
Kalender Hijriah Global Tunggal akan menjadi kalender umat jika didukung oleh dua hal: legitimasi syar’i dan penerimaan umat.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.
Tagar.co – Wacana Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) bukan sekadar gagasan idealistis. Ia lahir dari kepedihan melihat perbedaan awal Ramadan dan Idulfitri yang terus berulang.
Muhammadiyah menawarkan KHGT sebagai solusi pemersatu umat. Tapi benarkah kalender ini layak disebut ’global’? Apakah sudah siap diberlakukan? Mari kita telisik.
Di setiap bulan Ramadan, ada fenomena yang kini terasa lumrah: umat Islam satu dunia tidak serempak dalam memulai puasa maupun merayakan Idulfitri.
Ada yang memulai lebih dulu, ada pula yang baru bertakbir sehari setelahnya. Perbedaan itu kerap berujung pada kebingungan, perdebatan, bahkan dalam beberapa kasus, polarisasi di antara sesama muslim.
Muhammadiyah tidak menutup mata terhadap realitas ini. Sebagai gerakan Islam modernis yang berpijak pada tajdid (pembaruan) dan ijtihad kolektif, organisasi ini sejak lama menyuarakan pentingnya integrasi kalender Islam yang berlaku lintas negara.
Gagasan itu kemudian dirumuskan dalam bentuk Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Nama atau Makna
Pertanyaan paling dasar tentang KHGT adalah: apakah ini hanya nama simbolik atau sungguh-sungguh bermakna sebagai kalender global umat Islam?
Muhammadiyah dengan tegas menjawab: KHGT bukan sekadar label. Ini adalah bentuk konkret dari ijtihad ilmiah dan spiritual, menyatukan pendekatan astronomi modern dan semangat ukhuwah Islamiyah global.
Nama ’global’ bukan slogan, melainkan pernyataan tekad. KHGT adalah kalender yang disusun berbasis metode hisab hakiki wujudul hilal, berlaku satu zona waktu dunia, dengan kriteria minimal visibilitas hilal.
Namun di titik inilah tantangan dimulai. Sebuah kalender global seharusnya tidak hanya benar secara ilmiah dan syar’i, tetapi juga diakui secara kolektif oleh umat Islam internasional. Tanpa penerimaan itu, KHGT riskan menjadi ’Kalender Muhammadiyah’ semata, bukan kalender Islam dunia.
Di sinilah peran diplomasi ilmu dan ukhuwah harus diperkuat. Muhammadiyah menyadari bahwa penyatuan kalender tidak bisa dilakukan secara sepihak.
Diperlukan pendekatan melalui forum-forum internasional seperti Majma’ al-Fiqh al-Islami, Rabithah al-‘Alam al-Islami, dan MABIMS.
KHGT tidak akan pernah menjadi kalender umat jika umat belum mau duduk bersama membicarakan kemungkinan unifikasi.
Antara Hisab Global dan Matlak
Lalu muncul pertanyaan penting kedua: jika KHGT belum diterima secara global, apakah hisab berdasarkan batas negara (matlak) lebih aman dan bijaksana?
Di sinilah perdebatan mengemuka antara matlak lokal dan matlak global. Pendekatan lokal menyatakan bahwa rukyat atau hisab sebaiknya berdasarkan kawasan atau negara tertentu, sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan: “Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal.”
Hadis ini sering ditafsirkan bahwa hasil pengamatan hilal berlaku untuk suatu wilayah saja.
Namun, Muhammadiyah menafsirkan hadis ini secara substansial, bukan geografis sempit. ”Melihat hilal” dalam teks hadis itu adalah penanda waktu, bukan batas administrasi negara.
Jika umat Islam satu dunia bisa bersepakat menggunakan satu kiblat, satu Al-Qur’an, dan satu Ramadan, mengapa tidak satu kalender?
Pendekatan ini menuntut keteguhan dan keberanian berpikir maju. Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid telah melakukan studi panjang.
Mereka menetapkan bahwa jika hilal sudah wujud secara astronomis (meski belum bisa dirukyat mata telanjang), maka bulan baru dimulai.
Metode ini tidak hanya sahih secara syar’i, tetapi juga akurat dan dapat diverifikasi.
Kesadaran Global
KHGT hadir bukan untuk memaksakan kehendak, tetapi menawarkan solusi berbasis ilmu. Dunia modern hari ini telah memungkinkan perhitungan astronomis yang sangat presisi.
Data visibilitas hilal, elongasi bulan, dan koordinat waktu semuanya bisa dihitung secara akurat. Tidak ada alasan lagi untuk berselisih hanya karena faktor geografis.
Namun Muhammadiyah tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa umat Islam belum satu suara. Masih banyak negara yang mengandalkan rukyat, baik karena alasan tradisi, politis, maupun keterbatasan akses ke data hisab. Karena itu, KHGT ditawarkan sebagai ijtihad terbuka, bukan diktat sepihak.
Saat ini, KHGT sudah digunakan secara internal oleh Muhammadiyah untuk menentukan Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha, sekalipun kadang berbeda dari pemerintah.
Tapi Muhammadiyah tetap menjunjung tinggi adab perbedaan, tanpa menjatuhkan pihak lain. Perbedaan itu tidak menggugurkan keyakinan, tetapi justru menunjukkan dinamika ijtihad dalam Islam.
Kalender Umat
Kalender Hijriah Global Tunggal akan menjadi kalender umat jika didukung oleh dua hal: legitimasi syar’i dan penerimaan umat.
Syarat pertama telah dimiliki Muhammadiyah melalui metode hisab hakiki. Syarat kedua sedang diperjuangkan melalui edukasi, dialog, dan diplomasi.
KHGT adalah jalan panjang. Ia bukan hasil keputusan musyawarah semalam, tapi buah dari kegelisahan akan keterpecahan waktu ibadah umat. Maka, KHGT seharusnya tidak dimusuhi, tapi dikaji. Bukan ditolak, tapi diuji. Bukan dipolitisasi, tapi disosialisasikan.
Menjadikan KHGT sebagai kalender Islam global memang butuh waktu dan kesabaran. Tapi sejarah telah mencatat: semua perubahan besar berawal dari pemikiran yang dianggap “berbeda” oleh zamannya.
Perbedaan penentuan awal bulan hijriah tidak seharusnya membuat kita saling tuding sesat atau keliru. Yang dibutuhkan adalah ruang untuk berdialog dan saling belajar.
Muhammadiyah dengan KHGT-nya telah mengajukan satu proposal besar: mari bersatu dalam waktu, sebagaimana kita bersatu dalam kiblat.
KHGT bukan milik satu ormas, tapi bisa menjadi warisan kolektif umat. Asal kita mau membuka pikiran, membuka hati, dan duduk bersama sebagai satu barisan. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












