Telaah

Blackout dan Kerapuhan Peradaban Modern

85
×

Blackout dan Kerapuhan Peradaban Modern

Sebarkan artikel ini
Ridwan Ma’ruf

Blackout bukan sekadar gangguan teknis. Ia bisa menjadi cermin rapuhnya peradaban modern dan isyarat agar manusia kembali menyiapkan diri—secara spiritual maupun nyata.

Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah(PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.

Tagar.co – Fenomena blackout, yaitu terjadinya pemadaman listrik mendadak secara massal, menimbulkan efek domino yang melumpuhkan berbagai aktivitas. Dampaknya antara lain terputusnya jaringan komunikasi, matinya pompa air, terhentinya transportasi publik (kereta dan lampu lalu lintas), rusaknya bahan makanan di lemari pendingin, hingga terhentinya transaksi digital.

Baca juga: Wali Allah atau Wali Setan?

Kondisi semacam ini berpotensi melumpuhkan ekonomi negara dan memicu kekacauan di berbagai wilayah. Spanyol dan Portugal pada April 2025 pernah mengalami pemadaman listrik besar-besaran. Penyebab pastinya masih dalam penyelidikan, namun diduga berkaitan dengan serangan siber.

Sementara itu, pemadaman listrik total juga melanda seluruh wilayah Bali pada Mei 2025 akibat gangguan sistem transmisi kabel bawah laut Jawa–Bali. Peristiwa ini bukan disebabkan oleh serangan siber dan pasokan listrik berhasil dipulihkan.

Baca Juga:  Suara Merdu Imam: Terapi Jiwa di Balik Kekhusyukan Salat Berjemaah

Bersiap Menuju Era Tradisional

Kondisi semacam ini kerap dikaitkan dengan fitnah akhir zaman dan runtuhnya sistem teknologi modern menuju masa kegelapan. Oleh karena itu, penting bagi manusia untuk mempersiapkan diri, baik secara spiritual maupun fisik, agar mampu bertahan hidup. Asumsi tersebut berlandaskan firman Allah Ta‘ala dalam Surah Ali Imran ayat 140:

وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).”

Ayat ini menegaskan bahwa peradaban manusia dapat mengalami pasang surut. Dalam kondisi ekstrem, peradaban bahkan bisa kembali ke era tradisional, yakni ketika pemenuhan kebutuhan hidup manusia sepenuhnya bergantung pada alam.

Nabi Saw. bersabda:

مَنَعَتِ الْعِرَاقُ دِرْهَمَهَا وَقَفِيزَهَا وَمَنَعَتِ الشَّأْمُ مُدْيَهَا وَدِينَارَهَا وَمَنَعَتْ مِصْرُ إِرْدَبَّهَا وَدِينَارَهَا وَعُدْتُمْ مِنْ حَيْثُ بَدَأْتُمْ وَعُدْتُمْ مِنْ حَيْثُ بَدَأْتُمْ وَعُدْتُمْ مِنْ حَيْثُ بَدَأْتُمْ.

“Irak menahan dirham dan takarannya, Syam menahan mud dan dinarnya, Mesir menahan timbangan dan dinarnya, lalu kalian kembali seperti sedia kala, kalian kembali seperti sedia kala, kalian kembali seperti sedia kala.” (Muslim)

Baca Juga:  Mengapa Masjidilaqsa Tak Pernah Boleh Dilupakan

Hadis ini mengandung nubuwah Nabi Saw., yakni wahyu ilahi tentang peristiwa yang akan dialami umat manusia pada masa mendatang, bahwa manusia akan kembali kepada kondisi zaman dahulu. Artinya, dunia tanpa listrik: memasak dengan kayu bakar, penerangan dengan obor api, serta penggunaan alat dan sarana tradisional, termasuk senjata dan kendaraan seperti panah, pedang, dan kuda.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Anfal 60:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا ٱسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ ٱلْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِۦ

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang …”

Ketika Nabi Saw. mendengar ayat tersebut, beliau bersabda, “Ketahuilah, kekuatan itu terletak pada memanah. Ketahuilah, kekuatan itu terletak pada memanah. Ketahuilah, kekuatan itu terletak pada memanah.” (Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Dari dua nas tersebut, syariat Islam menganjurkan umatnya untuk berlatih memanah dan berkuda sebagai bentuk kesiapan dan kekuatan.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, hikmah di balik pemadaman listrik secara massal dan masif adalah ajakan untuk hidup lebih sadar (mindful), menghargai hal-hal sederhana, serta memperkuat koneksi batin dan sosial, alih-alih semata-mata terjebak pada orientasi material. Wallāhualam. (#)

Baca Juga:  Bolehkah Membawa Anak Kecil ke Masjid?

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…