CerpenUtama

Buku-Buku Bekas Abdul Mu’ti

41
×

Buku-Buku Bekas Abdul Mu’ti

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Dari buku-buku bekas kakaknya, Abdul Mu’ti menapaki jalan ilmu. Dari madrasah desa hingga kursi menteri, ia membuktikan cahaya ilmu mampu mengubah bangsa.

Cerpen oleh Nurkhan; Kepala MI Muhammadiyah 2 (MI Mutwo) Campurejo, Panceng, Gresik, Jawa Timur.

Tagar.co – Di sebuah rumah sederhana di sudut Kudus, 2 September 1968, lahirlah seorang anak lelaki dari pasangan Djamjadi dan Kartinah. Mereka menamainya Abdul Mu’ti.

Sejak kecil, Mu’ti tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nuansa religius. Ibunya kerap berpesan dengan nada lembut, “Ilmu itu cahaya, Nak. Kejar ilmu setinggi-tingginya, karena dengan ilmu hidupmu akan bermanfaat.” Kalimat itu menancap kuat dalam hatinya, menjadi kompas yang kelak menuntun perjalanan hidupnya.

Hari-harinya dipenuhi dengan belajar di madrasah. Dari MI Manafiul Ulum, lanjut ke MTs Negeri Kudus, hingga menamatkan sekolah menengah di MAN Purwodadi filial Kudus. Meski hidup sederhana, ia selalu tekun. Buku-buku bekas peninggalan kakaknya ia baca berulang-ulang.

Baca cern Nurkhan lainya: Setiap Cahaya Butuh Waktu untuk Bersinar

Di situlah muncul keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan perubahan. Teman-temannya sering melihatnya duduk menyendiri di serambi rumah, membuka kitab tipis, lalu tersenyum lirih seakan berbicara dengan dirinya sendiri, “Aku akan terus belajar. Aku ingin ilmu ini bermanfaat.”

Setelah menamatkan madrasah aliyah, Mu’ti melanjutkan kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang. Kampus menjadi arena baru baginya: ruang diskusi, perdebatan, dan organisasi. Ia bukan hanya rajin membaca, tetapi juga aktif menyampaikan gagasan.

“Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan,” katanya suatu kali kepada sahabatnya di kantin kampus. “Pendidikan adalah soal bagaimana membentuk manusia yang berakhlak.” Gagasan itu menjadi napas setiap langkahnya.

Tahun 1996, pintu besar terbuka. Ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi magister di Flinders University, Australia Selatan. Di Negeri Kanguru, matanya semakin terbuka. Ia melihat sekolah-sekolah dengan sistem yang tertata, guru yang dihormati, dan kurikulum yang berpihak pada murid.

Ia pernah menulis surat kepada ibunya, “Mak, di sini guru diperlakukan seperti orang mulia. Semoga suatu saat di negeri kita, guru pun dihargai sedemikian rupa.”

Pengalaman di Australia bukan hanya memberinya teori, tetapi juga pelajaran nyata tentang bagaimana pendidikan menjadi penopang kemajuan sebuah bangsa. Sepulang dari sana, tekadnya makin bulat: Indonesia harus memiliki pendidikan yang kuat dan berkeadilan.

Dengan semangat itu, Mu’ti melanjutkan pengabdian di dunia pendidikan. Ia menempuh program doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2008.

Menapak Karier

Abdul Mu’ti memulai karier akademiknya pada tahun 1993 sebagai dosen tetap pegawai negeri sipil di IAIN Walisongo Semarang. Selama dua dekade ia mengabdikan diri di kampus tersebut hingga 2013, sebelum kemudian pada tahun 2014 bergabung sebagai dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Baca Juga:  Mendikdasmen Abdul Mu’ti Ajak Santri Gen Z Ngaji Kata, Literasi Jadi Kunci Menjelajah Dunia

Perjalanan panjangnya di dunia akademik memperkuat reputasinya sebagai seorang intelektual Muslim sekaligus pendidik yang konsisten menekuni bidang pendidikan dan pemikiran Islam.

Pengalaman dan kiprah akademiknya mengantarkan Abdul Mu’ti pada posisi strategis di tingkat nasional. Pada tahun 2011, ia diangkat menjadi Ketua Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M).

Selama masa jabatannya hingga 2017, ia mendorong agar proses akreditasi tidak hanya menjadi formalitas administratif, melainkan benar-benar menjadi alat perbaikan kualitas sekolah dan madrasah di Indonesia.

Selanjutnya, pada tahun 2019, Abdul Mu’ti dipercaya sebagai Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Lembaga ini bertanggung jawab merumuskan, mengembangkan, serta mengevaluasi standar pendidikan nasional.

Ia menjalankan peran tersebut hingga 2021, ketika BSNP resmi dibubarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dalam rangka restrukturisasi kelembagaan pendidikan.

Rangkaian perjalanan karier ini menunjukkan dedikasi Abdul Mu’ti dalam dunia pendidikan, baik sebagai akademisi maupun sebagai penggerak kebijakan pendidikan nasional. Dari ruang kuliah hingga lembaga negara, kontribusinya meninggalkan jejak penting dalam upaya meningkatkan mutu dan standar pendidikan di Indonesia.

Aktivis sejak Muda

Perjalanan Mu’ti tidak hanya di dunia akademik. Sejak muda, ia aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), organisasi otonom Muhammadiyah yang menjadi kawah candradimuka bagi banyak kader persyarikatan.

Dari IPM, ia belajar arti militansi, organisasi, dan kepemimpinan. Langkahnya terus berlanjut ke Pemuda Muhammadiyah, hingga akhirnya ia dipercaya menduduki posisi strategis di tingkat pusat Muhammadiyah.

Pada tahun 2000 hingga 2002, Abdul Mu’ti dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah. Dalam posisi ini, ia berperan mengoordinasikan berbagai program organisasi di tingkat wilayah, memperkuat jaringan dakwah, serta membangun sinergi antara struktur Muhammadiyah di daerah dengan pimpinan pusat.

Setelah itu, pada 2002 hingga 2006, Abdul Mu’ti diamanahi sebagai Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah. Jabatan ini menandai kiprah pentingnya dalam membina generasi muda Muhammadiyah. Selama memimpin organisasi otonom tersebut, ia aktif mendorong kaderisasi, meneguhkan identitas keislaman yang moderat, dan memperkuat peran pemuda Muhammadiyah dalam bidang sosial, pendidikan, serta advokasi kebangsaan.

Perjalanan karier ini menunjukkan konsistensi Abdul Mu’ti dalam mengembangkan peran kepemimpinan di Muhammadiyah, mulai dari level wilayah hingga pusat, sekaligus mempertegas reputasinya sebagai tokoh yang mampu menjembatani gagasan keislaman dengan kebutuhan sosial masyarakat luas.

Puncak karier organisasinya datang ketika ia dipercaya sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2015–2022 dan 2022–2027). Dalam kapasitas ini, ia dikenal sebagai sosok komunikatif, moderat, dan jembatan yang menghubungkan Muhammadiyah dengan berbagai pihak, baik di dalam negeri maupun internasional.

Baca Juga:  Abdul Mu’ti Serukan Lompatan Kualitas Pendidikan Muhammadiyah

Bukan Sekadar Transfer Ilmu

Namun, sebelum itu pun, kiprahnya di bidang pendidikan telah mewarnai perjalanan panjang Muhammadiyah. Ia menjabat sebagai Sekretaris Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah mulai tahun 2005 hingga 2010, sebuah posisi penting yang mengurusi ribuan sekolah dan madrasah Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

Dalam perannya ini, ia berupaya membangun sistem pendidikan yang modern, unggul, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai Islam berkemajuan.

Sebagai Sekretaris Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Mu’ti memahami betul tantangan pendidikan di Indonesia, terutama di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang tersebar dari kota besar hingga pelosok desa. Ia menekankan pentingnya transformasi kualitas guru, inovasi kurikulum, dan penggunaan teknologi sebagai bagian dari pembelajaran.

Bagi Mu’ti, pendidikan bukan sekadar soal transfer ilmu, tetapi juga pembentukan akhlak, karakter, dan kepemimpinan. “Sekolah Muhammadiyah,” ujarnya suatu ketika, “harus menjadi pusat lahirnya generasi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.”

Di bawah kepemimpinannya, banyak sekolah Muhammadiyah berbenah. Ada program peningkatan kompetensi guru, digitalisasi sekolah, hingga penguatan kerja sama dengan lembaga pendidikan internasional. Ia percaya, meski sekolah Muhammadiyah ada di desa-desa terpencil, mutu pendidikannya harus tetap berkelas dunia.

Hidup Bersahaja

Di balik kiprahnya yang luas, Abdul Mu’ti dikenal sederhana. Dalam keseharian, ia lebih senang mengenakan pakaian santai, menyapa siapa saja dengan ramah, dan tak segan duduk bersama rakyat kecil. Rekan-rekannya di Muhammadiyah kerap menyebutnya sebagai sosok “yang bisa berada di banyak dunia”: akademik, politik, organisasi, hingga masyarakat akar rumput.

Ia juga dikenal jernih dalam berpikir. Ketika banyak tokoh terjebak pada perdebatan politik praktis, Mu’ti justru mengajak semua pihak kembali pada hal-hal fundamental: bagaimana pendidikan bisa memajukan bangsa, bagaimana agama bisa menghadirkan rahmat, dan bagaimana organisasi bisa menjadi motor perubahan.

Mu’ti meyakini bahwa Islam berkemajuan adalah jalan terbaik bagi umat Islam Indonesia. Islam yang membuka diri pada ilmu pengetahuan, teknologi, demokrasi, dan nilai-nilai universal kemanusiaan. Islam yang tidak terjebak pada formalitas, tetapi menghadirkan esensi: keadilan, kesejahteraan, dan peradaban mulia.

Dalam pidato-pidatonya, ia kerap menekankan pentingnya pendidikan sebagai investasi peradaban. Negara boleh membangun infrastruktur megah, tetapi tanpa pendidikan yang berkualitas, bangsa akan rapuh. Maka, ia mendorong agar sekolah Muhammadiyah menjadi “pabrik peradaban” yang mencetak generasi unggul.

Puncak perjalanan itu tiba pada 21 Oktober 2024. Hari itu, di Istana Negara, ia dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Ketika namanya disebut, Mu’ti menarik napas panjang. Malam sebelumnya, ia termenung di depan rak buku di rumahnya. Ia menyentuh punggung buku-buku yang telah ia tulis, lalu berbisik, “Ilmu ini bukan untukku, melainkan untuk anak-anak negeri yang menanti masa depan.”

Baca Juga:  Tinjau Hari Pertama TKA SMP, Mendikdasmen Tekankan “Jujur dan Gembira”

Sebagai Mendikdasmen, ia tahu tantangan yang menunggu: kualitas guru yang belum merata, kurikulum yang masih perlu diperbarui, kesenjangan akses antara kota dan desa. Namun ia tidak gentar. “Pendidikan,” ucapnya dalam pidato perdananya, “adalah hak setiap anak Indonesia, bukan hanya mereka yang tinggal di kota besar. Kita harus pastikan anak desa pun punya kesempatan yang sama.”

Sahabat-sahabat lamanya yang dulu mendengarnya berdebat di kampus tersenyum bangga. Ibunya, di Kudus, meneteskan air mata bahagia. “Benar katamu, Nak,” bisiknya lirih di hadapan televisi, “ilmu memang cahaya. Dan kini engkau membawa cahaya itu untuk negeri.”

Menembus Batas

Hari-hari Mu’ti kini dipenuhi rapat, kunjungan sekolah, diskusi dengan guru dan pakar pendidikan. Namun, siapa pun yang menemuinya akan tetap menemukan sosok yang sama: sederhana, santun, dan rendah hati. Ia tidak berubah menjadi pejabat yang berjarak, melainkan tetap seorang pendidik yang percaya bahwa pendidikan sejati dimulai dari hati.

Perjalanan panjang Abdul Mu’ti, dari madrasah desa di Kudus hingga kursi menteri, adalah bukti bahwa mimpi besar bisa lahir dari rumah sederhana. Ia membuktikan bahwa ilmu dan pengabdian dapat membawa seseorang menjadi cahaya bagi jutaan orang lain.

Dan di setiap langkahnya, ia terus membawa pesan ibunya: “Ilmu itu cahaya.” Cahaya itulah yang kini menerangi jalan pendidikan Indonesia, melalui seorang anak desa yang tak pernah berhenti belajar, mengajar, dan mengabdi.

Kini, jejak Abdul Mu’ti telah melampaui batas ruang kelas atau ruang rapat organisasi. Ia menjadi rujukan bagi banyak kalangan, mulai dari akademisi, aktivis, hingga politisi. Namun, ia tetap setia pada jalannya: mengabdikan diri melalui Muhammadiyah, menghidupkan pendidikan, dan menyalakan lilin-lilin peradaban.

Kisah hidupnya seakan mengingatkan kita bahwa dari desa sederhana pun bisa lahir tokoh besar, selama ada tekad, kerja keras, dan doa. Mu’ti adalah bukti bahwa pendidikan adalah jalan menuju perubahan. Dari Kudus, langkahnya menjangkau Indonesia, bahkan dunia.

Dan di setiap langkah itu, ia tak hanya meninggalkan jejak kata-kata dan kebijakan, tetapi juga inspirasi bahwa Islam berkemajuan bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan yang terus diperjuangkan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni