Feature

Drama Ungu Emak-Emak ESC Mumtas: Dari Berburu Baju hingga Kardus Snack

59
×

Drama Ungu Emak-Emak ESC Mumtas: Dari Berburu Baju hingga Kardus Snack

Sebarkan artikel ini
Pembina ESC Mumtas membawa pasokan pangan setelah selamat dari badai langit untuk dibawa ke Kampung Pare Kediri (Tagar.co/Niken AH)

Demi keberangkatan anak-anak ke Kampung Inggris Pare, emak-emak ESC Mumtas rela berjibaku: berburu baju ungu, berbagi link Shopee, hingga mengangkut kardus snack kehujanan. Beginilah cinta lucu dan tangguh mereka!

Tagar.co — Siapa sangka, satu pengumuman sederhana bisa memantik kegaduhan penuh warna di grup WhatsApp emak-emak ESC Mumtas? Ya, warna itu adalah ungu! Begitu diumumkan bahwa dress code untuk keberangkatan ke Kampung Inggris Pare adalah kaos ungu, suasana grup langsung meledak bak pasar malam—ramai, riuh, penuh tawa.

“Kok bisa ya ustazah tahu saya suka warna ungu? Bisa nih buat alasan beliin Fakhri kaos baru,” celetuk Mama Fitri, nama panggilan Fitri Kurniawati, sambil menyisipkan lima emoji senyum berjajar. Langsung saja disambut Mama Lea alias Syeni Guretno Piesesha “Mamae Fakhri ngidam ungu iki!” lengkap dengan derai stiker emak-emak paling ikonik.

Baca juga: Dua Hari Jadi Santri Pesad: Siswa SD Mumtas Belajar Kitab Kuning, Menyusuri Jalan Ulama

Tapi tentu tak semua langsung hepi. Ada yang langsung masuk fase panik. “Miss… Kalau cewek mah gampang, bajunya banyak! Lah cari kaos ungu lengan panjang buat cowok? Ujian berat, Miss! Udah ubek-ubek Shopee, belum nemu,” keluh Niken Nindya Sari atau dipanggil Mama Hafidz.

Baca Juga:  Haedar Nashir: Kader Muhammadiyah Tak Perlu Takut Berkompetisi

Tak butuh lama, solidaritas emak-emak pun terjun: berbagi link, foto, voucher gratis ongkir — semua demi misi menemukan “kaos ungu Mirceu”. Dan akhirny ketemu juga! Mama Atta melapor dengan bangga: “Alhamdulillah ketemu warna Mirceu, Ma!”

Pasukan Ungu yang tergabung dalam extra English Studi Club (ESC Mumtas) menuju kendaraan di depan sekolah setelah mendapatkan pengarahan pengarahan dari mentor ESC Mumtas di masjid Jendral A. Yani Sidoyoso (Tagar.co/Halimatuz Zuhriyah)

Drama tak berhenti di soal baju. Sehari sebelum keberangkatan, emak-emak ESC berubah jadi pasukan logistik. Mulai packing baju, alat mandi, bekal, snack, bahkan ada yang sembunyi-sembunyi supaya koper nggak dibongkar ulang oleh anak.

Sementara itu, para pembina ESC Mumtas berjibaku dari sisi lain: cari bus? Kelar. Fotografer? Siap. Kardus snack? Ini paling seru— ada yang rela kehujanan, kardus snack digendong di atas motor, demi memastikan bekal anak-anak aman dari badai langit. Pahlawan tanpa jas hujan, sungguh!

Sabtu, 24 Mei 2025, akhirnya tiba. Sebanyak 47 siswa English Studi Club (ESC) ekskul Bahasia Inggris Inggris Mumtas berkumpul di halaman SD Muhammadiyah 10 (SD Mumtas) Surabaya, Jalan Sidoyoso IX/14-16. Berbaris rapi, mengenakan seragam ungu penuh perjuangan. Mata emak-emak berbinar, hati dag-dig-dug, haru bercampur bangga. Foto-foto diabadikan, pelukan diberikan, lambaian tangan diiringi titipan pesan: “Kalau lapar di jalan ya, Nak, makan snack-nya…”

Baca Juga:  Mumtas Festival 2026, Ratusan Anak TK Tampil Penuh Percaya Diri

“Semoga anak-anak sehat, bahagia, dan pulang bawa cerita hebat!” ucap Mama Yuliana Nugroho sambil menyeka ujung matanya.

Di balik senyum ceria anak-anak, ada barisan emak-emak tangguh, lucu, penuh cinta, dan tentu saja… penuh kepo yang menghangatkan suasana ESC Mumtas. Kampung Inggris Pare, siap-siap! Pasukan ungu Surabaya datang membawa semangat yang membara.

Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni