menghitung waktu, tetapi juga pengakuan terhadap keabsahan hisab sebagai metode ilmiah dalam Islam. Maka, penggunaan KHGT yang berbasis hisab bukan pengabaian terhadap syariat, melainkan penerapan ijtihad rasional dalam kerangka wahyu.

Mereka yang memilih tetap mengikuti keputusan negara masing-masing tentu berhak atas pilihannya. Namun, bukan berarti KHGT menjadi salah. Sebab, metode hisab yang digunakan pun sama: wujudul hilal. Perbedaannya hanya terletak pada ruang cakupan—nasional atau global.

Baca Juga:  Kontribusi Ikhlas Anggota Jadi Energi Kemajuan Muhammadiyah

Bukan Kalender Ormas

Muhammadiyah tidak ingin KHGT menjadi kalender ormas, melainkan kalender umat. Oleh karena itu, KHGT tidak diberlakukan sebagai diktat, melainkan ditawarkan sebagai proposal terbuka—sebagai ijtihad yang siap diuji, dikritik, dan disempurnakan. Jika dunia Islam bisa sepakat pada satu Al-Qur’an, satu kiblat, dan satu Rasul, mengapa tidak bisa menuju satu kalender?

Langkah Muhammadiyah bukanlah langkah tergesa-gesa, melainkan ikhtiar panjang yang dilandasi semangat ukhuwah dan kecintaan terhadap persatuan umat. KHGT bukan tujuan akhir, tetapi wasilah (jalan) menuju kedewasaan umat dalam berijtihad bersama, beribadah bersama, dan memperkuat syiar Islam yang universal.

Baca juga: Jalan Terjal Muhammadiyah Menuju Kalender Hijriah Global Tunggal

Seperti yang ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya: 92)

Jika umat ini satu, maka waktu ibadahnya pun semestinya satu. Jika kita satu arah dalam sujud, mengapa tidak dalam awal dan akhir bulan?

Akhirnya, KHGT adalah ajakan untuk menyatukan waktu sebagaimana kita menyatukan saf. Ia bukan milik Muhammadiyah semata, tetapi dapat menjadi warisan kolektif umat jika kita bersedia membuka hati, membuka ruang dialog, dan membangun ijtihad berjemaah.

Tidak ada pemaksaan, tidak ada monopoli kebenaran. Hanya ikhtiar ikhlas dari umat untuk umat, agar bulan suci tak lagi terpecah hanya karena kita belum duduk bersama. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni