
Dalam forum Paramadina Institute for Ethics and Civilization, Din Syamsuddin menegaskan bahwa konsep Negara Madani tak lain adalah Negara Pancasila itu sendiri. Ia menyebut, gagasan ini bisa menjadi jawaban di tengah carut-marut dunia modern.
Tagar.co – Wacana tentang Negara Madani kembali mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan Paramadina Institute for Ethics and Civilization (PIEC) di Hotel Ambhara, Jumat (12/9/2025).
Diskusi terbatas bertema Negara Madani: Tawaran Islam Asia Tenggara bagi Keadilan dan Perdamaian Dunia ini menghadirkan sekitar 50 pakar. Di antaranya: mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. M. Din Syamsuddin dan Direktur PIEC Pipip A. Rifai Hasan, Ph.D.
Acara dipandu oleh Tia Rahmania, M.Psi., dosen Universitas Paramadina, dalam suasana akrab dan dialogis hingga jelang waktu salat Jumat.
Baca juga: Deklarasi Madani Malindo: Cendekiawan Serumpun Rumuskan Peradaban Baru
Dalam paparannya, Din Syamsuddin menegaskan bahwa wacana Negara Madani sesungguhnya berhimpitan dengan konsep Negara Pancasila.
“Negara Madani adalah Negara Pancasila, dan Negara Pancasila adalah Negara Madani itu sendiri,” tegas Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta itu.
Akar Konsep Madani
Negara Madani selama ini sering dipahami sebagai perluasan dari gagasan masyarakat madani, istilah yang dikenal sebagai padanan civil society. Konsep ini pernah dipopulerkan Nurcholish Madjid pada 1980-an, lalu diangkat kembali oleh Anwar Ibrahim dalam pidatonya di Festival Istiqlal 1995 sebagai alternatif penyebutan civil society.
Setelah menjabat Perdana Menteri Malaysia, Anwar kemudian menautkannya pada konsep negara.
Menurut Din, istilah madani tak bisa dilepaskan dari sejarah Madinah, kota yang dibangun Nabi Muhammad Saw. setelah hijrah ke Yatsrib pada 622 Masehu.
Saat itu, Madinah tumbuh sebagai entitas kemajemukan berbasis agama dan suku. Dari situlah lahir Masyarakat Madani yang bersifat inklusif, berlandaskan nilai-nilai al-musawah (persamaan), al-‘adalah (keadilan), dan al-syura (permusyawaratan).
Prinsip-prinsip itu diperkuat dengan kebersamaan dan kerja sama untuk mewujudkan kemakmuran bersama.

Solusi bagi Tata Dunia Baru
Din Syamsuddin menilai, wawasan madani dapat diajukan sebagai solusi alternatif bagi tata dunia baru yang damai, adil, dan sejahtera.
“Wawasan madani dapat menjadi paradigma etika baru, titik temu pandangan agama-agama dunia, dan kontribusi bagi lahirnya tata dunia yang berkeadaban,” jelasnya.
Baca juga: Cendekiawan Indonesia-Malaysia Diskusikan Keberlangsungan Masyarakat Madani
Ia menekankan, dalam kondisi dunia yang kian tak pasti, penuh kerusakan, dan kehilangan arah, agama-agama punya peran penting menghadirkan visi etis.
Karena itu, menurutnya, para cendekiawan Muslim perlu merumuskan Wawasan Madani agar visibel, viabel, dan workable bagi terwujudnya tata dunia baru yang lebih damai dan berperadaban.
“Dalam kaitan ini, Pancasila dapat menjadi ideologi global. “Namun, masalahnya, Negara Pancasila belum pernah terwujud secara sejati di Indonesia, bahkan terakhir ini terjadi adanya deviasi dan distorsi,” kata Din Syamsuddin. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni











