Feature

Bangsa Unggul Butuh Budaya Ilmu, Ini Tiga Strategi Abdul Mu’ti

90
×

Bangsa Unggul Butuh Budaya Ilmu, Ini Tiga Strategi Abdul Mu’ti

Sebarkan artikel ini
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyampaikan kultum bertema pentingnya ilmu dan keutamaan orang berilmu di Masjid Syuhada, Yogyakarta, Senin (23/2/2026) (Tagar.co/Azaki Khoirudin)

Bangsa unggul tidak lahir dari slogan, tetapi dari budaya ilmu yang hidup. Abdul Mu’ti memetakan tiga strategi kunci agar umat tumbuh sebagai masyarakat pembelajar yang benar-benar maju.

Tagar.co – Hujan rintik membasahi kawasan Masjid Syuhada, Yogyakarta, ahad Subuh (22/2/2026). Dalam suasana teduh itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan kultum bertema pentingnya ilmu dan keutamaan orang berilmu.

Mengawali tausiah, Abdul Mu’ti mengutip Surah Al-Mujadilah 11 yang menegaskan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu.

Baca juga: Menimbang Hidup dengan Al-Asr, Pesan Subuh Abdul Mu’ti di Lhokseumawe

Ayat tersebut, menurutnya, menjadi fondasi teologis bahwa ilmu bukan sekadar instrumen duniawi, tetapi juga jalan peningkatan martabat spiritual.

Ia juga mengutip pandangan Abdurrahman Saleh Abdullah yang menyebut sekitar dua persen ayat Al-Qur’an berbicara tentang ilmu. Bagi Abdul Mu’ti, fakta itu menunjukkan betapa sentralnya posisi ilmu dalam ajaran Islam.

Ilmu dan Kualitas Ketakwaan

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa ilmu berkaitan erat dengan kesalehan. Ia merujuk Surah Fatir 28 yang menyatakan bahwa di antara hamba Allah yang paling takut kepada-Nya adalah para ulama.

Baca Juga:  Tinjau Hari Pertama TKA SMP, Mendikdasmen Tekankan “Jujur dan Gembira”

“Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin berkualitas pula ketakwaannya,” ujarnya.

Menurutnya, ilmu adalah cahaya (al-‘ilmu nurun) yang membantu manusia membedakan antara yang hak dan yang batil. Dengan ilmu, seseorang memperoleh pencerahan untuk menapaki jalan kebenaran secara sadar dan bertanggung jawab.

Lebih jauh, Abdul Mu’ti menekankan bahwa ilmu juga menentukan harkat individu maupun bangsa. Martabat suatu bangsa, katanya, sangat ditentukan oleh kualitas ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Salah satu indikator kemajuan bangsa adalah lamanya masa belajar warganya. Bangsa yang maju umumnya memiliki durasi pendidikan yang panjang, disertai kemampuan literasi dan numerasi yang kuat.

“Negara maju itu ditopang oleh pendidikan yang baik, riset yang kuat, dan kreativitas yang tumbuh,” tegasnya.

Jalan Menuju Kesejahteraan

Selain dimensi spiritual dan peradaban, ilmu juga berkaitan langsung dengan kesejahteraan. Abdul Mu’ti mengutip nasihat Ali bin Abi Thalib:

Man arada ad-dunya fa ‘alaihi bil ‘ilmi, wa man arada al-akhirah fa ‘alaihi bil ‘ilmi, wa man aradahuma fa ‘alaihi bil ‘ilmi (Barang siapa menginginkan dunia dengan ilmu, akhirat dengan ilmu, dan keduanya pun dengan ilmu).

Baca Juga:  Abdul Mu’ti: Ilmu Kunci Manusia Menjalankan Tugas Kekhalifahan

Ia menegaskan bahwa ekonomi modern semakin bertumpu pada kekuatan akal, bukan semata tenaga fisik. Karena itu, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi keniscayaan bagi umat Islam.

Tiga Jalan Membangun Budaya Ilmu

Dalam bagian akhir kultum, Abdul Mu’ti menguraikan tiga langkah strategis agar umat mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pertama, membangun kebiasaan belajar (learning habit), terutama melalui budaya membaca dan menulis. Ia menyoroti rendahnya budaya baca masyarakat yang belum terbiasa melakukan deep reading. Rasa ingin tahu, katanya, adalah kunci untuk menumbuhkan kegemaran membaca.

Kedua, mengembangkan budaya belajar (learning culture) berbasis komunitas. Proses belajar tidak boleh hanya terjadi di sekolah, tetapi juga harus hidup di masjid dan ruang-ruang sosial umat. Karena itu, masjid didorong menjadi pusat literasi.

Ketiga, memperluas akses terhadap bahan bacaan melalui kebijakan yang berpihak pada ketersediaan buku. Ia menyarankan dimulai dari bacaan ringan agar tumbuh book engagement—keranjingan membaca—yang pada akhirnya membentuk masyarakat pembelajar.

“Semua itu adalah syarat untuk menjadi bangsa unggul,” tuturnya. (#)

Baca Juga:  Abdul Mu’ti Singgung “Inflasi Ceramah” Ramadan, Ajak Perkuat Literasi Al-Qur’an

Jurnalsi Azaki Khoirudin Penyunting Mohammad Nurfatoni