
Inovasi Pamarsasi dan kotak Insaf jadi sorotan saat kunjungan LLSMS 2025. Tentunya dengan dukungan komitmen sekolah mengurangi sampah plastik demi lingkungan sehat.
Tagar.co — Momentum peninjauan lapangan dalam Lomba Lingkungan Sekolah Muhammadiyah Sehat (LLSMS) 2025 berlangsung gayeng, Selasa (29/7/2025) pagi. Di SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik—terkenal dengan branding terbarunya, Mugeb Primary School—Kepala Sekolah Fony Libriastuti, M.Si menjelaskan komunitas di sekolah ramah anak itu yang berperan mendukung kesehatan dan kebersihan lingkungan.
“Namanya Pamarsasi, bagian dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Junior. Bekerja tiap Jumat membantu dalam program Pekan Sedekah Sampah (Pedas). Kami berikan seragam khusus topi dan rompi,” terangnya. Smart Tv menampilkan foto Pamarsasi yang tengah semangat bertugas di area Ecowisata.
Dua juri yang hadir, Mohammad Nurfatoni—juri dari Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Gresik—bersama Tatik Erawati, juri dari Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PDM Gresik, menyimak. Fatoni kemudian menanyakan seragam khusus yang Pamarsasi gunakan.
“Itu rompi?” tanya bapak lima anak dan kakek dua cucu yang pakai rompi krem itu. Ia mengira anak-anak memakai seragam Hizbul Wathan (HW).
“Benar, itu rompi, Pak. Kalau Jumat anak-anak pakai busana muslim bebas,” terang Fony.
Baca Juga: Gedung Mugeb: Berusia 30 Tahun, Rasa 10 Tahun
Kotak Insaf
Berikutnya, ketika keliling di area lantai 1 depan kelas I, mereka tidak menemukan sampah berserakan. Kedua juri bersama kepala dan jajaran wakil kepala (Waka) Mugeb Primary School justru menemukan kotak kaca. Di depannya tertera tulisan Kotak Insaf, SD Mugeb peduli sampah.
Ada pula imbauan, “Masukkan sampah kemasan minuman kalian di sini!”
“Kita sediakan tempat sampah khusus, namanya Insaf, untuk menampung sampah plastik yang bisa recycle. Kami bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dalam program Pekan Sedekah Sampah (Pedas),” terang Fony.
Sementara itu, Waka Bidang Sarana Siswanto, S.Pd.I. menambahkan, “Sampah yang terkumpul, kami donasikan ke bank sampah.”
Kotak Insaf mereka letakkan pada beberapa titik strategis lantai 1 maupun lantai 2. Di antaranya, depan kelas II, depan kantin, dan depan kelas VI.
Baca Juga: Salam Hormat Polisi Cilik Mugeb Menyambut Juri LLSM
Itu bukan satu-satunya jenis tempat sampah. Di sekolah dengan 991 siswa itu, ada pula tempat sampah terpilah dengan dua warna bersebelahan: hijau untuk sampah organik dan kuning untuk sampah anorganik. “Begitu pemilahan sampah di sekolah kita,” terang Fony.
Dari sini Tatik menangkap masih ada sumber plastik yang kemungkinan dari bungkus makanan atau minuman. “Lebih baik mengurangi dari awal. Di kantin minimal kurangi bahkan hilangkan,” saran praktisi lingkungan itu.
Sejalan dengannya, Fatoni menegaskan, “Ke depan, kurangi plastik dari hulu. Jajan bekalnya masih mengandung plastik? Apakah wajib bawa tumbler dan tepak?”
Kata Fony, anak-anak terbiasa membawa tepak bekal makan siang. Namun isi jajannya kadang masih ada kemasan. Adapun tumbler, anak-anak memang biasa bawa karena sekolah menyediakan banyak galon untuk isi ulang air di titik dekat kantin.
Berdasarkan temuan lapangan itu, Tatik menyarankan, “Bundanya kasih tahu, bawa tumbler dan tepak makan maupun jajan supaya minim sampah.”

Kerja Sama Mitra untuk Minim Plastik
Bicara budaya minim sampah, kerja sama dengan berbagai pihak mutlak keharusan. Momentum itu sekaligus menjadi media sosialisasi terhadap Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) GKB sebagai mitra sekolah dalam memasok jajanan di kantin.
Tatik mengapresiasi keberadaan jajanan tanpa kemasan plastik. “Kurangi plastik kemasan makanan di kantin. Jadi gak ada sampah plastik. Lebih sehat juga untuk anak kita,” ujar ibu yang mengenakan rompi hijau bertuliskan MLH PDM Gresik dengan semboyan Resik dan Ijo (Rejo) di punggungnya.
Kemudian, Tatik juga menyarankan model kantin seperti prasmanan. “Lebih irit dan sehat. Sudah ada bunda-bunda wali siswa. Nanti dibantu Aisyiyah juga,” imbuhnya.
Fatoni memotivasi. “Kalau sudah jadi budaya akan luar biasa! Ini termasuk tanggung jawab moral kita kepada seribu anak. Kantin jadi proses pendidikan juga pembentukan budaya sehat,” jelasnya.
Di kantin yang tertempel pigora sertifikat halal, Waka Kesiswaan Rizka Navilah Safitri, S.Pd menunjukkan beberapa sertifikat halal kepada dewan juri. Sertifikat itu tertandatangani secara elektronik oleh Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal Muhammad Aqil Irham.
Di sana juga tertempel banyak imbauan. Seperti membuang sampah pada tempatnya. Pada banner itu juga tercantum hadist. “Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Ra berkata: Jika menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk sedekah, maka membuang sampah di jalan itu adalah dosa.”
Banner besar tertulis hadist adab ketika makan juga tertempel di dinding lainnya. Banner itu lengkap dengan foto ilustrasi siswa Mugeb yang biasa ikut Cooking Class. Adapula banner ajakan budaya antre. “Mari hormati hak teman lain,” ajakan ini juga tertera di bagian bawah.
Sementara juri berbincang dengan pemimpin sekolah dan penjaga kantin, siswa asyik makan sambil duduk di meja dan kursi yang tersedia. Sebagian mengantre membeli jajan. Di langit-langit atas mereka, banyak damar kurung—lentera khas Gresik karya siswa—menggantung. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












