Opini

Kabur: Antara Pandangan Samar dan Harapan yang Pudar

42
×

Kabur: Antara Pandangan Samar dan Harapan yang Pudar

Sebarkan artikel ini
Kabur (Ilustrasi AI)

Kabur bukan hanya soal mata. Fenomena #KaburAjaDulu ungkap frustrasi anak muda. Apa yang terjadi, dan adakah solusi?

Opini oleh Jamaluddin, dokter spesialis mata, tinggal di Kamal, Bangkalan, Madura.

Tagar.co – Ketika seorang pasien datang dan saya menanyakan keluhan utamanya, saya sering mendengar jawaban, “Kabur, Dokter.”

Terkadang, saya bercanda, “Lho, kabur ke mana?”

Biasanya, mereka pun tersenyum atau tertawa kecil. Ada jeda antara pertanyaan saya, jawaban pasien, dan komentar saya. Momen kecil seperti ini sering mencairkan suasana dan membuat komunikasi lebih santai. Namun, kata “kabur” sendiri memiliki banyak makna, tergantung pada konteksnya.

Makna Kabur dalam Berbagai Konteks

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “kabur” dapat berarti:

  • Tidak jelas atau tidak terang, seperti tulisan yang pudar karena terkena air.
  • Melarikan diri atau lari menghindar, seperti tahanan yang berhasil kabur dari penjara.
  • Tidak tetap atau samar-samar, seperti kenangan yang mulai kabur dalam ingatan.
  • Penglihatan yang tidak tajam, seperti yang dialami akibat gangguan mata.

Dari sudut pandang medis, “kabur” sering dikaitkan dengan masalah penglihatan. Katarak adalah penyebab umum kaburnya penglihatan akibat kekeruhan pada lensa mata. Penyebab lainnya bisa berupa glaukoma, kelainan refraksi, atau gangguan retina dan makula. Operasi menjadi solusi utama untuk mengatasi katarak, sementara gangguan lainnya memerlukan penanganan sesuai diagnosis yang tepat.

Baca juga: Generasi Muda Pilih Kabur? Viral #KaburAjaDulu dan Realitas Pahit di Indonesia

Baca Juga:  Generasi Menunduk dan Ironi Board of Peace

Di luar dunia medis, istilah “kabur” juga digunakan dalam konteks visual, seperti foto yang kabur akibat goyangan kamera atau objek yang buram karena percikan cairan. Namun, yang kini ramai diperbincangkan adalah “kabur” dalam arti melarikan diri, terutama terkait fenomena sosial belakangan ini.

#KaburAjaDulu: Frustrasi Anak Muda Indonesia

Tagar #KaburAjaDulu tengah viral di media sosial, mencerminkan kekecewaan anak muda terhadap kondisi ekonomi, sosial, dan politik di Indonesia. Minimnya peluang kerja, ketidakpastian ekonomi, serta kesenjangan sosial yang makin lebar membuat banyak dari mereka kehilangan harapan akan masa depan yang lebih baik di tanah air.

Dalam wawancara di Kompas TV bersama Rosianna Silalahi, Dr. Muhammad Yorga Permana, dosen dan peneliti di Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, menyatakan bahwa tren ini bukan hal baru. Pengangguran, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan kebijakan yang tidak berpihak pada generasi muda telah lama menjadi masalah. Banyak yang merasa pemerintah gagal menciptakan lapangan kerja yang memadai, sementara biaya hidup terus meningkat. Dalam kondisi ini, “kabur aja dulu” menjadi pilihan rasional bagi mereka yang ingin mencari peluang di luar negeri.

Tagar ini juga digunakan untuk berbagi informasi tentang beasiswa, peluang kerja, dan kehidupan di negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, Australia, Amerika Serikat, dan Jerman yang menawarkan prospek lebih menjanjikan.

Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Abdul Kadir Karding, menilai tren ini bisa menjadi hal positif—dengan catatan, masyarakat meningkatkan keterampilan sebelum memutuskan bekerja atau belajar di luar negeri.

Baca Juga:  Generasi Menunduk dan Ironi Board of Peace

Jika tidak ada perubahan signifikan dalam kebijakan ketenagakerjaan dan ekonomi, gelombang kepergian anak muda ke luar negeri akan terus meningkat, mengakibatkan Indonesia kehilangan banyak talenta terbaiknya.

Faktor yang Mendorong Tren #KaburAjaDulu

Beberapa faktor utama yang memperparah keadaan ini antara lain:

  • Lapangan Kerja yang Terbatas Angkatan kerja terus meningkat, tetapi peluang kerja tidak sebanding. Banyak anak muda terpaksa bekerja di sektor informal dengan upah rendah dan kondisi kerja yang tidak layak.
  • Kebijakan Pemerintah yang Tidak Efektif Program penciptaan lapangan kerja dinilai belum mampu mengatasi pengangguran secara signifikan. Banyak kebijakan yang tidak berjalan efektif atau tidak berpihak pada anak muda.
  • Ketidakpastian Ekonomi Stabilitas ekonomi yang terganggu membuat anak muda merasa tidak aman secara finansial dan sulit merencanakan masa depan mereka.
  • Ketidakpuasan terhadap Kondisi Sosial Politik Anak muda kecewa dengan arah kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro-rakyat. Kurangnya ruang bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi memperburuk rasa frustrasi ini.

Selain faktor-faktor tersebut, ada beberapa hal lain yang memperkuat tren “kabur aja dulu,” seperti: kurangnya keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja; pengaruh media sosial dalam menyebarkan opini dan tren baru; atau rasa ketidakpastian akan masa depan di dalam negeri.

Apa Solusinya?

Menurut Dr. Yorga Permana, beberapa langkah yang bisa diambil untuk mengatasi fenomena ini adalah:

  • Membuat Kebijakan yang Berpihak kepada Anak Muda
    Pemerintah perlu fokus pada penciptaan lapangan kerja yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
  • Meningkatkan Keterampilan Generasi Muda
    Pelatihan keterampilan digital, kewirausahaan, dan bahasa asing dapat meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja global.
  • Memanfaatkan Peluang di Sektor Digital
    Ekonomi digital bisa menjadi solusi bagi anak muda untuk mendapatkan penghasilan yang lebih layak.
  • Mendukung UMKM agar Mampu Menyerap Tenaga Kerja
    Sektor usaha kecil dan menengah perlu diperkuat agar bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal.
  • Meningkatkan Transparansi dan Ruang Aspirasi
    Pemerintah harus membuka lebih banyak ruang bagi anak muda untuk menyampaikan pendapat dan ikut serta dalam proses pembangunan.
Baca Juga:  Generasi Menunduk dan Ironi Board of Peace

Kesimpulan

Fenomena #kaburAjaDulu adalah refleksi dari ketidakpuasan dan ketidakpastian yang dirasakan oleh anak muda Indonesia. Jika tidak segera ditangani, tren ini bisa berdampak buruk bagi masa depan tenaga kerja dan pembangunan negara.

Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat perlu bekerja sama menciptakan solusi yang nyata agar anak muda tidak lagi melihat “kabur” sebagai satu-satunya jalan keluar. Sebab, jika generasi muda terus memilih kabur, siapa yang akan membangun negeri ini di masa depan?

Adapun “kabur” yang berkaitan dengan penglihatan, dokter akan mencarikan solusi terbaik sesuai diagnosis yang tepat. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni