Feature

Hangatnya Halalbihalal Warga RT 24: Dari Silaturahmi hingga Tausiah Penuh Makna

456
×

Hangatnya Halalbihalal Warga RT 24: Dari Silaturahmi hingga Tausiah Penuh Makna

Sebarkan artikel ini
Warga RT 24 mengikuti halalbihalal (Tagar.co/Istimewa)

Suasana hangat dan renyah mewarnai halalbihalal ibu-ibu warga RT 24 Wisma Sidojangkung. Tausiah menggugah tentang makna memaafkan menjadi napas acara yang menguatkan ikatan kebersamaan pascaramadan.

Tagar.co – Mendung menggantung di langit Sidojangkung, ketika azan Asar berkumandang, seolah menjadi pertanda akan datangnya sebuah pertemuan penuh kehangatan.

Di Balai RT 24/RW 07 Perumahan Wisma Sidojangkung Indah, Menganti, Gresik, Jawa Timur, suasana sore itu berbeda dari biasanya. Pengurus RT dan PKK sudah bersiap sejak pukul 15.00, merapikan meja, menata hidangan, dan memastikan segalanya siap menyambut tamu-tamu istimewa: ibu-ibu warga RT 24..

Mereka datang satu per satu, membawa senyum dan semangat kekeluargaan. Tepat pukul 16.00, acara halalbihalal dimulai. Lantunan ayat suci Al-Qur’an dari Surah An-Nisa 36 mengalun merdu dari suara Lailatul Khusnul, S.Pd., dengan sari tilawah oleh Indah Retno. Suasana pun menjadi khidmat dan hangat.

Baca juga: Sambut Ramadan, 120 Santri TPQ dan MTDA At-Taqwa Keliling Perumahan

Dwi Elok, istri Ketua RT 24 Sudarsono, menyampaikan rasa terima kasih atas terselenggaranya acara ini. “Saya sangat mengapresiasi kegiatan halalbihalal ini. Terima kasih kepada pengurus PKK yang telah mempersiapkan dengan baik. Biasanya saya tidak bisa hadir karena bekerja di Surabaya, tapi hari ini bertepatan dengan hari Ahad, saya bisa rawuh,” ungkapnya disambut tepuk tangan warga.

Ketua PKK RT 24, Sulikah, turut menyampaikan sambutan dengan penuh semangat. “Alhamdulillah sore ini luar biasa. Saya bahagia melihat antusiasme warga RT 24. Terima kasih juga atas dukungan untuk kas rohani, sehingga kegiatan ini bisa terlaksana,” ujarnya.

Baca Juga:  Studi Tiru KKMTs Gresik di MTs Almaarif 01 Singosari: Dua Hari yang Penuh Inspirasi
Tausiah oleh Ustazah Sofia Khoirun Nisa’, M.Pd. (Tagar.co/Istimewa)

Tausiah: Mengurai Kusut, Mencairkan Beku, Menghangatkan yang Panas

Suasana semakin hidup saat Ustazah Sofia Khoirun Nisa’, M.Pd., dari Kedamean, Gresik, naik ke panggung menyampaikan tausiah. Dengan gaya komunikatif dan penuh semangat, beliau menyapa ibu-ibu PKK dengan yel-yel ceria: “Aku… Memang… Cantik!” Serentak para hadirin menyahut dengan tawa dan senyum, membuka hati untuk menerima nasihat rohani.

“Halalbihalal sebenarnya adalah budaya khas Indonesia. Di negara Arab tidak ada tradisi ini,” buka Ustazah Nisa.

“Apa sih arti halalbihalal?” tanyanya, lalu menjelaskan dengan makna yang menyentuh. “Halalbihalal artinya mengurai sesuatu yang kusut dengan saling memaafkan, mencairkan yang beku dengan saling memaafkan, dan menghangatkan yang panas dengan saling memaafkan.”

Ia lalu mengajak hadirin untuk tidak menunda-nunda dalam meminta maaf. “Kapan halalbihalal dilakukan? Minta maaf dan memaafkan haruslah dilakukan segera, sesuai dengan firman Allah dalam Surah Ali Imran 133:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

Ustazah Nisa menjelaskan pula mengapa halalbihalal sangat penting. “Dengan saling memaafkan, kita akan menjadi hamba yang bertakwa. Apa cirinya orang bertakwa? Ada lima:

  • Orang yang mau berinfak di waktu lapang maupun sempit.

  • Orang yang mampu menahan amarah.

  • Orang yang mau memaafkan.

  • Orang yang terus berbuat baik.

  • Dan terakhir, orang yang bertaubat setelah berbuat keji atau zalim, lalu memohon ampun kepada Allah dan bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan itu.”

Baca Juga:  KKMTs 1 dan 6 Gelar Workshop Deep Learning Terintegrasi KBC untuk Guru Nonsertifikasi

Kelima ciri itu disebut dalam lanjutan ayat Surah Ali Imran 134–135, yang ia bacakan langsung di hadapan jamaah:

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan perbuatan dosanya itu, sedang mereka mengetahui.”

Silaturahmi, Jalan Menuju Rezeki dan Panjang Umur

Ustazah Nisa kemudian menutup tausiahnya dengan ajakan menjaga silaturahmi, karena silaturahmi adalah bagian dari sunnah Rasulullah Saw.

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Baca Juga:  KKMTs 1 dan 6 Gelar Workshop Deep Learning Terintegrasi KBC untuk Guru Nonsertifikasi

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia bersilaturahmi,” ujar beliau mengutip hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim.

Ia juga mengingatkan bahwa silaturahmi tidak cukup hanya dengan salaman sesekali. “Harus tawasul:

  • Ta’: tawadu’, punya tata krama dan tahu waktu yang tepat untuk berkunjung;

  • Wawu shad: wushul, adanya keterhubungan rasa dan kepedulian;

  • Lam: laa washal, artinya silaturahmi hendaknya dilakukan terus-menerus secara istilamah.”

Sebagai penutup, Ustazah Nisa menyampaikan pesan menyentuh: “Jangan sampai rahmat Allah terhalang karena di antara kita ada yang memutus tali silaturahmi.” Ia mengutip sabda Nabi Muhammad Saw.:

إِنَّ الرَّحْمَةَ لا تَنْزِلُ عَلَى قَوْمٍ فِيهِمْ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Sesungguhnya rahmat itu tidak turun kepada kaum yang di tengah-tengah mereka ada seorang yang memutuskan rahim.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

“Jadilah seperti sapu lidi. Sendiri mudah patah, tapi jika bersatu akan kuat dan mampu menyapu kebaikan,” tutupnya.

Momen Syawal, Semangat yang Terus Terawat

Acara halalbihalal ini bukan sekadar seremoni usai Ramadan. Ia menjadi jembatan penguat antarsesama, tempat menyiram benih kebersamaan agar tumbuh dalam kasih dan hormat.

Langit mulai gelap, namun cahaya persaudaraan tetap bersinar di Balai RT 24. Warga bersalaman, bertukar doa, dan menutup perjumpaan dengan semangat baru—untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dalam masyarakat yang lebih rukun.

Jurnalis Rokhana Oktiasari Penyunting Mohammad Nurfatoni