
Ketua PP Muhammadiyah Ahmad Dahlan Rais membahas kunci usia panjang, lompatan raksasa, dan rahasia Muhammadiyah yang terus tumbuh subur memberi manfaat bagi bangsa di Pembukaan CRM Award VI: Rakernas, Kongres, dan Expo.
Tagar.co – Suasana Lapangan Parkir Masjid Al Jihad terasa riuh pada Kamis (13/11/2025) sore. Sekitar 500 utusan dan penggembira berkumpul. Mereka menghadiri Pembukaan CRM Award VI: Rakernas, Kongres, dan Expo yang diselenggarakan LPCRPM 2025.
Ketua PP Muhammadiyah, Drs. Ahmad Dahlan Rais, M.Hum, melangkah ke podium untuk menyampaikan amanat. Dahlan Rais mengawali dengan observasi tajam. Ia mengapresiasi momentum yang lebih ramai dari dugaannya.
“Karena ini lomba CRM, maka di samping mereka datang juga disertai dengan supporter, penggembira,” ujarnya. Ia turut mencatat kehadiran seorang bupati sebagai salah satu penggembira.
Ia juga memuji ketertiban barisan Aisyiyah yang berseragam dan semangat Mas Jamal yang hadir bersama sekretaris. “Luar biasa, yang paling aktif dari majelis lembaga dan biro adalah LPCRPCM. Banyak sekali,” katanya.
Dahlan Rais kemudian mengajak hadirin melihat kembali perjalanan 113 tahun (atau 117 tahun Hijriah) persyarikatan. Ia membagikan catatan perjalanannya selama tiga bulan terakhir mengunjungi sembilan lokasi ketiga regional meeting. Dari Banten, Bengkulu, Kupang, hingga Sorong, ia menyaksikan perubahan nyata.
“Semua nampak berubah, semua tumbuh kembang dengan sangat bagus,” ucapnya.
Ia menyoroti Pontianak sebagai contoh “giant leap” atau loncatan raksasa. Universitas Muhammadiyah di sana ternyata telah memiliki Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG). “Gedungnya bagus. Meski baru tahun pertama, kuotanya memberi kursi FKG 30. Ini luar biasa,” tuturnya.
Pertumbuhan ini, catatnya, juga subur di wilayah minoritas Muslim. “Ketika regional meeting di Kupang, saya kira itu auditorium terbaik di Kupang. Saya pernah ke Maumere, di sana tumbuh subur. Di Sorong ada dua universitas Muhammadiyah.”
Jangkauannya bahkan melintasi benua. “Banyak orang bertanya, bagaimana Muhammadiyah berusia panjang, berkembang, tumbuh dan menyebar ke mana-mana?” ungkapnya.
Ia memberi contoh Muhammadiyah Australian College (MAC). “Siswanya 200 sekarang. Apakah semua orang Indonesia? Tidak. Yang Indonesia justru 15 persen.” Persyarikatan juga hadir di Malaysia dan akan terus tumbuh subur dengan kerja keras.

Rahasia Usia Panjang: Memberi Manfaat
Menjawab pertanyaan tentang mengapa Muhammadiyah bisa maju dan berusia panjang, Dahlan Rais merujuk pada Surah Ar-Ra’d ayat 17: “Sesuatu yang tidak berguna akan lenyap. Adapun hal yang memberi manfaat kepada manusia, akan tetap berada di muka bumi.”
Menurutnya, inilah kuncinya. “Hadirin, insyaallah kehadiran Muhammadiyah memberi manfaat tidak hanya milad 113 atau 117, barangkali bisa sampai milad ke-200,” serunya.
Kemudian ia menitipkan pesan agar setiap individu menjadi bermanfaat. “Jangan lupa bergabung di Muhammadiyah dan Aisyiyah itu harus memberikan manfaat.”
Dahlan Rais lantas mengajak refleksi. “Barangkali perlu kita tanya kepada diri sendiri, apakah kita di organisasi memberikan manfaat atau tidak?”
Ia teringat kunjungannya ke salah satu tokoh PP Muhammadiyah di bidang kesehatan. Di kamar tokoh tersebut, tergantung tulisan: “Are you a part of the solution or a part of the problem?”
“Selama memberikan manfaat, kehadiran kita akan diterima di mana pun,” tegasnya.
Menurutnya, pimpinan, kader, dan anggota Muhammadiyah harus punya semangat untuk memberikan, bukan meminta. “Tangan yang di atas lebih bagus daripada tangan di bawah. Pesan Kiai Ahmad Dahlan ‘hidup-hidupi Muhammadiyah jangan mencari hidup di Muhammadiyah’ masih relevan,” tandasnya.
Sebagai niat, setiap kader memang harus memberi. “Jangan khawatir, kalau kita memberi kita akan mendapat amal saleh. Kalau kamu berbuat kebaikan, kebaikan itu akan kembali pada dirimu.”
Kepemimpinan Egalitarian dan Bangsa Sejahtera
Dahlan Rais juga memaparkan kelebihan lain Muhammadiyah: tertib, teratur, dan guyub rukun. Dengan 165 perguruan tinggi yang “semuanya baik-baik”, organisasi ini bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunah, tidak kembali ke masa lalu.
Salah satu ciri khasnya, kata dia, adalah kepemimpinan yang egalitarian. “Tidak membiasakan pimpinan dicium. Beda di tempat lain,” ungkapnya.
Ia berbagi pengalamannya. “Kalau saya datang ke daerah kemudian ada yang bersalaman, lalu mencium tangan saya, dalam hati saya berbisik, ini Muhammadiyah baru.”
Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah, menurutnya, harus terus melakukan tajdid (pembaruan) dan membuka pintu ijtihad karena perubahan adalah sebuah konsekuensi.
Terakhir, ia mengaitkan semua itu dengan tema milad “Menyejahterakan Bangsa”. Cita-cita Muhammadiyah, seperti termaktub dalam mukadimah anggaran dasar, adalah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Ia lantas mendefinisikan kesejahteraan dalam konteks modern. Pertama, “Apabila pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi itu gratis, seperti di Finlandia, Kanada, Australia.”
“Sejahtera itu,” katanya, “Bila ada pelayanan kesehatan gratis dan berkualitas.” Azan Asar lantas terdengar. Amanatnya berhenti sejenak. Semua hadirin pun menunduk takzim, mendengar azan yang lantang dari Masjid Al-Jihad Banjarmasin. (#)
Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni












