Feature

Abdul Mu’ti di WMSJ 2025: Ubah Fragile Generation Jadi Agile Generation

27
×

Abdul Mu’ti di WMSJ 2025: Ubah Fragile Generation Jadi Agile Generation

Sebarkan artikel ini
Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam dalam Scout Wisdom Forum yang menjadi bagian dari rangkaian World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025, Kamis (11/9/25) di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur

Dalam World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025, Abdul Mu’ti mengingatkan pentingnya mengubah anak muda dari fragile generation menjadi agile generation lewat Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

Tagar.co – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, hadir dalam Scout Wisdom Forum yang menjadi bagian dari rangkaian World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025.

Forum internasional ini berlangsung pada Kamis (11/9/25) di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur, Jawa Barat, dengan mengusung tema “Shaping the Youth Muslim Generation: From Scouts to a Civilized, United, and Peaceful World”. Acara digelar untuk memperingati 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.

Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menegaskan kepanduan merupakan instrumen penting dalam kebijakan pendidikan nasional. Menurutnya, jambore internasional ini selaras dengan amanat konstitusi dan kebijakan Presiden Prabowo Subianto, sekaligus menjadi sarana membangun karakter generasi muda.

Baca juga: 100 Tahun Gontor: Saat Iwan Fals Menyanyi di Panggung Peradaban

“Program ini sangat penting dan sangat sesuai dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk kita membangun generasi yang berkarakter, generasi yang sehat, generasi yang kuat, dan generasi yang berdedikasi tinggi dalam membangun bangsa dan negaranya,” ujarnya.

Baca Juga:  Abdul Mu’ti: Jangan Beribadah dengan Logika Untung Rugi

“Untuk membangun jiwa kepanduan di kalangan generasi muda muslim, memperkuat jejaring di antara generasi muda muslim lintas negara dengan pramuka sebagai medianya,” tambah Abdul Mu’ti.

Peserta Scout Wisdom Forum bersama Mendikdasmen Abdul Mu’ti

Dari Fragile ke Agile Generation

Menteri Mu’ti menyoroti tantangan generasi muda saat ini yang rentan menjadi fragile generation akibat pola hidup tidak sehat, malas bergerak, dan minim interaksi sosial.

Untuk menjawab tantangan itu, ia mendorong lahirnya ferakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Gerakan ini diharapkan mampu mengubah anak muda dari fragile generation (generasi rapuh) menjadi agile generation (generasi tangkas).

“Inilah yang coba kita perbaiki, kita jawab dengan gerakan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat dan berbagai kegiatan yang dimaksudkan agar generasi muda ini perlahan-lahan berubah from fragile generation menjadi agile generation,” jelasnya.

Gerakan tersebut sejalan dengan nilai-nilai kepanduan yang menekankan hidup sehat, gemar berolahraga, semangat belajar sepanjang hayat, serta aktif bersosialisasi. Dari kebiasaan itu, kata Abdul Mu’ti, akan tumbuh generasi yang mencintai alam, peduli sesama, dan optimis menghadapi tantangan zaman.

Baca Juga:  Bangsa Unggul Butuh Budaya Ilmu, Ini Tiga Strategi Abdul Mu’ti

“Nilai-nilai kepanduan ini menjadi bagian penting bagaimana kita membangun agile generation, generasi yang punya mentalitas yang kuat, kemandirian, dan kesiapan untuk berbuat yang terbaik bagi sesama,” imbuhnya.

“Dan itulah alasan saya kenapa pramuka saya wajibkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler di semua jenjang pendidikan di Indonesia. Pramuka menanamkan kegembiraan,” lanjut Abdul Mu’ti.

Peserta Scout Wisdom Forum yang menjadi bagian dari rangkaian World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025.

Belajar dari Alam

Abdul Mu’ti juga menekankan pentingnya pembelajaran sepanjang hayat, termasuk belajar dari alam. Menurutnya, kedekatan Pramuka dengan alam menjadi kelebihan tersendiri karena mengajarkan kemandirian dan pengalaman nyata tanpa bergantung pada teknologi.

“Inilah yang menjadi kelebihan Pramuka, kedekatannya kepada alam dan bisa belajar kepada alam sehingga tidak bergantung pada teknologi,” tegasnya.

“Kami berharap penyelenggaraan jambore ini dapat menjadi bagian dari upaya kita membangun generasi muda yang lebih cinta Tanah air, cinta alam, dan sesama manusia. Juga membangun generasi yang hebat, punya kepemimpinan, dan semangat untuk memajukan bangsa dan negara,” lanjut Abdul Mu’ti.

Suara Peserta dari Indonesia dan Aljazair

Zaky, salah satu peserta WMSJ, berbagi pengalaman bahwa pramuka melatih keterampilan hidup yang jarang ditemui di ruang kelas.

Baca Juga:  Abdul Mu’ti Serukan Lompatan Kualitas Pendidikan Muhammadiyah

“Pramuka di kehidupan sehari-hari ya sangat penting. Seperti kita yang mungkin kurang belajar di kegiatan di luar, bagaimana kita merasakan kehidupan luar di alam, terutama di alam bebas, dan bagaimana kita cara bertahan hidup. Misal ada di hutan, nggak ada makanan, bagaimana kita cari makannya? Kita harus bisa mencari jalan keluar,” tuturnya.

Sementara itu, Dhoha, peserta dari Aljazair, menekankan nilai pertukaran budaya dalam pertemuan pramuka internasional.

“Sangat penting bagi kami untuk berbagi budaya kami saat bertemu. Kami bisa menikmati kehidupan alami, kami bisa belajar hal-hal baru, budaya baru. Dari pramuka, pengalaman hidup kami akan semakin menyenangkan,” katanya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni