
Kunjungan juri LLSMS di MI Muhipat disambut senam bersama penuh semangat. Inovasi pengolahan sampah organik jadi sorotan, membuktikan madrasah ini serius menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.
Tagar.co – Suasana pagi di MI Muhammadiyah 4 Ngimboh (MI Muhipat) Ujungpangkah, Greik, Jawa Timur tampak semarak. Di bawah terik matahari, deretan siswa-siswi dengan seragam olahraga kuning cerah dan seragam pink menyambut kedatangan tamu penting dengan senyum lebar dan gerakan senam yang penuh semangat.
Hari itu, , Kamis, 31 Juli 2025, madrasah mereka kedatangan tim juri Lomba Lingkungan Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Sehat (LLSMS) dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik.
Baca juga: MI Muhipat Ngimboh: Madrasah Kecil, Potensi Besar
Kehadiran Noor Amirudin, M.Pd.I dari Majelis Dikdasmen dan PNF serta Moch. Nor Qomari, S.Si dari Majelis Lingkungan Hidup disambut hangat oleh seluruh warga sekolah. Beberapa siswa tampil di barisan depan memimpin “Senam Anak Indonesia Hebat”, sementara siswa lain di belakangnya ikut bergerak kompak. Tawa, tepuk tangan, dan irama musik menciptakan suasana yang cair dan akrab.
Meski matahari cukup terik, tak ada wajah yang mengeluh. Semangat anak-anak justru membuat para guru dan anggota tim juri ikut tergerak. Mereka ikut bersenam ringan di sela-sela barisan, larut dalam keceriaan pagi itu. Bukan sekadar formalitas penyambutan, momen ini menjadi bukti bahwa semangat sehat dan kebersamaan memang tumbuh dalam keseharian MI Muhipat.

Setelah senam bersama, tim juri melanjutkan penilaian dengan berkeliling lingkungan madrasah. Mereka meninjau area taman, kebersihan ruang kelas, hingga ke sudut-sudut tempat pengelolaan sampah.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah inovasi pengolahan sampah organik menjadi kompos dan eco-enzyme. Proses ini dikerjakan oleh siswa dan guru secara bersama-sama, menjadi bagian dari praktik pembelajaran harian.
“Anak-anak diajak belajar dari hal kecil, seperti memilah sampah, mengolahnya menjadi kompos dan eco-enzyme. Hasilnya tidak hanya untuk sekolah, tapi juga bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar,” ujar Kepala MI Muhipat, Khusniyawati, S.Pd.
Tim penilai pun mengapresiasi program yang dijalankan MI Muhipat. Menurut mereka, langkah-langkah kecil yang diinisiasi sekolah ini menjadi contoh nyata pendidikan lingkungan yang berdampak. Selain mendidik siswa, program ini juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
Hari itu, MI Muhipat tidak hanya dinilai sebagai sekolah yang bersih dan hijau, tapi juga sebagai sekolah yang hidup, di mana anak-anak belajar peduli dan bertindak nyata untuk lingkungan mereka. (#)
Jurnalis Elsa Wahyuningtias Penyunting Mohammad Nurfatoni












