
Dari Kuala Lumpur, 99 cendekiawan Malaysia–Indonesia merumuskan Deklarasi Madani Malindo, ikhtiar membangun peradaban madani yang kontekstual dengan zaman modern.
Tagar.co — Pertemuan perdana Majelis Cendekiawan Madani Malaysia-Indonesia (Madani Malindo) berakhir dengan catatan manis.
Selama tiga hari, 22–24 Agustus 2025, sebanyak 99 cendekiawan dari dua negeri serumpun bermusyawarah di Kompleks Institute for Advanced Islamic Studies (IAIS), Petaling Jaya, Kuala Lumpur, Malaysia
Baca juga: Cendekiawan Indonesia-Malaysia Diskusikan Keberlangsungan Masyarakat Madani
Dari jumlah itu, 59 tokoh berasal dari Malaysia sebagai tuan rumah, sementara 40 tokoh lainnya datang dari Indonesia.
Forum ini menghasilkan Deklarasi Madani Malindo, sebuah pernyataan bersama yang meneguhkan ikhtiar kedua bangsa untuk membangun peradaban madani yang relevan dengan tantangan dunia modern.

Silaturahmi dan Silatulfikri
Suasana hangat sudah terasa sejak awal. Rangkaian kegiatan dimulai dengan salat Jumat di Masjid Putrajaya, dilanjutkan makan siang bersama Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Seri Anwar Ibrahim.
Sesi penutupan pun tak kalah istimewa, ditandai dengan pertemuan dengan Timbalan Menteri Ugama Malaysia, Dato’ Dr. Zulkifli Hasan, yang kemudian berlanjut ke jamuan makan malam bersama.
Bagi delegasi Indonesia, momen ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan silatulfikri yang mempererat hubungan intelektual dan emosional dengan saudara serumpun.

Delegasi Indonesia
Delegasi Indonesia dipimpin langsung Ketua Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Prof. Dr. M. Din Syamsuddin. Turut hadir sejumlah tokoh terkemuka, antara lain Prof. Dr. Amin Abdullah, Dr. Hidayat Nurwahid, Dr. Lukman Hakim Saifuddin, Drs. Hajriyanto Y. Thohari, Dr. Anwar Abbas, Prof. Dr. Sudarnoto A. Hakim, Prof. Dr. R. Siti Zuhro, hingga Dr. Sabriati Aziz.
Selain itu, hadir pula perwakilan dari berbagai organisasi Islam tingkat pusat: NU, Muhammadiyah, Al-Washliyah, Persis, Al-Irsyad, ICMI, Wahdah Islamiyah, Mathlaul Anwar, Al-Ittihadiyah, Hidayatullah, Dewan Masjid Indonesia, DDII, IKADI, Ikatan Saudagar Muslim Indonesia, Al-Khairat, Aisyiyah, Wanita Islam, Wanita Hidayatullah, BKMT, Ma’arif Institute, serta CDCC sendiri.

Gagasan Wawasan Madani
Dalam sambutannya, Prof. Din Syamsuddin menekankan pentingnya Wawasan Madani sebagai tawaran solusi atas krisis global dewasa ini. Menurutnya, sejarah telah membuktikan peradaban madani di masa Nabi Muhammad Saw. hingga kejayaan Islam abad ke-9 sampai ke-11 Masehi.
Kini, tantangannya adalah bagaimana melakukan kontekstualisasi dan reaktualisasi agar peradaban madani mampu berpadu dengan modernitas.
“Dunia Islam harus tampil dengan strategi peradaban baru, dan itulah peradaban madani (al-hadharat al-madaniyyah),” ujar Din. Ia menambahkan, perumusan lebih lanjut akan dimantapkan dalam Madani Malindo 2 yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta tahun depan.

Pertemuan dengan Mahathir
Di luar agenda resmi, delegasi Indonesia juga sempat berkunjung ke kediaman Tun Dr. Mahathir Mohamad. Pertemuan yang berlangsung tanpa rencana itu justru memberi pencerahan tersendiri.
Mahathir menekankan potensi Indonesia dan Malaysia sebagai dua kekuatan besar dunia Islam yang mampu mendorong kebangkitan bersama.
Din Syamsuddin menegaskan harapannya agar para pemimpin umat Islam, khususnya di Indonesia dan Malaysia, mampu mengikis sengketa dan prasangka, lalu bersatu hati demi kemajuan umat dan dunia Islam.
Madani Malindo 1 membuktikan bahwa silaturahmi para cendekiawan mampu melahirkan gagasan besar. Dari Kuala Lumpur, tekad bersama itu kini menanti langkah nyata, dengan harapan semakin menguat pada pertemuan lanjutan di Jakarta tahun depan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni











