Telaah

Memuliakan ART: Cermin Ihsan dalam Rumah Tangga

145
×

Memuliakan ART: Cermin Ihsan dalam Rumah Tangga

Sebarkan artikel ini
Ridwan Ma’ruf

Memuliakan ART bukan hanya soal sopan santun, tetapi bagian dari ajaran Islam tentang keadilan dan kemanusiaan. Dari cara berbicara hingga ketepatan upah, semuanya menjadi ukuran ihsan seorang Muslim.

Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah(PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.

Tagar.co – Di balik rumah yang rapi dan urusan domestik yang berjalan lancar, ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam. Mereka bangun lebih pagi, tidur lebih larut, dan sering kali luput dari perhatian.

Islam tidak membiarkan relasi ini berjalan tanpa nilai. Cara kita memperlakukan pembantu rumah tangga bukan sekadar soal etika sosial, melainkan cermin keimanan dan ukuran kematangan akhlak.

Baca juga: Dua Amalan yang Membuat Allah Tersenyum

Bersikap ramah terhadap pembantu rumah tangga atau asisten rumah tangga (ART) berarti memperlakukan mereka secara hormat, manusiawi, dan adil. Mereka bukan sekadar pekerja, melainkan sesama manusia yang membantu meringankan urusan rumah tangga.

Islam memandang ART sebagai saudara seagama atau sesama manusia yang wajib dimuliakan, bukan diposisikan sebagai pihak yang rendah. Karena itu, mereka harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang, keadilan, dan kemanusiaan.

Baca Juga:  War Takjil, Bagaimana Al-Qur'an Memandangnya?

Allah Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 36:

۞ وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلْجَنۢبِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Ayat ini memerintahkan sikap ihsan—berbuat baik dan ramah—kepada mereka yang berada dalam tanggung jawab kita, termasuk pekerja rumah tangga. Prinsipnya jelas: kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jenis pekerjaan.

Tidak Memerintah dengan Kasar

Rasulullah Saw. memberi teladan luar biasa dalam memperlakukan pembantu. Beliau tidak pernah membentak, memukul, atau berkata kasar, bahkan ketika terjadi kesalahan.

Anas bin Malik Ra. menuturkan:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: “خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ، وَاللَّهِ مَا قَالَ لِي: أُفٍّ قَطُّ، وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا؟ وَهَلَّا فَعَلْتَ كَذَا؟”

Baca Juga:  Wali Allah atau Wali Setan?

“Aku melayani Rasulullah Saw. selama sepuluh tahun. Demi Allah, tidak pernah sekalipun beliau berkata kepadaku ‘ah’, dan tidak pernah berkata, ‘Mengapa kamu lakukan ini?’ atau ‘Mengapa tidak kamu lakukan itu?’” (Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menunjukkan kelembutan akhlak Nabi terhadap pembantu dan anak-anak. Keteladanan ini seharusnya menjadi standar etika bagi setiap Muslim dalam memperlakukan ART.

Memenuhi Kebutuhan Dasar

Sikap ramah tidak berhenti pada tutur kata, tetapi juga tampak pada pemenuhan hak-hak dasar. ART berhak mendapatkan makanan yang layak, tempat istirahat yang manusiawi, serta beban kerja yang proporsional.

Rasulullah Saw. bersabda:

“إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ”

“Mereka adalah saudara-saudaramu yang Allah jadikan di bawah tanggung jawabmu. Siapa yang saudaranya berada di bawah tanggungannya, hendaklah ia memberi makan dari apa yang ia makan dan memberi pakaian dari apa yang ia pakai. Janganlah kalian membebani mereka dengan pekerjaan yang memberatkan. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka.” (Bukhari).

Baca Juga:  Lailatulqadar, Momentum Menjemput Takdir Terbaik

Hadis ini menegaskan bahwa pekerja bukan objek eksploitasi. Mereka adalah amanah yang harus dijaga dengan adil dan penuh empati.

Memberikan Upah Tepat Waktu

Aspek penting lain adalah keadilan dalam upah. Islam menekankan pembayaran yang tepat waktu dan layak sebagai bentuk penghormatan terhadap martabat pekerja.

Rasulullah Saw. bersabda:

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.” (Ibnu Majah, sahih).

Menunda upah tanpa alasan yang sah termasuk bentuk kezaliman. Bagi banyak ART, upah adalah penopang utama kebutuhan hidup keluarga dan pendidikan anak-anak mereka.

Penutup

Menghormati ART berarti mengakui martabat kemanusiaan mereka. Sikap sederhana seperti menyapa dengan sopan, mengucapkan terima kasih, tidak membentak, serta memenuhi hak-haknya adalah bagian dari praktik ihsan dalam kehidupan rumah tangga.

Jika nilai ini dihidupkan, relasi antara majikan dan ART akan lebih harmonis. Rumah pun tidak hanya bersih secara fisik, tetapi juga hangat secara moral dan spiritual. Wallahualam. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni