Feature

Berangkat ke Aceh lewat Kuala Lumpur, Pengalaman Tim MDMC

76
×

Berangkat ke Aceh lewat Kuala Lumpur, Pengalaman Tim MDMC

Sebarkan artikel ini
Berangkat ke Aceh ternyata lebih murah lewat Kuala Lumpur daripada penerbangan langsung.
Agus Hilda Laksana, kiri, dan M. Yusuf Hidayatullah berfoto di depan Kantor Imigrasi Surabaya di Raya Juanda.

Tagar.co – Berangkat ke Aceh ternyata lebih murah lewat Kuala Lumpur daripada penerbangan langsung.

Itu dialami tim relawan MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) Jawa Timur yang berangkat ke Aceh Tamiang nanti malam, Selasa (30/12/2025).

Agus Hilda Laksana dan M. Yusuf Hidayatulloh, dua relawan Lumajang yang bergabung di rombongan MDMC itu menceritakan, sebelum berangkat mengurus paspor dulu ke Kantor Imigrasi Surabaya di Raya Juanda pada Senin (29/12/2025).

“Yang belum punya paspor harus mengurus dulu. Sebab penerbangan transit dahulu di Kuala Lumpur, Malaysia, lalu berangkat ke Aceh. Alasannya harga tiket lebih murah,” jelasnya. ”Katanya selisihnya 1,5 juta per orang.”

Tim MDMC Jawa Timur yang berangkat ke Aceh terdiri relawan Muhammadiyah dari berbagai daerah. MDMC Lumajang mengirim dua orang membantu bencana Sumatra.

Agus Hilda Laksana dan M. Yusuf Hidayatulloh dari Lumajang menuju Surabaya membawa mobil sendiri. Berkumpul di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Kertomenanggal.

”Mobil kami titipkan di PWM,” ujar Agus Hilda Laksana, yang akrab disapa Hilda.

Baca Juga:  Sebanyak 28 Relawan Penjaga Lintasan KA Terima Kado Ramadan

Saat perjalanan ke Surabaya, Ketua MDMC Lumajang, M. Yusuf Hidayatulloh, merasa ada barang yang tertinggal.  Mereka berhenti di Rest Area Leces, Probolinggo.

Dia memeriksa tas dan barang bawaannya. Wajahnya berubah cemas. “Ya Allah, KTP-ku ketinggalan. Gimana ini?” ucap Hida, sapaan M. Yusuf Hidayatulloh dengan panik.

Setelah tenang Hida menghubungi adiknya, Habibi, di Lumajang. Ia meminta agar KTP-nya segera diantarkan ke Probolinggo. Setelah menunggu beberapa waktu adiknya muncul menyerahkan KTP. Tengah malam itu  keduanya melanjutkan perjalanan ke Surabaya.

Mereka tiba di Surabaya pukul 02.30 WIB. Kemudian istirahat sampai Subuh. Pagi harinya, Hilda dan Hida bersama tim relawan MDMC lainnya berangkat menuju Kantor Imigrasi Surabaya untuk mengurus paspor.

Di Kantor Imigrasi Juanda cerita lucu terjadi. Salah satu relawan MDMC asal Blitar, M. Harist Hidayatulloh, hampir gagal difoto untuk paspor. Penyebabnya sederhana.

“Harist waktu mau foto pakai kaos putih. Sementara background foto juga warna putih. Kalau dipaksakan, yang kelihatan cuma kepalanya,” cerita Hilda sambil tertawa.

Baca Juga:  Elpiji Langka, Laporan Rakyat saat Halalbihalal dengan Bupati

Akhirnya Harist mencari jaket berwarna gelap, agar fotonya bisa diambil dengan baik. Proses foto paspor kembali lancar.

“Ini pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Semua kegiatan harus dipersiapkan secara matang, tidak boleh tergesa-gesa, supaya semuanya tertata dengan baik,” kata Hilda sebelum berangkat ke Aceh.

Jurnalis Kuswantoro  Penyunting Sugeng Purwanto