Opini

Janji Allah Itu Nyata: Refleksi Diri Kepala SD Muri

41
×

Janji Allah Itu Nyata: Refleksi Diri Kepala SD Muri

Sebarkan artikel ini
Riza Agustina Wahyu Setyawati (Tagar.co/Istimewa)

Dari perjalanan sebagai pelaksana tugas hingga resmi dilantik sebagai Kepala SD Muhammadiyah 1 Kebomas Gresik, saya belajar bahwa amanah Allah selalu hadir di saat yang paling tepat.

Oleh Riza Agustina Wahyu Setyawati

Tagar.co – Hari Jumat 29 Agustus 2025, saya resmi dilantik sebagai Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 1 Kebomas, Gresik, Jawa Timur. Pengukuhan berlangsung di Hotel Saptanawa, Jalan Rahman Hakim, Gresik, bersama dua kepala sekolah lain dari Kecamatan Kebomas: SD Almadany dan SMP Muhammadiyah 4 Kebomas.

Ada banyak rasa yang berkecamuk di hati saya. Sebab, ini bukan kali pertama saya merasakan momen pengukuhan. Setahun lalu, pada September 2024, saya dipercaya sebagai pelaksana tugas (Plt) kepala sekolah.

Baca juga: Pelantikan Bersama Kepala Sekolah Muhammadiyah di Kebomas, Simbol Kolaborasi

Surat keputusan Plt dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah saya terima pada Oktober 2024. Kemudian, SK kepala sekolah resmi diberikan pada 21 April 2025, bertepatan dengan Hari Kartini.

Proses itu tidak mudah, karena sebelumnya saya harus melewati tes wawancara dan tes tulis pada Maret 2025 yang dilaksanakan secara daring dari Kota Makkah. Hari Jumat 29 Agustus 2025, saya dilantik secara resmi oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik—dan istimewanya, bertepatan dengan bulan kelahiran saya.

Baca Juga:  Deg-degan di Depan Penguji: Kisah 54 Siswa SD Muri Menaklukkan Munaqasah

Janji Allah Itu Nyata

Merefleksi perjalanan ini, saya semakin yakin bahwa janji Allah itu nyata adanya. Perjuangan harus dijalani dengan ikhlas dan sadar, tanpa drama. Allah selalu memberi sesuatu tepat pada waktunya. Saya teringat perkataan Hasan Al-Basri bahwa hidup ini hanya terdiri dari tiga hari: kemarin, hari ini, dan esok.

Kemarin adalah masa lalu. Kata Hasan Al-Basri, tidak perlu disesali. Tetapi saya sempat bertanya dalam hati: Apakah keputusan saya dulu menolak dicalonkan sebagai kepala sekolah berarti saya mengingkari takdir?

Pada tahun pelajaran 2015/2016, saya bersama lima rekan senior di SD Muhammadiyah 1 Kebomas sempat diajukan mengikuti seleksi kepala sekolah. Namun, karena tidak mendapat izin suami, saya mengajukan surat penolakan.

Beberapa tahun kemudian, ketika terjadi pergantian kepala sekolah lagi, sempat muncul penyesalan: Mengapa dulu saya tidak mau ya? Saat itu bahkan sempat muncul kabar bahwa kepala sekolah akan diambil dari luar sekolah, yang membuat suasana di SD Muhammadiyah 1 Kebomas cukup bergejolak.

Hari Ini, Hari Keyakinan

Hari Jumat ini adalah cerminan bagaimana kita menata hati, amal, dan langkah. Saya resmi dilantik. Bekal pengalaman dan pembelajaran dari para pendahulu menjadikan saya lebih mantap untuk melangkah. Pendidikan S2 sudah saya selesaikan, walaupun bukan syarat mutlak menjadi kepala sekolah. Saya juga telah mengikuti pendidikan calon kepala sekolah dan memperoleh nomor NIKS.

Baca Juga:  Kak Ari dan Paijo Hipnotis Siswa SD Muri lewat Dongeng Wahyu Pertama

Kini, gedung sekolah yang dulu berbagi dengan SMP Muhammadiyah 4 sudah sepenuhnya menjadi milik SD Muhammadiyah 1 Kebomas. Lebih dari itu, saya bersyukur karena didampingi oleh guru-guru muda yang kompeten, penuh inovasi, dan siap berjuang bersama membesarkan sekolah ini.

Betapa besar rasa syukur saya, karena Allah memberikan amanah ini di saat yang tepat.

Menatap Hari Esok

Hari esok adalah ruang harapan. Saya bertekad mewujudkan impian persyarikatan, khususnya di Kebomas, agar SD Muhammadiyah 1 Kebomas menjadi sekolah unggulan yang diperhitungkan.

Sebuah sekolah yang membekali siswa dengan akhlak mulia, berkarakter, serta unggul dalam bidang akademik maupun nonakademik. Saya ingin sekolah ini melahirkan generasi saleh-salihah yang mampu menghadapi masa depan.

Tentu, itu tidak mudah jika hanya dilakukan seorang diri. Dibutuhkan tim yang solid: para guru, majelis, dan pimpinan cabang Muhammadiyah (PCM. Kesuksesan akan terwujud bila kita memiliki tiga hal penting:

  • Tauhidul Fikrah – satu pemikiran atau satu misi.

  • Tauhidul Ukhuwwah – persatuan dalam kebersamaan.

  • Tauhidul Harakah – bergerak bersama-sama.

Baca Juga:  SPMB: Antara Word of Mouth dan Media Sosial

Semoga doa dan harapan ini terwujud melalui kolaborasi semua pihak di Kebomas. Dan semoga seluruh langkah kita selalu tulus, hanya mengharap rahmat dan rida Allah Swt. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Detak jantung tidak pernah berhenti bekerja—tetapi kita sering…