
Ribuan tempe wedok diarak warga RW 01 Labruk Kidul, Sumbersuko, Lumajang dalam tradisi baru sambut Muharam. Kuliner lokal jadi simbol kebangkitan budaya, gotong royong, dan regenerasi.
Tagar.co – Suasana RW 01 Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (26/6/2025) malam, jauh dari biasa. Ribuan orang tumpah ruah ke jalan, lampion menyala di sepanjang rute, lantunan selawat menggema, dan aroma tempe menyusup di antara udara musim kemarau.
Semua berkumpul menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharam 1447, lewat sebuah tradisi baru: Grebek Tempe Wedok.
Baca juga: Refleksi Tahun Baru 1447: Lima Tantangan Umat Islam
Tak tanggung-tanggung, sebanyak 5000 potong tempe wedok—kuliner khas desa itu—yang dissun berbentuk sebuah tugu, diarak keliling kampung. Pawai dimulai dari RW 01, menyusuri RW 02, RW 03, RW 04, lalu kembali ke titik awal.
Setiap RT, dari 01 hingga 07, terlibat penuh: dari produksi tempe, persiapan konsumsi, dekorasi, hingga penyediaan sound system dan kembang api.
“Ini bukan sekadar kirab. Ini gerakan budaya,” tegas Muhammad Rudi, Ketua RW 01 sekaligus Ketua Panitia. “Tempe wedok ini warisan kita yang mulai dilupakan. Rasanya khas, pembuatannya alami, dan kami ingin generasi muda ikut bangga dan melestarikan.”

Tak Sekadar Tempe
Tempe wedok berbeda dari tempe biasa. Ia dibungkus pelepah pisang klutuk dan daun pisang—bukan plastik—dan dibuat dari 100 persen kedelai murni. Hasilnya, aroma lebih harum, rasa lebih gurih, dan tentu lebih ramah lingkungan.
Duisebut tempe wdok (perempuan) karena cara Membungkusnyaseperti seorang perempuan sedangg memakai jarik. Setelah itu, diikat menggunakan tali dari pelepah pisang. Ibaratnya seperti perempuan memakai jarik dan diikat pakai udet (selendang)
“Sekarang tinggal saya sama Bu Bawon yang masih produksi,” ujar Bu Khasanah (70), salah satu perajin legendaris tempe wedok di RW 01. “Kami mulai bikin sejak sepekan sebelum acara. Lembur tiap malam bareng ibu-ibu demi nyiapin lima ribu potong. Capek? Iya. Tapi senang, Mas.”
Rasa cinta pada kuliner lokal itu pula yang mendorong warga sepakat mengadakan Grebek Tempe Wedok untuk pertama kalinya. Rapat perdana panitia digelar pada Sabtu (4/5/2025). Sejak itu, kerja kolektif warga pun dimulai. Tak hanya para ibu, para pemuda juga bergerak di lini digital.

Selawat, Lampion, dan Letupan Sukacita
Kirab malam menjadi puncak kemeriahan. Warga berjalan sambil membawa lampion, spanduk bertema Muharam, dan iringan selawat. Sesekali terdengar letusan kembang api sederhana yang membuat anak-anak bersorak girang.
“Senang bisa ikut terlibat. Ratusan orang sampai berebut tempe yang sudah dihias. Seru banget,” ujar Mas’idah, warga setempat, sambil tertawa.
Para pemuda tak mau ketinggalan. Mereka menggarap publikasi acara lewat TikTok dan Instagram, mendokumentasikan kirab, serta membuat konten promosi tempe wedok ke luar desa.
“Kita bantu viralin ini. Soalnya tempenya beda, bungkusnya unik, rasanya mantap. Sayang kalau cuma dikenal di sini,” ujar Alvin, anggota Karang Taruna RW 01 yang turut ikut kirab.

Swadaya dan Semangat Warga
Tak ada sponsor besar. Seluruh biaya acara ditanggung secara swadaya oleh warga RW 01, ditambah dukungan dari masing-masing RT. Gotong royong menjadi kunci keberhasilan acara ini.
“Ini bukan sekadar acara, tapi bentuk cinta pada budaya sendiri,” lanjut Rudi. “Kalau kita sendiri nggak bangga, siapa lagi yang mau melestarikan?”
Tempe wedok sejatinya sudah lama menjadi ikon kuliner wilayah timur RW 01. Namun, selama ini popularitasnya tenggelam karena minim promosi. Grebek Tempe Wedok hadir sebagai upaya kebangkitan identitas lokal. Warga berharap acara ini bisa menjadi agenda tahunan dan tempe wedok bisa naik kelas menjadi produk unggulan desa.
“Tempe wedok ini bukan cuma makanan,” kata Rudi, “Ia adalah jati diri. Dan hari ini, kita mulai menyalakan kembali nyalanya.” (#)
Jurnalis Rizal Mazaki Penyunting Mohammad Nurfatoni












