Feature

Disertasi Dosen UMM Bongkar Dampak Budaya K-Pop: Antara Ekspresi dan Ancaman Identitas

30
×

Disertasi Dosen UMM Bongkar Dampak Budaya K-Pop: Antara Ekspresi dan Ancaman Identitas

Sebarkan artikel ini
Nurudin (berdiri, kanan)

K-Pop bukan cuma soal musik dan idola. Di tangan Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi UMM, fenomena ini diteliti lebih dalam: bagaimana budaya Korea memengaruhi identitas generasi muda Indonesia, bahkan bisa membentuk bentuk baru dari imperialisme budaya yang halus namun masif.

Tagar.co — Korean Pop (K-Pop) tak lagi sekadar genre musik dari Korea Selatan. Ia telah menjelma menjadi budaya global yang memengaruhi cara berpikir, bertindak, hingga membentuk identitas sosial para penggemarnya di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Fenomena ini menjadi fokus penelitian disertasi Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang dipaparkan dalam ujian terbuka promosi doktor di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 Pascasarjana UMM, Selasa (23/7/2025).

Baca juga: Berbekal Bibit Tanaman, UMM Berangkatkan 3.010 Mahasiswa KKN Berdampak ke Pelosok Negeri

Dalam disertasi berjudul “Pembentukan Identitas Sosial Generasi Muda pada Komunitas K-Popers (Studi Netnografi pada Nctzenmalang.idn)”, Nurudin meneliti bagaimana K-Pop membentuk identitas sosial baru di kalangan penggemarnya, terutama generasi muda.

“K-Pop telah membentuk identitas sosial baru K-Popers (penggemar) yang diidentifikasi dari budaya Korea. Identitas sosial generasi muda terbentuk melalui proses identifikasi sosial mereka terhadap komunitas yang diikuti. Semakin kuat rasa keterikatan dan kesamaan terhadap kelompok, maka semakin kuat pula identitas sosial yang mereka bangun,” ungkap Nurudin.

Baca Juga:  Paradoks Keberagamaan: Ibadah Ramai, Moral Sosial Melemah

Menurutnya, budaya Korea yang dibawa melalui K-Pop mengakibatkan para penggemar meniru ide, atribut, hingga perilaku yang merepresentasikan budaya Korea.

“Serba Korea yang dipengaruhi oleh K-Pop pada akhirnya akan membuat K-Popers serba meniru ide, atribut, dan perilaku yang merepresentasikan budaya Korea. Budaya pada generasi muda K-Popers berubah dan mengikuti budaya Korea. Di sinilah akan muncul imperialisme budaya baru. Generasi muda secara halus akan terjajah oleh budaya Korea. Budaya Korea yang menjajah tersebut akhirnya membentuk sebuah identitas sosial baru,” jelasnya.

Namun, Nurudin juga menemukan sisi positif dari komunitas K-Popers yang kini tumbuh menjadi kekuatan strategis sosial. “Mereka tidak lagi hanya sekumpulan generasi muda yang mencari dan melampiaskan hiburan musik negeri ginseng. Komunitas K-Popers juga pernah terlibat dalam proses penggalangan dana kemanusiaan,” ujarnya.

Ia mencontohkan keterlibatan penggemar K-Pop saat tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 131 orang pada Oktober 2022. Komunitas penggemar NCT, salah satu boyband Korea, berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp340 juta hanya dalam waktu 24 jam melalui platform Kitabisa.com. “Ini kan luar biasa?” tambah Nurudin.

Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

Menanggapi hasil penelitian ini, Promotor sekaligus guru besar UMM, Prof. Oman Sukmana, menyarankan agar institusi pendidikan, media, dan pemerintah tidak memandang fenomena K-Popers hanya sebagai budaya populer semata.

“Dampak negatif memang akan ada, termasuk imperialisme budaya Korea. Namun bagaimana sebaiknya hasil penelitian ini bisa dijadikan dasar kebijakan agar dampak yang tidak diinginkan tak terjadi. Karena fenomena K-Pop ini sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Kita hanya bisa mengantisipasinya,” jelasnya.

Penelitian yang dilakukan dengan metode studi netnografi dan wawancara mendalam terhadap komunitas penggemar NCT di Malang ini menyimpulkan bahwa identitas sosial baru yang terbentuk di kalangan K-Popers dapat menjadi kekuatan strategis dalam mendorong perubahan sosial yang positif—jika diarahkan dengan bijak. (*)

Penyunting Mohammad Nurfatoni