
Dalam kisah Nabi Yusuf, kita belajar pentingnya menyiapkan pangan sebelum krisis datang. Ketahanan pangan dimulai dari rumah: menanam, beternak, dan bersiap menghadapi masa sulit dengan iman dan ikhtiar.
Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.
Tagar.co – Tahukah kita apa yang dimaksud dengan ketahanan pangan? Dan dari manakah ketahanan pangan itu bermula?
Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi setiap individu dan rumah tangga, yang mencakup kemampuan sistem pangan untuk bertahan dari guncangan seperti bencana alam atau perubahan ekonomi.
Sesungguhnya, ketahanan pangan itu telah dicontohkan sejak kisah Nabi Yusuf. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Yusuf ayat 48–49:
ثُمَّ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تُحْصِنُونَ
“Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.”
ثُمَّ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ ٱلنَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ
“Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.”
Ayat-ayat di atas menunjukkan legitimasi dari Allah Ta’ala kepada Nabi Yusuf atas kesempurnaan ilmunya, ketajaman pikirannya, dan pemahamannya terhadap kondisi negara, khususnya dalam masa kemakmuran agar masyarakat mempersiapkan diri sedini mungkin.
Nabi Yusuf memerintahkan untuk menyimpan biji-biji gandum dan membangun lumbung sebagai antisipasi terhadap krisis pangan akibat kekeringan panjang.
Dalam konteks masa kini, krisis pangan bisa juga disebabkan oleh perang dunia atau wabah penyakit yang meluas di tengah masyarakat. Hal ini dapat berdampak pada kebangkrutan perusahaan, pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga ketidakmampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarganya.
Memulai Ketahanan Pangan dari Keluarga
Ketahanan pangan bisa dimulai dari keluarga, dengan memanfaatkan lahan kosong menjadi lahan produktif: bertanam pangan, beternak, atau menjalankan usaha yang menghasilkan kebutuhan dasar.
Rasulullah Saw. bersabda:
إِن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
Artinya: “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya, maka tanamlah.” (HR. Bukhari dan Ahmad) Wallaahualambisaawab. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












