Feature

Hamka dan Westernisasi Indonesia: Buku Karya Cicit Buya Hamka Diluncurkan di Malaysia

50
×

Hamka dan Westernisasi Indonesia: Buku Karya Cicit Buya Hamka Diluncurkan di Malaysia

Sebarkan artikel ini
Farrel A. Wijaksana dalam peluncuran buku Hamka dan Westernisasi Indonesia, di Rumah Hamka Malaysia, Sabtu (15/11/25) (Tagar.co/Mundzirin Mukhtar)

Di usia 18 tahun, Farrel A. Wijaksana menulis buku tentang Buya Hamka. Peluncurannya di Rumah Hamka Malaysia menghidupkan kembali pemikiran sang buyut, mengajak generasi muda memahami relevansi dan semangatnya di era modern.

Tagar.co – Rumah Hamka di Malaysia dipenuhi semangat literasi pada Sabtu, 16 November 2025. Hari itu menjadi saksi peluncuran buku Hamka dan Westernisasi Indonesia, karya Farrel A. Wijaksana, cicit Buya Hamka. Ibunya, Irma Fakhri,
adalah anak Fakhri Hamka.

Buku ini menghadirkan perspektif baru tentang pemikiran sang tokoh besar Muhammadiyah, sekaligus menegaskan relevansi pemikiran Buya Hamka di era modern.

Baca juga: Rumah Hamka Malaysia Diresmikan: Simbol Persatuan, Obor Dakwah di Negeri Jiran

Farrel membuka kisahnya dengan kenangan masa kecil tentang buyutnya. “Saya mengenal Buya Hamka, bukan dari foto-fotonya, melainkan dari radio yang menyiarkan ceramahnya. Waktu itu saya masih SD. Meski belum mengerti isi ceramahnya, saya merasa adem banget,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, “Saya tanya kepada ibu, ‘Bu, ini siapa sih?’ Ibu bilang, ‘Itu buyut kamu.’ Dari situlah saya mulai mengenal Buya Hamka.”

Baca Juga:  MPI PCIM Malaysia Gelar Podcast Perdana, Kupas Jejak Organisasi hingga Arah Baru

Kecintaan Farrel terhadap pemikiran Buya Hamka semakin tumbuh seiring waktu. Ia menceritakan, ketika masih kelas 3 SMP, ia singgah di Yogyakarta untuk membeli oleh-oleh setelah pulang dari rekreasi.

Berpisah dari rombongan, Farrel diajak ustaz pembimbing ke Toko Suara Muhammadiyah. Di sanalah ia menemukan buku karya Khairudin Aljunied, Hamka and Islam: Cosmopolitan Reform in the Malay World.

“Saya sangat tertarik. Orang luar Indonesia saja bisa mengkaji pemikiran Buya Hamka dengan begitu canggih. Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa buku yang bagus bisa membentuk kepribadian seseorang,” ujarnya.

Suasana peluncuran buku Hamka dan Westernisasi Indonesia, karya Farrel A. Wijaksana, di Rumah Hamka Malaysia, Sabtu (15/11/25) (Tagar.co/Mundzirin Mukhtar)

Ketua PCIM Malaysia, H. Fauzi Fatkhur, menyambut baik peluncuran buku ini. Ia menjelaskan bahwa Rumah Hamka didirikan untuk kemaslahatan umat, sehingga kegiatan seperti peluncuran buku sangat diapresiasi.

Menurut Fauzi, pemilihan nama “Rumah Hamka” juga tepat agar Buya Hamka lebih dikenal luas di Malaysia.

Fauzi juga mengagumi prestasi Farrel yang berhasil menulis karya hebat di usia muda. “Ini kebanggaan kita semua. Cicit dari tokoh Muhammadiyah yang sangat bertalenta, mewarisi semangat buyutnya. Melalui diskusi buku Farrel, kami berharap para hadirin bisa belajar dan mengambil hikmah,” ujarnya.

Baca Juga:  Reuni Akbar PCIM–PCIA Malaysia: Merawat Ikatan yang Tak Pernah Putus

Tak hanya pandai menulis, Farrel yang baru berusia 18 tahun juga ahli bela diri serta mahir bermain gitar, piano, dan drum. Hal ini diungkapkan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Dr. Adian Husaini.

Di Pesantren At-Taqwa, siswa memang memiliki tradisi membuat makalah. Dr. Adian Husaini menjelaskan, sebenarnya usia 15 tahun pada zaman Nabi sudah dianggap dewasa.

Ia menambahkan, Buya Hamka sendiri pada usia 16 tahun sudah merantau ke Yogyakarta untuk berguru dan mengaplikasikan ilmunya. “Apa yang ditulis Farrel bukan sekadar hobi, tetapi pemikiran yang memberikan solusi,” jelasnya.

Peserta peluncuran buku Hamka dan Westernisasi Indonesia, di Rumah Hamka Malaysia, Sabtu (15/11/25) (Tagar.co/Mundzirin Mukhtar)

Diskusi buku ini turut menghadirkan narasumber lain, yaitu Penasihat PCIM Malaysia, Dr. Arifin Ismail, dan Dosen Pesantren At-Taqwa Dr. Akmal Sjafril,

Dr. Arifin Ismail mengungkapkan kebanggaannya terhadap Farrel. “Alhamdulillah, ada cicit Buya Hamka yang mewarisi semangat buyutnya. Buya Hamka haus akan ilmu. Umumnya sekolah menambah pengetahuan, tapi Buya Hamka belajar saat mengajar dan menulis, bahkan ketika di penjara menyelesaikan Tafsir Al-Azhar,” katanya.

Baca Juga:  Silaturahmi Diaspora Wotan di Malaysia, Kepala Desa Hadir Perkuat Ikatan Warga

Ia menambahkan, Buya Hamka adalah sosok unggul: Alimun (alim), mufakkir (pemikir), mufarrik (penggerak), dan mujahid (pejuang).

Sementara itu, Dr. Akmal Sjafril menekankan pentingnya mengenal Buya Hamka bagi generasi muda.

“Buya Hamka memiliki banyak karya tulis, sehingga mudah dicari. Selain akademisi, beliau juga sastrawan, sehingga tulisannya enak dibaca. Anak-anak muda perlu memahami latar belakang beliau sebagai manusia biasa, sehingga tidak ada halangan bagi siapa pun untuk terus belajar dan berjuang di jalan Allah,” ujarnya.

Peluncuran buku ini bukan sekadar perayaan karya Farrel A. Wijaksana, tetapi juga menjadi ajang inspirasi, menegaskan bahwa semangat Buya Hamka tetap hidup melalui generasi penerusnya. (#)

Jurnalis Mundzirin Mukhtar Penyunting Mohammad Nurfatoni