Sejarah

Isra Mikraj Menurut Cerita Para Sahabat

43
×

Isra Mikraj Menurut Cerita Para Sahabat

Sebarkan artikel ini
Isra Mikraj yang dialami Nabi Muhammad diceritakan dalam hadis dalam banyak riwayat yang berbeda.
Kondisi sekarang kota tua Baitul Maqdis atau Yerusalem Palestina. Masjidilaqsa sebelah kiri dan Kubah Shakrah warna kuning.

Ketika telah sampai dalam perjalanan Isra Mikraj, Rasulullah Muhammad disodori tiga bejana berisi susu, khamr, dan air. Rasulullah memilih salah satu yang berpengaruh kepada umatnya.

Tagar.co – Isra Mikraj yang dialami Nabi Muhammad diceritakan dalam hadis dengan banyak riwayat yang berbeda.

Peristiwa ini terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke 10 masa kenabian atau sekitar tahun 621 M.

Salah satunya cerita Isra Mikraj ditulis Ibnu Ishaq dalam kitabnya Sirah Nabawi Ibnu Ishaq. Dia berkata, seperti disampaikan kepadaku bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dinaikkan ke atas buraq, yaitu hewan yang mengangkut para nabi sebelumnya.

Buraq memindahkan tangannya dalam setiap langkahnya ke batas akhir pandangan matanya. Nabi Muhammad dinaikkan di atas buraq, kemudian dia berjalan dengannya untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di antara langit dan bumi, hingga perjalanannya terhenti di Baitul Maqdis.

Di sana, Rasulullah bertemu Ibrahim, Musa, dan Isa dalam kelompok para nabi yang sengaja dikumpulkan untuk bertemu, kemudian Rasulullah salat dengan mereka.

Setelah itu tiga bejana didatangkan kepadanya. Bejana berisi susu, khamr (minuman keras), dan air.

Rasulullah bersabda,”Ketika bejana-bejana tersebut didatangkan kepadaku, aku mendengar seseorang berkata, ‘Jika ia mengambil air, ia tenggelam dan tenggelam pula umatnya. Jika ia mengambil khamr (minuman keras), ia mabuk dan mabuk pula umatnya. Jika ia mengambil susu, ia mendapatkan petunjuk dan umatnya juga mendapatkan petunjuk’.

Baca Juga:  Din Syamsuddin Sentil Sikap Diam Presiden Prabowo saat Al-Aqsa Ditutup di Bulan Ramadan

Rasulullah bersabda, “Kemudian aku mengambil bejana yang berisi susu dan meminumnya. Jibril berkata kepadaku, ‘Engkau telah mendapatkan petunjuk dan umatmu juga telah mendapatkan petunjuk, wahai Muhammad’.”

Menurut Cerita Al-Hasan

Halaman lain kitab Sirah Ibnu Ishaq menceritakan peristiwa malam Isra Mikraj Nabi Muhammad dari riwayat Al-Hasan.

Suatu malam Rasulullah tidur di samping Hajar Aswad. Tiba-tiba malaikat Jibril datang. Membangunkan dengan menggerak-gerakkan tubuh Nabi dengan kakinya. Nabi terbangun lalu duduk. Namun tidak melihat apa-apa. Lantas tidur lagi.

Jibril datang lagi. Membangunkan seperti tadi. Nabi bangun tapi tidak melihat siapa-siapa. Kembali tidur. Ketiga kalinya saat Nabi duduk, Jibril memegang pundak Nabi. Kemudian berdiri bersama.

Jibril pergi menuju pintu Masjidilharam. Di sana terdapat hewan putih mirip baghal dan keledai. Di kedua paha hewan itu ada sayap. Hewan itu berjalan dengan mendorong kedua kakinya dengan sayapnya. Sekali langkah jauhnya di batas akhir pandangan mata.

Ketika Nabi mendekati untuk menaikinya, hewan itu menampakkan sikap tidak suka. Kemudian Jibril meletakkan tangannya di atas bulu lehernya.

Jibril berkata, ”Kenapa kamu tidak malu atas apa yang kamu perbuat, wahai Buraq? Demi Allah, kamu tidak pernah dinaiki hamba Allah yang lebih mulia di sisi Allah selain Muhammad.”

Buraq malu. Setelah itu, dia bersikap jinak. Kemudian Rasulullah menaikinya. Terbang bersama Jibril hingga tiba di Baitul Maqdis. Di sana Rasulullah bertemu Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa dalam kumpulan para nabi.

Baca Juga:  Isra Mikraj di SMK Pemuda Krian, Menyemai Akhlak Rasulullah bagi Generasi Muda

Kemudian Rasulullah mengimami ketika salat berjamaah dengan mereka. Usai salat, dua bejana didatangkan kepada Rasulullah. Satu bejana berisi khamr, satunya berisi susu. Rasulullah mengambil bejana berisi susu, lantas meminumnya.

Jibril berkata, ”Engkau diberi petunjuk kepada fitrah dan umatmu juga telah diberi petunjuk, wahai Muhammad, serta khamr diharamkan kepada kalian.” Setelah itu, Rasulullah balik lagi  ke Mekah.

Esok harinya, Rasulullah menemui orang-orang Quraisy Mekah dan menceritakan apa yang dialami kepada mereka.

Sebagian besar orang berkata,”Ini, demi Allah adalah sesuatu yang sangat aneh. Rombongan musafir yang jalannya cepat saja butuh waktu sebulan pergi dari Mekah ke Syam. Muhammad pergi ke sana dan pulang ke Mekah hanya dalam waktu semalam?”

Ash-Shiddiq

Beberapa orang muslim yang mendengar cerita itu menjadi murtad. Orang-orang Quraisy ada yang pergi kepada Abu Bakar.”Bagaimana pendapatmu tentang sahabatmu, wahai Abu Bakar? la mengaku pada malam ini pergi ke Baitul Maqdis dan salat di sana, kemudian pulang lagi ke Mekah.”

Abu Bakar bertanya,”Apakah kalian tidak mempercayai ceritanya?”

Mereka menjawab, ”Ya, betul. Dia di masjid sedang bercerita kepada orang-orang apa yang baru dialami tadi malam.”

Abu Bakar berkata,”Demi Allah, jika itu yang ia katakan, sesungguhnya ia berkata benar. Apa yang aneh bagi kalian? Demi Allah, sesungguhnya ia berkata kepadaku bahwa ceritanya itu datang kepadanya dari langit ke bumi hanya dalam waktu sesaat pada waktu malam atau sesaat pada waktu siang dan aku memercayainya. Inilah puncak keheranan kalian.”

Baca Juga:  Sai dan Isra Mikraj Dikupas dalam Pengajian Ini

Usai berkata itu, Abu Bakar berjalan menuju tempat Rasulullah. Abu Bakar bertanya, ”Wahai Nabi Allah, benarkah engkau telah bercerita kepada manusia, bahwa pada malam ini engkau pergi ke Baitul Maqdis?”

Rasulullah menjawab, ”Ya, betul.”

Abu Bakar berkata, ”Wahai Nabi Allah, ceritakan kepadaku ciri-ciri Baitul Maqdis, karena aku pernah pergi ke sana.”

Rasulullah menjelaskan ciri-ciri Baitul Maqdis kepada Abu Bakar. Setiap Nabi menjelaskan detail per bagian, Abu Bakar selalu berkata, ”Engkau berkata benar. Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”

Rasulullah lalu berkata,”Engkau wahai Abu Bakar adalah ash-Shiddiq (orang yang membenarkan).”

Sejak saat itulah, Abu Bakar dinamakan ash-Shiddiq. Karena langsung percaya dengan pengalaman Israk Mikraj Nabi Muhammad.

Setelah itu Allah menurunkan ayat tentang orang-orang Islam yang murtad karena peristiwa Isra Mikraj.

Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan pohon kayu yang terkutuk dalam al-Quran dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (Al-Isra’: 60).

Penyunting Sugeng Purwanto