
Banyak yang rajin beribadah, tetapi belum tentu membuat Allah “tersenyum”. Dua amalan ini sederhana—namun justru di situlah letak ujian ketulusan seorang hamba.
Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah(PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.
Tagar.co – Allah “tersenyum” merupakan ungkapan kiasan yang bermakna bahwa Allah meridai, mengasihi, dan menerima amalan seorang hamba dengan penuh rahmat.
Sifat “tersenyum” bagi Allah dipahami sesuai dengan keagungan-Nya—tanpa menyerupakan dengan makhluk (tasybih), tanpa mengubah maknanya (tahrif), dan tanpa menanyakan bagaimana (takyif).
Karena itu, senyum Allah wajib diimani sesuai dengan kemuliaan-Nya dan tidak boleh diserupakan dengan makhluk ciptaan-Nya. Allah berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 11:
لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang menyerupai Allah, baik pada zat, nama-nama, sifat-sifat, maupun perbuatan-Nya. Semua nama Allah adalah indah, dan seluruh sifat-Nya merupakan kesempurnaan dan keagungan.
Inilah prinsip tauhid dalam Islam: Allah Maha Esa, tidak dapat dibayangkan, tidak dapat digambarkan, dan tidak memiliki tandingan.
Baca juga: Saat Pagi Menyapa: Memulai Hari dengan Energi Syukur
Setidaknya terdapat dua amalan yang membuat Allah “tersenyum”.
Filantropi yang Tulus
Filantropi merupakan manifestasi empati yang berlandaskan cinta kepada Allah (hablun minallah) dan diwujudkan melalui cinta kepada sesama manusia (habluminanas).
Ia bukan sekadar kedermawanan biasa, tetapi dilandasi ketulusan mengharap rida Allah semata, bukan pujian manusia—bahkan ketika pelakunya sendiri sedang membutuhkan.
Hal ini tergambar dalam hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari:
، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ” أَلاَ رَجُلٌ يُضَيِّفُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ يَرْحَمُهُ اللَّهُ ”. فَقَامَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَذَهَبَ إِلَى أَهْلِهِ فَقَالَ لاِمْرَأَتِهِ ضَيْفُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لاَ تَدَّخِرِيهِ شَيْئًا. قَالَتْ وَاللَّهِ مَا عِنْدِي إِلاَّ قُوتُ الصِّبْيَةِ. قَالَ فَإِذَا أَرَادَ الصِّبْيَةُ الْعَشَاءَ فَنَوِّمِيهِمْ، وَتَعَالَىْ فَأَطْفِئِي السِّرَاجَ وَنَطْوِي بُطُونَنَا اللَّيْلَةَ. فَفَعَلَتْ ثُمَّ غَدَا الرَّجُلُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ” لَقَدْ عَجِبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ـ أَوْ ضَحِكَ ـ مِنْ فُلاَنٍ وَفُلاَنَةَ ”.
“Seorang laki-laki datang kepada Nabi Saw dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, saya telah mengalami kesulitan dan kelaparan.’
Maka Nabi Saw mengutus seseorang kepada istri-istrinya untuk meminta sesuatu, tetapi utusan itu tidak menemukan apapun di sisi mereka.
Lalu Nabi Saw bersabda: ‘Tidakkah ada seseorang yang bisa menjamu laki-laki ini malam ini, semoga Allah merahmatinya?’
Maka berdirilah seorang laki-laki dari kalangan Ansar dan berkata: ‘Saya, wahai Rasulullah!’ Ia pergi kepada istrinya dan berkata: ‘Ini adalah tamu Rasulullah Saw, jangan simpan apapun darinya.’
Istrinya berkata: ‘Demi Allah, saya tidak memiliki apapun kecuali makanan anak-anak.’ Ia berkata: ‘Jika anak-anak meminta makan malam, tidurkanlah mereka dan matikan lampunya; kita tidak akan makan malam malam ini.’
Istrinya pun melakukannya. Kemudian pagi harinya, laki-laki Ansar itu datang kepada Nabi Saw dan beliau mengabarkan kepadanya, bahwa : ‘Allah tersenyum atas amal perbuatan si fulan dan si fulanah yang telah dilakukannya semalam.'”
Karena kejadian tersebut sampai–sampai Allah menurunkan Surah Al Hasr 9:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
”Tetapi mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka dalam kesulitan. ”
Ayat ini memberikan pelajaran penting tentang solidaritas umat Islam, kedermawanan, dan pentingnya melawan sifat pelit dalam diri sendiri.
Bersungguh-sungguh dalam Tobat Disertai Amal Saleh
Hadis sahih riwayat Imam Muslim menyebutkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَضْحَكُ اللَّهُ إِلَى رَجُلَيْنِ يَقْتُلُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ كِلَاهُمَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ فَقَالُوا كَيْفَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يُقَاتِلُ هَذَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُسْتَشْهَدُ ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَى الْقَاتِلِ فَيُسْلِمُ فَيُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُسْتَشْهَدُ
“Allah tersenyum kepada dua orang yang saling membunuh, namun keduanya masuk surga. Salah satunya gugur syahid di jalan Allah. Adapun pembunuhnya kemudian mendapat hidayah, bertobat, masuk Islam, lalu berjuang di jalan Allah hingga gugur sebagai syahid.”
Hadis ini menunjukkan luasnya rahmat Allah. Orang yang berjuang di jalan Allah lalu wafat sebagai syahid memperoleh surga. Demikian pula orang yang sebelumnya berbuat dosa besar, tetapi kemudian mendapat hidayah, bertobat dengan sungguh-sungguh, dan menutup hidupnya dengan amal saleh—ia pun berhak atas surga.
Kesimpulan
“Senyum” Allah dapat dipahami sebagai keridaan yang tak terhingga, diberikan kepada hamba yang tulus berderma, bersungguh-sungguh dalam taubat, dan berjuang di jalan-Nya. Inilah kabar gembira bagi siapa pun yang ingin meraih rahmat-Nya. Wallahualam. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












