
Cina menaruh perhatian besar terhadap pembangunan Provinsi Xinjiang, wilayah yang mayoritas penduduknya etnis muslim Uighur. Kunjungan Xi Jinping belakangan ini menandakan konflik di kawasan itu makin mereda.
Oleh M. Rohanudin, praktisi penyiaran
Tagar.co – Kantor berita Xinhua melaporkan, Presiden Cina Xi Jinping mengunjungi Xinjiang, wilayah suku Uighur di daerah barat, selama dua hari Selasa-Rabu (23-24/9/2025).
Kunjungan itu menghadiri perayaan memperingati 70 tahun berdirinya Daerah Otonom Uighur Xinjiang di Urumqi, ibu kota Xinjiang.
Ini merupakan kunjungan Xi Jinping kelima kalinya ke wilayah rawan konflik menyangkut etnis muslim Uighur yang penduduk mayoritas di daerah itu.
Dia lebih berat memilih berangkat ke Xinjiang daripada menghadiri sidang Majelis Umum PBB pada tanggal yang sama.
Kunjungan perayaan di acara ini menandakan adanya perubahan hubungan muslim Uighur dengan pemerintah Beijing yang lebih harmonis. Meskipun di tengah isu kekerasan terhadap kelompok warga yang ingin mendirikan negara merdeka.
Xi Jinping dilaporkan mengubah strategi komunikasinya terkait isu muslim Uighur dari pendekatan ekstrem komunis ke arah humanis.
Perubahan ini untuk memperbaiki citra Cina di mata komunitas muslim global dengan meningkatkan dialog, mempromosikan budaya, tradisi Islam Tiongkok.
Suatu taktik Xi Jinping untuk memperkuat hubungan Cina dengan negara-negara muslim dan meningkatkan kerja sama ekonomi.
Efektivitas komunikasi humanis itu sudah lama dinantikan terutama terkait perlakuan Cina terhadap muslim Uighur di Xinjiang.
Makin Berkembang
Kini Xinjiang bertumbuh menjadi pusat perdagangan strategis yang berarti dengan pembangunan jalan dan industri. Sebelumnya ini gurun dan padang rumput yang miskin.
Provinsi ini sangat strategis. Berbatasan dengan delapan negara seperti Rusia, Mongolia, Kazakhstan, Kirgiztan, Kashmir, Tajikistan, dan Afganistan. Merupakan daerah jalur sutra di masa lalu.
Klaim Xi Jinping, bahwa wilayah ini telah berhasil memosisikan dirinya sebagai pusat perdagangan strategis di perbatasan Timur Tengah dan Eropa.
Dengan perdagangan luar negeri yang melebihi 400 miliar yuan atau sekitar Rp 920 triliun pada tahun 2024, Xinjiang menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan tercepat di Cina.
Letak geografisnya yang strategis di jantung Eurasia memungkinkan akses tak tertandingi ke berbagai negara.
Dalam perayaan memperingati 70 tahun berdirinya Daerah Otonom Uighur menunjukkan kemajuan dalam perdagangan dan ekonomi.
Pemerintah Cina terus mengembangkan infrastruktur dan investasi di wilayah ini untuk meningkatkan pertumbuhannya.
Dengan demikian, Xinjiang bukan hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga simbol kemajuan ekonomi Cina di kawasan Eurasia dengan peradaban muslim Cina.
Ia intensif mengawasi pembangunan infrastruktur seperti jalan, kereta api, dan fasilitas perdagangan sebagai langkah meningkatkan konektivitas dengan negara-negara tetangga.
Stabilitas politik dan keamanan di wilayah tersebut juga menjadi perhatian utamanya. Sebab Xinjiang juga memiliki peran strategis bagi Cina dalam konteks geopolitik regional.
Cina menjadi pusat konektivitas antara Asia Timur, Asia Tengah, dan Asia Selatan, meningkatkan akses ke pasar global.
Hubungan historis melalui Jalur Sutra juga memungkinkan pertukaran budaya, ekonomi, dan ilmu pengetahuan antara Cina dan dunia muslim.
Langkah Cina melalui pendekatan humanis muslim bukan sekadar membuka kran ekstrem komunis, melainkan merupakan upaya keras Tiongkok merangkul semua negara di dunia.
Keadaan ini menjadi berlawanan dengan Amerika Serikat yang belakangan semakin menyebarkan perbedaan, makin rasialis dengan Islam dan imigran. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












