Feature

Kafilah Dakwah Ramadan ADI Jatim yang Dimulai dari Meja Jualan

33
×

Kafilah Dakwah Ramadan ADI Jatim yang Dimulai dari Meja Jualan

Sebarkan artikel ini
Stan akhwat mahasantri ADI Jatim di depan GOR (Tagar.co/Sadidatul Azka)

Di tengah kemeriahan eLKISI Awards 2025, mahasantri ADI Jatim memilih turun langsung berjualan. Dari jigor hingga es mocitos, semua disiapkan sendiri sebagai ikhtiar mengumpulkan dana untuk menyukseskan Kafilah Dakwah Ramadan 2026.

Tagar.co — Suasana Pondok Pesantren Islamic Center eLKISI Mojokerto, Jawa Timur, sejak pagi sudah terasa berbeda, Sabtu (29/11/2025). Area pesantren dipenuhi tenda, kerumunan santri, serta sorak-sorai peserta yang berkompetisi dalam eLKISI Awards Final 2025, sebuah ajang tahunan yang selalu dinanti.

Para finalis datang dari berbagai daerah di Jawa Timur, menjadikan kegiatan ini bukan sekadar lomba, tetapi juga perayaan kreatifitas dan persaudaraan.

Baca juga: Jejak Panjang Salon Rosana Ponorogo: Dari Duka Menjadi Warisan Berkah

Di tengah hiruk-pikuk acara, mahasantri Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jawa Timur tak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka membuka stan penggalangan dana untuk mendukung kegiatan Kafilah Dakwah Ramadan 2026—sebuah program dakwah tahunan yang membutuhkan dukungan logistik dan pembiayaan.

Saya—yang hadir sebagai alumnus ADI Jatim dan sedang menjalani pengabdian di Ponorogo—memilih mengisi hari libur dengan bergabung membantu adik tingkat. Tahun sebelumnya, saya sempat menjadi ketua fundraising.

Namun kali ini, suasananya berbeda: bukan lagi memimpin, tetapi menemani dan melihat semangat baru tumbuh di tangan-tangan lebih muda.

Baca Juga:  Berkembang, Bukan Tertinggal: Catatan Reflektif untuk Generasi Muda Beriman
Di stan akhwat mahasantri ADI Jatim (Tagar.co/Sadidatul Azka)

 

Aneka Menu

Stan penggalangan dana tampak meriah dengan aneka menu kreasi mahasantri: jigor gurih, mochi lembut aneka rasa, cireng katsu, sosis selimut, es kuwut yang menyegarkan, hingga es mocitos yang manis dingin. Semua diracik mandiri oleh para mahasantri sebagai latihan wirausaha, sebuah tradisi yang terus dijaga di ADI.

Stan akhwat ditempatkan di depan GOR, sementara stan ikhwan berada di samping lapangan basket putra. Aktivitas berjualan berlangsung hidup—ikhwan bahkan memasak sendiri dagangan mereka. Aroma makanan yang baru matang membuat para pengunjung tak henti menghampiri.

Respons positif datang dari berbagai penjuru. “Enak mbak piscoknya… murah lagi, lima ribu dapat lima. Memang kecil-kecil sih, tapi enak, sumpah,” ucap Putri, santri kelas 8 SMP eLKISI, sambil tersenyum puas. Ketika mengetahui bahwa semua dibuat oleh mahasantri ADI, ia terlihat semakin kagum.

Sejak pagi, stan tak pernah sepi. Peserta lomba, wali santri, hingga masyarakat sekitar turut meramaikan. Jelang siang, mahasantri ikhwan sudah menutup stan pada pukul 10.15 WIB setelah dagangan ludes. Stan akhwat menyusul tutup pada pukul 11.20 WIB, juga dengan hasil serupa.

Baca Juga:  Tak Semua Dakwah Berpanggung Besar: Kisah Dua Daiyah Muda ADI di Ponorogo

Lebih dari sekadar berjualan, kegiatan ini menjadi ruang belajar nyata bagi para mahasantri: bagaimana bekerja sama, melayani pembeli, menjaga kualitas produk, hingga merasakan langsung dinamika berdagang.

Semuanya dilakukan demi satu tujuan: mendukung perjalanan dakwah Ramadhan tahun depan agar berjalan lebih kuat dan penuh keberkahan. (#)

Jurnalis Sadidatul Azka Penyunting Mohammad Nurfatoni