
Selama dua hari di Malang, para kepala madrasah Tsanawiyah Gresik menimba pengalaman baru, mempererat silaturahim, dan belajar langsung dari praktik manajemen MTs Almaarif 01 Singosari.
Tagar.co – Sabtu pagi, 6 September 2025, udara Gresik masih terasa sejuk ketika deretan bus meninggalkan kota membawa rombongan kepala madrasah menuju Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Sebanyak 150 kepala madrasah yang tergabung dalam Kelompok Kerja Madrasah Tsanawiyah (KKMTs) Kabupaten Gresik menempuh perjalanan dua hari yang tak sekadar wisata, melainkan sarana belajar dan berbagi pengalaman.
Tujuan mereka adalah MTs Almaarif 01 Singosari, sebuah madrasah swasta ternama yang dipilih sebagai lokasi studi tiru tahun ini.

Perjalanan yang Berkesan
Setibanya di Singosari, bus tidak bisa masuk ke lokasi sehingga rombongan transit di parkiran Kendedes. Dari sana, enam odong-odong disiapkan untuk mengantar para kepala madrasah menuju Yayasan Almaarif.
Suasana hangat terasa ketika para peserta, yang rata-rata sudah berusia di atas 30 tahun, tertawa bersama menikmati kendaraan sederhana yang biasanya dinaiki anak-anak.
Baca juga: Belajar Bermakna di Empat Kota: Study Tour MTs Darut Tauhid Sarat Kenangan dan Wawasan
Sepanjang perjalanan, pemandu menceritakan sejarah Yayasan Almaarif dan sembilan lembaga pendidikan yang berada di bawah naungannya.
Rombongan juga sempat berhenti sejenak di situs Candi Singosari, peninggalan Raja Ken Arok, sebelum akhirnya tiba di auditorium Yayasan Almaarif.

Benchmarking Study
Di serambi dan auditorium Yayasan Almaarif, rombongan disambut hangat oleh dewan guru dengan senyum ramah. Sejumlah siswa juga memamerkan karya unggulan mereka di stand masing-masing, mulai dari hasil kreativitas seni hingga produk pembelajaran. Sambil menunggu acara dimulai, panitia menyiapkan coffee break bagi para tamu.
Acara dibuka dengan penampilan lagu oleh Azkiya Nur Ramadhani, siswi kelas VII yang memiliki suara merdu. Azkiya bukan siswa biasa—ia kerap menjuarai lomba qiraah di tingkat kabupaten dan provinsi. Setelah itu, tepat pukul 11.00 WIB, acara resmi dimulai. Muhammad Rofiq, S.Pd.I., bertindak sebagai pembawa acara. Dengan gaya lugas dan penuh semangat, ia menghidupkan suasana sejak awal.
Suasana khidmat tercipta ketika Azkiya kembali tampil membacakan Kalam Ilahi dari surat Al-Mujadilah. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penampilan live drawing yang dipadukan dengan atraksi siswa dari kelas tahfiz, multibahasa, hingga olahraga, sehingga suasana semakin semarak dan penuh energi positif.

Sambutan dan Pesan
Sambutan pertama disampaikan oleh Masfufah, M.Pd., Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kabupaten Gresik. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi kepada KKMTs Gresik yang telah memfasilitasi kegiatan studi tiru bagi para kepala madrasah.
“Silaturahim akan menjalin persaudaraan antarmadrasah. Sesuai SK Dirjen Pendis, fungsi dan peran KKM salah satunya adalah meningkatkan kompetensi kepala madrasah,” ujarnya.
Ia menambahkan, studi tiru diharapkan dapat memperkuat empat kompetensi utama kepala madrasah: profesionalisme, kewirausahaan, manajerial, dan supervisi. Empat hal tersebut diyakini akan berdampak pada peningkatan prestasi madrasah, guru, maupun siswa.
Masfufah juga menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Almaarif yang telah berkenan menerima rombongan KKMTs Gresik. Ia menilai penyambutan yang diberikan sangat luar biasa, mulai dari penjemputan dengan odong-odong, berkeliling sembilan lembaga di bawah naungan yayasan, hingga pengaturan teknis yang rapi sehingga tamu tidak merasa kebingungan.
“Kita harus memulai perubahan dari diri sendiri, bahkan dari hal-hal kecil, seperti cara menyambut tamu, pengelolaan, hingga penampilan lembaga. Semua ini bisa kita adopsi dan terapkan di madrasah masing-masing,” pesannya.

Sambutan Kepala Kemenag Malang dan Ketua Yayasan Almaarif
Sambutan berikutnya disampaikan Kepala Kementerian Agama Kota Malang, Drs. Sahid, M.M. Ia mengawali dengan sebait pantun yang mengundang senyum hadirin:
Jenang Asyura enak rasanya
adanya hanya di bulan Muharam
Sungguh bahagia hati saya
karena hadirnya Bu Masfufah dan rombongan
Sahid yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Kemenag Kabupaten Gresik itu menyampaikan apresiasi atas penampilan siswa MTs Almaarif. “Penampilan dari siswa sangat luar biasa, mulai dari live drawing, tahfiz, multibahasa, hingga olahraga,” ujarnya.
Ia menambahkan, di balik anak-anak hebat tentu ada orang tua yang hebat pula. Sahid juga menyinggung sejarah berdirinya MTs Almaarif yang didirikan tokoh-tokoh besar seperti K.H. Maskur dan Prof. K.H. Thoha. Kini, lembaga ini berkembang menjadi semacam miniatur nasional karena siswanya berasal dari berbagai daerah dan pondok pesantren di sekitar Singosari.
Ketua Yayasan Pendidikan Almaarif, H. Mohon Anas Noor, S.H., M.H., juga berkesempatan memberikan sambutan. Dengan penuh semangat, ia menegaskan bahwa setiap kemauan pasti ada jalan.
“Kita harus rutin mengadakan pertemuan, pembinaan, dan membangun sistem,” pesannya. Ia menjelaskan, surat keputusan (SK) guru di yayasan dibuat dua tahunan. Jika ada guru yang loyalitasnya menurun, maka SK dapat ditinjau kembali, disertai komunikasi untuk mencari penyebabnya.
Menurutnya, perkembangan lembaga sangat ditentukan oleh kerukunan internal. “Kalau tidak rukun, justru akan menjadi sumber energi negatif. Maka diperlukan keikhlasan, kerukunan, dan kesabaran,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa disiplin bukan hanya soal waktu, tetapi juga sikap menghindari paham atau aliran yang menyimpang, serta membiasakan diri bersikap terbuka dan komunikatif.

Penguatan Kerja Kepala Madrasah
Materi inti kegiatan studi tiru disampaikan oleh Prof. Dr. H. Maskuri Bakri, M.Si., salah satu dewan pembina Yayasan Pendidikan Almaarif sekaligus guru besar UNISMA. Ia mengingatkan bahwa kepala madrasah harus memiliki program yang adaptif.
“Kalau hanya mengadopsi tanpa kreativitas, madrasah tidak akan berkembang,” ujarnya membuka materi.
Tema yang dibawakan adalah Sustainable Manajemen Madrasah di Era Destruktif. Menurutnya, seorang kepala madrasah perlu melakukan riyadhoh atau latihan spiritual, misalnya dengan berpuasa Senin-Kamis, memperbanyak membaca Al-Qur’an, bersalawat, tidak malu untuk berkonsultasi, dan terus belajar.
Prof. Maskuri menjelaskan bahwa tantangan era global—yang ia sebut era destruktif—sangat kompleks. Tantangan tersebut meliputi perubahan geopolitik, geoekonomi, demografi dunia, urbanisasi, keuangan global, perdagangan internasional, kelas pendapatan menengah, persaingan sumber daya alam, perubahan iklim, serta kemajuan teknologi.
Di tingkat nasional, tantangan itu berupa demokratisasi dan transformasi sosial, kesenjangan sosial, kebutuhan dasar pangan, hingga keterbatasan infrastruktur.
Menurutnya, modal yang harus dimiliki kepala madrasah agar siap menghadapi masa depan adalah kecerdasan intelektual, kemampuan manajerial, keterampilan sosial, literasi teknologi informasi, jejaring, dan kekuatan spiritual. “Jangan sering mengeluh. Kita harus bisa membangun kemitraan dengan lingkungan dan lembaga sekitar,” pesannya.
Strategi Madrasah Merespons Masa Depan
Prof. Maskuri merinci langkah strategis agar madrasah mampu menghadapi era digital:
-
Komitmen meningkatkan investasi dalam pengembangan keterampilan digital.
-
Selalu mencoba dan menerapkan prototipe teknologi terbaru dengan prinsip learn by doing.
-
Menggali bentuk kolaborasi baru dalam sertifikasi dan pendidikan berbasis keterampilan digital.
-
Mengembangkan kerja sama antara dunia industri, pendidikan, dan masyarakat untuk mengidentifikasi kebutuhan keterampilan masa depan.
-
Menyusun kurikulum yang marketable serta memasukkan materi terkait keterampilan digital manusiawi (human digital skills).
Orientasi strategis tersebut, lanjutnya, harus berujung pada lahirnya madrasah yang berkualitas dengan sumber daya manusia yang profesional, terampil, serta mampu melakukan penelitian, pengembangan, dan inovasi. “Leadership adalah penentu perubahan dan daya saing madrasah,” tegasnya.
Mengakhiri materi, ia mengutip firman Allah dalam Ar-Ra’d ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
Dalam sesi tanya jawab, Kepala MTs Almaarif 01 Singosari, Dwi Retno Palupi, M.Pd., menekankan pentingnya pengelolaan kelas. Ia menyarankan adanya kelas khusus peminatan serta pembiasaan siswa tampil di panggung agar terlatih meraih prestasi.
Kegiatan studi tiru ditutup dengan tukar kenang-kenangan antara KKMTs Kabupaten Gresik dan Yayasan Almaarif, dilanjutkan foto bersama, serta ramah tamah sambil menikmati hidangan prasmanan yang telah disiapkan panitia.

Momen Kebersamaan
Acara resmi diakhiri dengan tukar kenang-kenangan, foto bersama, dan ramah tamah. Sore harinya, rombongan menuju Hotel Selecta, Batu. Malam yang dingin diisi dengan sesi berbagi pengalaman yang penuh kehangatan.
Keesokan pagi, setelah sarapan, para kepala madrasah menikmati indahnya Taman Wisata Selecta dengan bunga warna-warni dan berbagai spot foto. Menjelang siang, rombongan check-out, berbelanja oleh-oleh khas Malang, lalu kembali ke Gresik.
Dua hari studi tiru itu meninggalkan kesan mendalam: ilmu yang memperkaya, kebersamaan yang menguatkan, dan pengalaman yang akan dibawa pulang untuk memajukan madrasah di tanah Gresik. (#)
Jurnalis Rokhana Oktiasari Penyunting Mohammad Nurfatoni












