
Peresmian Rumah Hamka Malaysia di Gombak, Selangor, menghadirkan nuansa khidmat. Dari lagu kebangsaan hingga pesan persatuan, rumah ini diharapkan menjadi pusat dakwah dan perlindungan bagi warga Indonesia di Malaysia.
Tagar.co — Suasana khidmat menyelimuti aula sederhana di Batu Caves, Gombak, Selangor, Malaysia Ahad (14/9/2025). Lagu kebangsaan Malaysia Negaraku bergema, disusul Indonesia Raya.
Dua lagu itu seakan menjembatani rasa kebangsaan lintas negara. Tidak berhenti di situ, hadirin juga ikut larut ketika Sang Surya dan Mars Aisyiyah dinyanyikan bersama, menandai babak baru lahirnya pusat dakwah yang diberi nama Rumah Hamka Malaysia.
Peresmian Penuh Simbol
Momen puncak peresmian berlangsung ketika Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman, M.Kes., Sp.S., menorehkan tanda tangan dengan tinta ‘emas’ di atas prasasti hitam berornamen.
Ia tampak ‘khusyuk’, dikelilingi para pejabat dan tokoh Muhammadiyah dan undangan yang berdiri menyaksikan dengan wajah penuh harap.
Baca juga: Rumah Hamka Jadi Saksi, Suara Muhammadiyah–PCIM Malaysia Perkuat Sinergi
Sebuah meja kecil berlapis taplak hijau bermotif lambang Muhammadiyah menjadi saksi sejarah, sementara kamera ponsel para hadirin mengabadikan detik bersejarah itu. Tepuk tangan hadirin pun bergemuruh begitu prasasti selesai ditandatangani.
Di sisi lain ruangan, kursi-kursi putih yang tersusun rapi dipenuhi ratusan tamu undangan. Mereka mengenakan batik dan busana muslim beragam warna, sebagian besar berpadu dengan peci hitam khas acara resmi.
Meja-meja kecil beralas taplak hijau dihiasi botol air mineral, buah potong, dan kue tradisional, menghadirkan suasana sederhana tetapi hangat.

PCIM Malaysia Resmi Berbadan Hukum
Rumah ini diinisiasi oleh Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia yang baru saja resmi berbadan hukum dan terdaftar di Kerajaan Malaysia.
“PCIM Malaysia telah sah secara hukum dan mendapat dukungan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah,” ujar Setia Usaha sekaligus pengacara PCIM Malaysia, Dr. Khalid Walid.
Ia menegaskan bahwa Rumah Hamka akan menjadi titik awal aktivitas organisasi sekaligus wadah untuk menjalin kerja sama dengan majelis agama Islam setempat.
Simbol Persatuan dan Dakwah
Ketua PCIM Malaysia, H. Fauzi Fatkhur, dengan wajah haru menyampaikan rasa syukur atas kehadiran sekitar 200 tamu undangan. Mereka terdiri dari pimpinan Muhammadiyah dari berbagai level, perwakilan KBRI, pejabat negeri Selangor, hingga tokoh-tokoh agama setempat.
“Syukur Alhamdulillah kita bisa memiliki Rumah Hamka ini. Nama besar Buya Hamka kami jadikan simbol persatuan dan dakwah. Kami memakai falsafah di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jika keberadaan kami menimbulkan ketidaknyamanan, tegurlah kami,” tutur Fauzi dengan rendah hati.

Dukungan Pemerintah Indonesia
Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia, Danang Waksito, menyatakan kebanggaannya bisa hadir. Ia menilai Rumah Hamka bukan hanya pusat dakwah, tetapi juga berpotensi menjadi tempat pembinaan dan perlindungan bagi warga negara Indonesia di Malaysia.
“Sesuai tema peresmian Menyalakan Obor Ilmu, Melanjutkan Warisan Perjuangan, rumah ini adalah ikhtiar bersama untuk terus meningkatkan ilmu. Buya Hamka bukan sekadar ulama besar, tetapi juga sastrawan yang warisannya lintas generasi,” kata Danang.
Ia berharap Rumah Hamka terbuka untuk kolaborasi dengan KBRI, khususnya dalam membina warga negara Indonesia.

Pesan Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Dalam ceramahnya, dr. Agus Taufiqurrahman menekankan pentingnya membangun persatuan dengan keikhlasan.
“Buya Hamka selalu berpesan, biasakan melihat persamaan, jangan mempertajam perbedaan. Persatuan lahir dari keikhlasan, bukan hanya formalitas. Meski manusia berbeda, dengan ikhlas kita bisa membangun persaudaraan yang kokoh,” ujarnya.
Ia berpesan agar Rumah Hamka benar-benar dimaksimalkan fungsinya. “Rumah ini sudah berdiri, tinggal bagaimana menghadirkan dampak nyata. Mari PCIM dan PCIA bersama-sama menghadirkan wajah Islam yang indah dengan spirit Buya Hamka,” tambahnya.
Peresmian Rumah Hamka dihadiri berbagai pihak: pejabat Menteri Besar Selangor, Presiden Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), Pimpinan Wahdah, Pimpinan An-Nida, tokoh agama setempat, perwakilan KBRI, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, PWM Jawa Timur, PDM Gresik, PDM Sidoarjo, GP Ansor Malaysia, hingga Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Malaysia. (#)
Jurnalis Mundzirin Mukhtar Penyunting Mohammad Nurfatoni












