Feature

Bukan Lagi Sekadar Menanam: Rehabilitasi Hutan Harus Dimulai dari Memahami Luka Alam

31
×

Bukan Lagi Sekadar Menanam: Rehabilitasi Hutan Harus Dimulai dari Memahami Luka Alam

Sebarkan artikel ini
Tatag Muttaqin

Rehabilitasi hutan sering berhenti di seremoni tanam. Padahal tanpa pemeliharaan dan pemahaman ekologi, pohon hanya tinggal angka. Hutan butuh lebih dari sekadar proyek musiman.

Tagar.co Rehabilitasi hutan di Indonesia ibarat menambal luka besar dengan kain tipis. Masifnya penanaman pohon tidak selalu berbanding lurus dengan keberhasilan pemulihan ekosistem. Di balik ratusan ribu bibit yang ditanam setiap tahun, banyak yang tumbang sebelum sempat hidup.

Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., Dosen Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengangkat persoalan ini dalam refleksi kritisnya terhadap program rehabilitasi hutan nasional. Menurutnya, kerusakan hutan tidak bisa diatasi hanya dengan pendekatan seremonial yang dangkal.

“Selama ini orientasinya masih pada kuantitas, bukan kualitas. Fokus pada berapa banyak pohon yang ditanam, bukan berapa yang hidup. Ini menjadikan kesalahan dalam rehabilitasi hutan,” ujarnya, mengingatkan bahwa pola pikir instan justru dapat memperparah kerusakan yang ada.

Alih-alih sekadar menanam, Tatag menekankan pentingnya memahami sejarah dan ekologi lahan. Setiap kawasan, katanya, memiliki riwayat vegetasi yang unik. Menanam tanpa memahami konteks ekologis lahan sama saja dengan mempercepat kegagalan.

Baca Juga:  Wisuda Ke-121 UMM di Hari Kartini Tekankan Peran Strategis Perempuan

“Rehabilitasi hutan tidak bisa dilakukan dengan pendekatan seremonial atau instan. Perlu pemahaman ekologi dan historis suatu lahan. Tanpa itu, penanaman justru bisa memperparah kerusakan,” lanjutnya, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang idterima Tagar.co, Senin (19/5/25) siang.

Baca juga: Saat Algoritma Memperparah Luka Batin: Penjelasan Psikolog UMM

Ia mencontohkan kawasan Batu, Jawa Timur, yang secara alami ditumbuhi pinus dan ikaliptus. Tanaman-tanaman ini telah beradaptasi secara ekologis selama puluhan tahun. Jika ditanami jenis lain, besar kemungkinan tidak akan tumbuh, atau justru mengganggu ekosistem yang sudah ada.

Lima Tahapan Ideal

Reboisasi yang efektif, menurutnya, bukan proses sekali tanam lalu ditinggalkan. Ada lima tahapan ideal yang mesti dijalankan: identifikasi vegetasi lokal, pemilihan bibit, penjadwalan tanam—yang idealnya saat musim hujan, penanaman, dan pemeliharaan jangka panjang selama lima tahun.

“Jika satu tahapan saja dilewati, maka keberhasilan sangat kecil. Banyak yang hanya berhenti di tanam saja. Setelah itu tidak ada perawatan. Akibatnya, tingkat kematian pohon sangat tinggi,” kata Tatag.

Baca Juga:  Aisyiyah Jatim Ajak Umat Hadirkan Islam yang Kontekstual

Poin lain yang kerap diabaikan adalah seleksi bibit. Bukan hanya soal bibit sehat atau tidak, tapi apakah bibit itu cocok dengan iklim, kontur tanah, dan topografi setempat.

“Dalam pemilihan bibit menentukan seluruh masa depan ekosistem hutan. Bibit yang tidak cocok akan gagal tumbuh, meski ditanam dalam jumlah banyak,” ujarnya.

Tanda-tanda krisis ekosistem akibat kerusakan hutan sudah sangat jelas. Tatag menyebut kawasan hulu Sungai Brantas sebagai contoh konkret. Mata air yang dahulu berjumlah lebih dari 700 kini tersisa sekitar 500 saja.

“Ini alarm bahaya. Kalau hulu rusak, hilir akan kering. Ini akan berdampak langsung ke pertanian dan kehidupan masyarakat,” tandasnya.

Selain kehilangan sumber air, konversi hutan lindung menjadi lahan pertanian juga menekan keanekaragaman hayati. Satwa dan tumbuhan endemik kehilangan habitat, sebagian di antaranya bahkan terancam punah.

Bukan Kumpulan Pohon

Rehabilitasi, menurut Tatag, bukan hanya urusan pemerintah. Ia mendorong peran aktif masyarakat, terutama generasi muda.

“Minimal tanam satu pohon dalam hidup. Itu kontribusi nyata. Jangan hanya mengandalkan negara. Edukasi dan pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan adalah kunci. Kalau mereka makmur, mereka akan menjaga hutan. Kalau tidak, mereka akan merambah karena butuh makan.”

Baca Juga:  Desa Digital, UMKM Wiyurejo Makin Dikenal

Bagi Tatag, hutan bukan hanya kumpulan pohon. Ia adalah penyangga hidup, pelindung dari bencana, penjaga keberlanjutan air, penyeimbang suhu, dan benteng dari konflik sosial yang dipicu kerusakan lingkungan.

“Rehabilitasi hutan semestinya diarahkan kembali pada fungsi utamanya, yaitu sebagai bentuk perlindungan terhadap lingkungan dan manusia,” tegasnya. “Upaya rehabilitasi hutan bukan lagi menjadi opsi, melainkan sebuah keharusan yang tidak bisa ditunda.”

Dalam bayang-bayang krisis iklim dan kekeringan yang makin sering terjadi, suara Tatag bukan sekadar peringatan, melainkan panggilan untuk bertindak sebelum hutan benar-benar tinggal nama. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni