
Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa langit yang dikenang, melainkan cermin untuk mengevaluasi kualitas salat di bumi. Sebab dari seluruh perjalanan agung itu, amanah terbesar yang dibawa pulang Rasulullah Saw. adalah salat—ibadah yang menentukan arah iman, akhlak, dan kehidupan manusia.
Oleh Cak Muhid; Penulis buku Geprek Series (4 judul) dan Seri Epistemologi Qur’ani (5 judul)
Tagar.co – Setiap tahun, Isra Mikraj kembali hadir dalam kalender umat Islam. Mimbar-mimbar berbicara, kisah diceritakan ulang, dan langit seolah didekatkan kepada bumi. Namun, pertanyaan terpenting justru jarang diajukan secara jujur: apa yang benar-benar berubah setelah peringatan itu berlalu?
Baca juga: Reorientasi Pendidikan: Dari Kompetensi Teknis Menuju Ululalbab
Sebab Isra Mikraj bukan peristiwa untuk dikenang semata, melainkan cermin tahunan untuk mengukur kualitas salat kita—ibadah yang menjadi inti, pesan utama, dan warisan paling serius dari perjalanan agung tersebut.
Isra Mikraj: Peristiwa Besar, Amanah yang Lebih Besar
Dalam Isra Mikraj, Rasulullah Saw. tidak membawa pulang simbol, artefak, atau keistimewaan duniawi. Beliau membawa salat.
Bukan kebetulan. Salat tidak diwajibkan di bumi, tidak melalui malaikat, dan tidak melalui perantara manusia. Ia ditetapkan langsung di hadapan Allah, seolah menegaskan bahwa nasib ruhani umat ini ditentukan oleh salatnya.
Maka, memperingati Isra Mikraj tanpa mengevaluasi salat adalah seperti mengagungkan perjalanan, tetapi mengabaikan tujuan.
Salat sebagai Ukuran Kejujuran Iman
Rasulullah Saw. menegaskan bahwa salat adalah pembatas identitas—pemisah antara iman dan kekufuran. Karena itu, refleksi Isra Mikraj harus dimulai dengan pertanyaan mendasar: di fase mana salat kita berada?
Ada yang menolak salat secara prinsip. Ada yang meyakini wajib, tetapi meninggalkannya. Ada yang salat karena kebiasaan dan tekanan sosial. Ada yang salat, tetapi lalai dan tidak sadar. Ada yang membaca, tetapi tidak memahami. Dan hanya sedikit yang benar-benar khusyuk.
Isra Mikraj seakan mengingatkan: tidak semua yang salat sedang naik, sebagian hanya bergerak tanpa arah.
Salat: Penopang Hidup, Bukan Sekadar Gugur Kewajiban
Allah tidak memerintahkan salat hanya untuk menggugurkan kewajiban, tetapi sebagai sarana pertolongan hidup: “Jadikan sabar dan salat sebagai penolongmu.”
Artinya, salat yang benar akan menenangkan saat sempit, menahan diri saat tergoda, dan menuntun saat gelap arah.
Jika salat tidak memberi dampak apa pun pada akhlak, keputusan, dan keberanian moral, maka yang perlu dikaji bukan kehidupan modern, melainkan kualitas salat itu sendiri.
Peringatan Isra Mikraj sebagai Audit Ruhani
Isra Mikraj adalah momen tepat untuk audit tahunan salat:
Apakah salat kita masih berat dan malas? Apakah ia masih lalai dan tergesa? Apakah bacaan hanya lewat di lisan? Ataukah salat sudah menjadi ruang perjumpaan dengan Allah?
Karena salat bukan hanya ibadah pertama yang diwajibkan, tetapi juga amal pertama yang akan dihisab. Jika salat runtuh, amal lain ikut goyah. Jika salat tegak, amal lain menemukan pijakannya.
Khusyuk: Tujuan Akhir Isra Mikraj dalam Diri
Puncak refleksi Isra Mikraj bukan pada kisah naik ke langit, tetapi pada turunnya kesadaran ke dalam diri. Kesadaran bahwa salat didirikan “untuk mengingat Allah”, bukan untuk menggugurkan kewajiban administratif.
Salat yang khusyuk menumbuhkan rasa diawasi, melemahkan dorongan maksiat, dan secara nyata mencegah keji dan mungkar.
Inilah salat yang membuat pelakunya lebih baik setelah sujud, bukan hanya lebih lega karena kewajiban selesai.
Apakah Isra Mikraj Tahun Ini Mengubah Kita?
Isra Mikraj adalah peristiwa langit yang terus diperingati. Namun, salat adalah ujian bumi yang dijalani setiap hari.
Jika setelah Isra Mikraj tahun ini salat kita lebih sadar, lebih hadir, dan lebih berdampak, maka peringatan itu hidup.
Namun, jika tidak ada perubahan, Isra Mikraj hanya tinggal cerita indah—sementara pesan utamanya kembali terabaikan.
Karena sejatinya, Isra Mikraj bukan sekadar tentang Nabi Saw. yang naik ke langit, tetapi tentang manusia yang diajak naik dari kelalaian menuju kesadaran melalui salat. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












