FeatureUtama

Hindari Agama sebagai Entertainment, Pesan Haedar Nashir

25
×

Hindari Agama sebagai Entertainment, Pesan Haedar Nashir

Sebarkan artikel ini
Hindari agama sebagai entertainmen disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir
Haedar Nashir di acara media gathering Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Kantor Cik Ditiro No. 23, Kota Yogyakarta, Senin (30/12/2024).

Agama menjadi bahan entertainment menjadi sorotan Muhammadiyah. Dikhawatirkan misi dakwah sebagai hiburan semata.

Tagar.co – Hindari agama sebagai entertainment disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam acara media gathering refleksi akhir tahun bersama wartawan di Kantor Cik Ditiro No. 23, Kota Yogyakarta, Senin (30/12/2024).

Haedar Nashir mengatakan, organisasi dan para tokoh agama menjadi teladan dalam kehidupan publik dan tidak menjadikan agama sebagai lahan komoditas, politisasi, dan entertainment yang menghilangkan substansi dan fungsi luhur agama sebagai kanopi suci.

”Agama harus difungsikan secara aktual sebagai faktor motivatif, kreatif, sublimatif, liberatif, dan integratif dalam diri para pemeluknya di tengah kehidupan yang dijalaninya,” pesan Haedar Nashir agar hindari agama sebagai entertainment .

Karenanya, sambung dia, agama dan cara menyiarkan agama sangat tidak memadai manakala dikomodifikasikan menjadi serba entertainment, yang mendangkalkan pesan-pesan keagamaan substantif dan diganti dengan pesan-pesan hiburan yang artifisial di ruang publik.

Dia mengatakan, Tanwir Muhammadiyah di Kupang menyampaikan rekomendasi dalam kehidupan beragama yang menekankan pentingnya peran agama sebagai landasan penguatan karakter moral.

Baca Juga:  Haedar Nashir: Ekoteologi, Membangun tanpa Merusak Bumi

Khususnya dalam menghadapi fenomena negatif seperti bunuh diri, gangguan kesehatan mental, pinjaman online, judi online, dan pornografi.

Dia menekankan, pemerintah diharapkan menjadikan agama sebagai basis penguatan nilai dalam keluarga, komunitas, dan pendidikan guna membentuk masyarakat yang lebih baik dan sejahtera.

Selain itu, ujar dia, pentingnya moderasi beragama ditekankan untuk meningkatkan harmoni sosial dan budaya dalam mewujudkan kemakmuran spiritual.

”Pemerintah agar menjamin terciptanya keadaban di ruang publik, baik di dunia maya maupun nyata, dengan menekankan tanggung jawab pejabat publik, tokoh agama, dan influencers untuk menjadi contoh dalam kehidupan bermasyarakat yang multikultural,” tandas Haedar Nashir.

Respons terhadap masalah sosial, tutur dia, seperti perkawinan anak, kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta perceraian juga menjadi prioritas, dengan mendorong pemerintah untuk memperkuat ketahanan keluarga melalui nilai-nilai agama yang berkemajuan.

”Selamatkan generasi bangsa dari segala penyakit moral dan sosial yang menghancurkan masa depan Indonesia,” tandas guru besar sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto