Feature

Beramal dalam Diam, Kisah Pedangang Buah Mencari Rida Allah

55
×

Beramal dalam Diam, Kisah Pedangang Buah Mencari Rida Allah

Sebarkan artikel ini
Foto ilustrasi freepik.com premium

Dua pedagang, dua pilihan hidup. Satu berbagi terang-terangan, satu memberi dalam diam. Siapa sangka, kebaikan tersembunyi justru menyisakan hikmah paling dalam di penghujung hidup.

Tagar.co – Setibanya di Masjid Al-Ikhlash, Campurejo, Panceng, Gresik, suasana malam itu terasa begitu syahdu. Langit bertabur bintang, angin pesisir bertiup lembut membawa kesejukan yang menenangkan. Di dalam masjid, para jemaah telah berbaris rapi, bersiap menunaikan salat tarawih. Selasa malam, 25 Maret 2025.

Cahaya lampu masjid menyinari wajah-wajah penuh ketakwaan. Dari dalam, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar merdu, mengundang hati untuk semakin khusyuk. Suara sandal yang ditanggalkan bersahutan, berpadu dengan bisikan doa yang lirih.

Baca juga: Cahaya Ramadan di Ujung Jalan

Malam Ramadan di tempat ini bukan hanya hangat oleh semangat ibadah, tetapi juga karena kebersamaan yang terjalin erat. Saya melangkah masuk, menyatu dalam barisan, siap menyambut keutamaan malam dengan salat dan doa.

Namun malam itu saya hadir bukan hanya sebagai jemaah, melainkan sebagai imam. Amanah besar ini membuat hati terasa penuh harap. Seusai salat Isya dan tarawih, saya juga menyampaikan kultum, berbagi hikmah Ramadan kepada mereka yang hadir.

Saya melangkah ke mihrab, menarik napas dalam, lalu mengangkat tangan takbir dengan penuh keikhlasan. Malam ini bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi tentang berbagi cahaya dalam kebersamaan mencari rida-Nya.

Usai salam terakhir, jemaah merapikan duduk. Sebagian melanjutkan dengan doa dan zikir. Suasana masjid masih dipenuhi ketenangan khas malam Ramadan, diiringi suara lirih tasbih.

Saya bangkit perlahan dari saf, melangkah menuju mimbar dengan hati yang penuh syukur. Anak-anak yang semula bermain di sudut kini duduk rapi di samping orang tua mereka. Pandangan jemaah tertuju kepada saya, menanti untaian kata yang akan saya sampaikan.

Baca Juga:  Fokal Mutwo: Energi Baru Alumni MI Mutwo

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap saya. Salam itu menggema, disambut dengan hangat.

Saya memulai tausiah dengan kelembutan, “Limpahan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Swt. yang masih memberi kita kesempatan menikmati keberkahan Ramadan. Salawat dan salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad Saw., yang telah membimbing kita dengan cahaya Islam.”

Hening. Semua menyimak. Saya melanjutkan tausiah dengan mengangkat sebuah kisah.

Masjid Al-Ikhlash Campurejo Panceng, Gresik (Tagar.co/Nurkhan)

Kebaikan yang Disembunyikan

Di sebuah pasar, ada dua pedagang. Satu menjual daging, yang lain menjual buah-buahan. Keduanya ramai pembeli, dagangannya selalu habis sebelum pasar tutup.

Namun, ada kebiasaan unik dari si pedagang daging. Ia rutin membagikan daging secara gratis kepada masyarakat. Sementara si pedagang buah hanya menyaksikan sambil tersenyum.

Tahun demi tahun berlalu. Hingga suatu hari, pedagang buah tak lagi terlihat. Kabar menyebar bahwa ia sakit, lalu meninggal dunia. Setelah kepergiannya, kebiasaan pedagang daging berbagi daging pun berhenti.

Orang-orang bertanya-tanya. Hingga seorang nenek bernama Mbah Maryam memberanikan diri bertanya.

“Wahai pedagang daging, kenapa engkau tak lagi berbagi daging kepada kami?”

Pedagang itu tersenyum, “Mbah, maafkan saya. Sebenarnya, selama ini daging itu bukan dari saya. Itu dari pedagang buah. Ia yang membeli daging dan meminta saya membagikannya kepada masyarakat, dengan syarat agar tak ada seorang pun yang tahu darinya.”

Mbah Maryam terdiam, terharu. Betapa tulusnya kebaikan pedagang buah. Ia beramal dalam diam. Dan ketika ia tiada, Allah memperlihatkan amalnya yang tersembunyi kepada manusia.

Hikmah dari Kisah

Saya melanjutkan dengan suara tenang. Kisah itu terasa menyentuh hati.

Baca Juga:  Bismillah di Udara: Pengalaman Pertama Seorang Guru Naik Pesawat

“Hadirin yang berbahagia,” ucap saya, menatap para jemaah, “betapa luar biasanya pedagang buah itu. Ia memberi tanpa ingin dikenal. Amal yang ia lakukan murni untuk Allah.”

Saya mengutip firman Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah ayat 271:

إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا ٱلْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّـَٔاتِكُمْ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Lalu saya melanjutkan dengan Surah Al-Insan  9:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآ وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dan tidak (pula) ucapan terima kasih darimu.”

Saya menatap jemaah yang semakin khusyuk menyimak.

“Orang-orang dalam ayat ini memberi dengan tulus. Tanpa pamrih. Betapa indahnya keikhlasan seperti itu.”

Saya lalu membacakan sabda Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ … وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

“Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya… (di antaranya) seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (H.R. Bukhari No. 660 dan Muslim No. 1031)

Beberapa jemaah mengangguk perlahan. Saya tahu, pesan itu mulai meresap.

Baca Juga:  Guru, Empati, dan Madrasah sebagai Rumah Bersama

“Ikhlaslah,” lanjut saya, “karena amal tergantung pada niat.”

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (H.R. Bukhari No. 1 dan Muslim No. 1907)

Saya menatap para jemaah dengan penuh kelembutan, lalu berkata, “Jika kita ingin mendapatkan pahala dari Allah, maka niat kita harus benar. Jangan sampai kita berbuat baik hanya demi pujian, karena itu tidak akan bernilai di sisi-Nya. Justru amal yang kita sembunyikan dengan niat yang lurus akan Allah tampakkan di akhirat sebagai kemuliaan bagi kita.”

Saya mengakhiri dengan sabda Rasulullah Saw.:

مَا مِنْ صَدَقَةٍ أَخْفَاهَا عَبْدٌ إِلَّا أَبْدَاهَا اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidak ada sedekah yang disembunyikan oleh seorang hamba, kecuali Allah akan menampakkannya pada hari kiamat.” (H.R. Bukhari dalam Adab al-Mufrad No. 1245)

“Mari kita renungkan dan amalkan. Jadikan Ramadan ini momentum memperbanyak kebaikan dengan keikhlasan. Berbuat baiklah dalam diam. Meskipun manusia tak mengetahuinya, Allah Maha Mengetahui.”

Saya menutup dengan doa, “Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas, melapangkan hati untuk memberi tanpa pamrih, dan membimbing kita agar setiap amal benar-benar hanya mengharap rida-Nya. Aamiin, ya Rabbal ‘alamin.”

“Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Jemaah pun menjawab salam. Beberapa terlihat merenung, seakan bertekad untuk mengamalkan pesan itu. Dalam keheningan malam Ramadan yang penuh berkah, saya berharap bahwa setiap kata yang terucap menjadi pengingat: amal yang tersembunyi jauh lebih berharga di sisi Allah dibanding amal yang diumbar demi pengakuan manusia. (#)

Jurnalis Nurkhan Penyunting Mohammad Nurfatoni