
Musibah bukan tanda kebencian Allah, melainkan ujian cinta-Nya. Namun Islam mengajarkan keseimbangan iman: bersabar saat diuji, dan tetap memohon perlindungan dari beratnya cobaan.
Oleh Ridwan Ma’ruf; Anggota Majelis Pemberdayaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah(PDM) Kabupaten Sidoarjo, Pendiri Tahfiz Quran Islamic School Al-Fatih Sidoarjo, dan Praktisi Spiritual Parenting Sidoarjo.
Tagar.co – Dalam pandangan Islam, musibah adalah salah satu bentuk ujian dari Allah Ta‘ala untuk menguji keimanan dan kesabaran hamba-Nya. Musibah juga berfungsi sebagai sarana menggugurkan dosa-dosa, meningkatkan derajat di sisi Allah, serta menjadi pengingat agar manusia kembali mendekatkan diri kepada-Nya.
Baca juga: Bolehkah Membawa Anak Kecil ke Masjid?
Musibah berbeda dengan azab. Musibah sebagai ujian biasanya melahirkan kesadaran untuk bertobat, sedangkan azab merupakan hukuman atas kemaksiatan yang dilakukan secara terus-menerus. Musibah adalah bentuk kasih sayang Allah untuk membersihkan hamba-Nya dari dosa-dosa sebelum kehidupan akhirat.
Allah Ta‘ala berfirman dalam Surah Al-Anbiya 35:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
Ibnu Abbas menjelaskan bahwa ayat ini bermakna Allah menguji manusia dengan kesengsaraan dan kesejahteraan, sehat dan sakit, kekayaan dan kemiskinan.
Semua itu untuk melihat bagaimana rasa syukur dan kesabaran seseorang, sekaligus mengajarkan agar manusia tidak sombong saat senang, tidak berputus asa saat susah, serta selalu bersiap menghadapi kematian yang datang secara tiba-tiba.
Benarkah di Balik Musibah Ada Cinta Allah?
Ya, benar. Rasulullah Saw. bersabda:
وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
“Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang rida, maka baginya keridaan Allah. Dan barang siapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.” (Tirmizi)
Bahkan, orang-orang yang ditimpa musibah dan bersabar atas ujian berat di dunia akan memperoleh kedudukan yang tinggi di surga kelak. Rasulullah Saw. bersabda:
يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يُعْطَى أَهْلُ الْبَلَاءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُودَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِي الدُّنْيَا بِالْمَقَارِيض
“Pada hari Kiamat, ketika orang-orang yang diuji diberi pahala, orang-orang yang dahulu hidup dalam afiat akan berharap seandainya kulit mereka dipotong dengan gunting di dunia.” (Tirmizi)
Meski demikian, meskipun ahlul musibah mendapatkan kedudukan tinggi di surga, Rasulullah Saw. tetap menganjurkan umatnya untuk senantiasa berdoa memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari beratnya musibah di dunia. Doa yang diajarkan beliau adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari beratnya ujian, hinanya kesengsaraan, buruknya ketetapan takdir, dan kegembiraan musuh atas musibah yang menimpaku.” (Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, menyikapi musibah sebagai ujian adalah bentuk kedewasaan iman, agar kita tidak mudah berputus asa dan senantiasa berharap pada rahmat Allah Ta‘ala. Wallāhualam. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












