
Siswa Mugeb Primary School mengikuti Pekan Ceria Kampung Dongeng di WEP. Mereka belanja buku dan mainan edukatif, belajar berhemat melalui dongeng interaktif, juga ikut pelatihan membuat buku laporan keuangan sederhana.
Tagar.co — Senyum lebar menyambut kedatangan rombongan siswa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik di Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP) pada Jumat (3/10/2025). Mereka terdiri dari 20 siswa yang tergabung dalam Jurnalis Cilik sekaligus anggota IPM bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan, plus tujuh siswa kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Junio.
Zulynda Amelia Rosa dari tim Out of the Boox (OOTB) menyambut hangat para siswa. Begitu pula tim Kampung Dongeng Gresik yang pagi itu berkolaborasi dengan OOTB serta Mizan dalam Pekan Ceria. Ini merupakan program dongeng dan berbagai kegiatan edukatif.
Sebelum memasuki arena kegiatan ini, para siswa langsung menyerbu bazar buku OOTB Gudang Buku Keliling. Bazar buku yang menawarkan diskon hingga 60% dan flash sale ini telah berlangsung sejak 23 September hingga 14 Oktober 2025. Tak hanya menjual buku, ajang ini juga menjadi wadah kolaborasi dan edukasi literasi yang melibatkan beragam komunitas literasi se-Gresik.
Di antara lebih dari 20 juta buku berbagai genre—mulai dari anak, fiksi, nonfiksi, edukasi, politik, pengembangan diri, hingga komik dan buku internasional—siswa dengan antusias memilih buku anak. Mata mereka berbinar saat menemukan stan mainan edukatif dan alat tulis (ATK). Suasana ramai dan semangat berburu ilmu terasa kental di antara tumpukan buku yang terjangkau.

Belajar Hemat Lewat Kisah Rara
Kegiatan Pekan Ceria diawali tim Kampung Dongeng Gresik yang membakar semangat anak-anak. Mereka mengajak siswa bergerak mengikuti iringan lagu “Naik Delman”. Lavina, Nadine, Farih, dan Dastan bahkan mengajukan diri untuk memimpin di atas panggung, menambah keceriaan suasana.
Selanjutnya, Lillah Maghfirotun Karimah mulai mendongeng dengan interaktif. Lillah, sapaannya, menceritakan Rara yang gemar sekali jalan-jalan ke mal. Ia menyisipkan pesan penting tentang berhemat dan prioritas kebutuhan.
Mama Rara, dalam cerita itu, menasihati Rara. “Kalau makan, kita bisa bertahan hidup. Kalau jalan-jalan terus, uangnya habis, nanti kita tidak bisa beli makan dan bertahan hidup,” ujar mama Rara.
Rara sempat bersikeras bahwa menabung setiap hari itu terlalu lama. Namun, setelah mamanya membujuk, ia akhirnya mau menabung. Ia juga memilih membawa bekal dan bekerja keras membantu mamanya demi mendapatkan uang tambahan.
Di tengah cerita, Lillah memberikan beragam pertanyaan terkait cerita untuk memantik semangat anak-anak agar terus menyimak. Ia melontarkan pertanyaan seputar perhitungan sederhana sesuai alur cerita, mulai dari jumlah tabungan Rara hingga alasan Rara mendapat uang tambahan dari mamanya.
Lavina, Nabilah, dan Dastan beruntung mendapatkan buku cerita anak bergambar, sementara beberapa siswa lainnya mendapat jajan. Semangat dan fokus mereka tetap membara hingga akhir dongeng. Cerita ini berhasil menanamkan nilai penting tentang pengelolaan uang sejak dini.

Mencipta Buku Laporan Keuangan Mandiri
Setelah sesi dongeng, giliran Henik Puji Rahmawati memimpin pelatihan. Ia mengajak anak-anak kelas IV tersebut membuat buku catatan laporan keuangan mereka sendiri. Henik menjelaskan pentingnya kegiatan tersebut. “Kita harus mencatat pengeluaran supaya bisa berhemat. Kemarin kita dapat uang berapa dari orang tua, dan tahu sisa berapa, ya,” terangnya.
Henik dan timnya membagikan selembar kertas yang sudah dipotong dan memiliki bekas lipatan. Ia mencontohkan cara melipat kertas tersebut. “Kertasnya lipat seperti ini, ya, lipat ke dalam, lipat ke luar, begitu terus,” tuturnya. Siswa yang kesulitan tak segan mengangkat tangan, dan Henik serta timnya dengan sigap mendatangi mereka. Sayyidah Nuriyah, S.Psi, guru pendamping, turut membantu mengarahkan siswanya.
Revitra Nahda Farzana memastikan lipatan buku mininya. “Ustazah, gini ya?” tanyanya sambil menunjukkan hasil lipatan. Sementara, Adeeva Tanisha Alonto yang duduk di sebelahnya fokus melipat lembar demi lembar dengan hati-hati agar rapi.
Setelah berhasil melipat kertas yang kini menyerupai lembaran buku, mereka melanjutkan ke tahap berikutnya: membuat sampul buku. Mereka menggunakan selembar kertas lipat. “Yang atas dan bawah lipat agak lebar, yang bagian sampingnya lipat lebih kecil,” kata Henik, dan para siswa mengikuti arahannya. Mereka kemudian menyatukan sampul dan lembar isi buku dengan lem.
Tahap terakhir, mereka menghias sampulnya dengan beragam stiker emoji dan identitas buku. Di stiker identitas, mereka menuliskan nama masing-masing yang dikelilingi tulisan “Buku Laporan Keuangan” dan logo Kampung Dongeng Gresik.
Senyum lebar tergambar di wajah mereka, menggusur rasa cemberut, bingung, bercampur lelah yang sempat hinggap saat mereka fokus melipat. Mereka telah berhasil menciptakan alat sederhana untuk belajar mengelola keuangan secara mandiri. Kegiatan ini sekaligus menjadi angin segar sebelum mereka menempuh pekan sumatif tengah semester. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












