Feature

Ketika Hati Mulai Keras, Kajian Subuh Masjid Al-Kahfi Hadirkan Pencerahan

48
×

Ketika Hati Mulai Keras, Kajian Subuh Masjid Al-Kahfi Hadirkan Pencerahan

Sebarkan artikel ini
Kajian subuh di Masjid Al-Kahfi bahas tanda kerasnya hati, ajak jamaah muhasabah dan kembali lembutkan jiwa.
Para jamaah laki-laki yang hadir untuk mengikuti kajian subuh Masjid Al-Kahfi, Sawocangkring, Wonoayu, (Tagar.co/Luh Himmatul)

Kajian subuh di Masjid Al-Kahfi bahas tanda kerasnya hati, ajak jamaah muhasabah dan kembali lembutkan jiwa.

Tagar.co — Kajian subuh diselenggarakan di Masjid Al-Kahfi, Desa Sawocangkring Kec.Wonoayu, Sidoarjo, Ahad (15/6/25).

Hadir seluruh jamaah dari unsur PCM, PCA, dan PCNA Wonoayu yang berada di sekitar masjid. Kajian subuh rutin itu dilaksanakan satu bulan sekali di Masjid Al-Kahfi.

Sebelum kajian, para jamaah yang sudah hadir di masjid melaksanakan salat subuh berjamaah. Kajian bakda subuh dipandu Ustaz Abdur Rouf dari Sidoarjo dengan materi “Tanda-Tanda Kerasnya Hati”.

Ustaz Abdur Rouf membuka kajian dengan sebuah pertanyaan retorik: “apakah tanda-tanda kerasya hati itu ada pada diri kita?”

Ustaz Rouf, panggilannya, kemudian memberi contoh, seperti saat kumandang azan salat Jumat sudah terdengar, apakah kita sudah berada duduk di dalam masjid dengan kondisi siap melaksanakan ibadah salat Jumat ataukah kita datang saat khatib sudah berdiri di mimbar? “Salah satu tanda kerasnya hati adalah malas untuk beribadah,” ungkapnya.

Mubaligh dengan suara khasnya itu kemudian memberi analogi, seperti menghadiri konser band yang terkenal, kita bisa mempersiapkan diri walupun lokasi kita sangat jauh dan diusahakan sudah hadir sebelum konser tesebut dimulai.

Baca Juga:  Empat Akhlak Produk Ramadan, Kajian Subuh Smamio

Tanda kerasnya hati, lanjut dia, yaitu pertama, Malas dalam Beribadah, seperti yang tertuang dalam QS. An-Nisa ayat 142 dan QS. At-Tubah ayat 54.

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ ۝١٤٢

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah membalas tipuan mereka (dengan membiarkan mereka larut dalam kesesatan dan penipuan mereka). Apabila berdiri untuk salat, mereka melakukannya dengan malas dan bermaksud riya di hadapan manusia. Mereka pun tidak mengingat Allah, kecuali sedikit sekali”.

وَمَا مَنَعَهُمْ اَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقٰتُهُمْ اِلَّآ اَنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللّٰهِ وَبِرَسُوْلِهٖ وَلَا يَأْتُوْنَ الصَّلٰوةَ اِلَّا وَهُمْ كُسَالٰى وَلَا يُنْفِقُوْنَ اِلَّا وَهُمْ كٰرِهُوْنَ ۝٥٤

Artinya: “Tidak ada yang menghalangi infak mereka untuk diterima kecuali karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang kufur kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak melaksanakan salat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menginfakkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan (terpaksa)”.

Baca Juga:  Empat Akhlak Produk Ramadan, Kajian Subuh Smamio

Kedua, Meremehkan Maksiat

Tertuang dalam QS. Al-Zalzalah :7-8

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ (٧) وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ (٨

Artinya:

(7) “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. (8) Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya”.

Penjelasan tersebut, lanjut Ustaz Rouf, mengingatkan kita semua jika malas dalam beribadah dan meremekah maksiat adalah dua dari beberapa tanda kerasnya hati. Tanpa kita sadari terkadang kita sering menunda ibada salat dan meremehkan perbuatan maksiat yang biasa kita lakukan.

“Marilah kita bersama menjadi insan yang lebih baik dengan banyak belajar dan datang di majelis ilmu karena ibadah yang tidak didasari ilmu bisa ditolak atau tidak diterima oleh Allah SWT,” pungkasnya. (#)

Kajian subuh di Masjid Al-Kahfi bahas tanda kerasnya hati, ajak jamaah muhasabah dan kembali lembutkan jiwa.
Jamaah ibu-ibu saat mendengar tausiah Kajian Subuh Masjid Al-Kahfi Sawocangkring Wonoayu (Tagar.co/Luh Himmatul Khoiro)

Jurnalis Luh Himmatul Khoiro. Penyunting Darul Setiawan.