
Tak sekadar kunjungan, mahasiswa Umla menyaksikan langsung dapur produksi alat kesehatan PT MAK. Pengalaman ini jadi bekal penting menghadapi tantangan dunia manufaktur modern yang sarat presisi dan inovasi.
Tagar.co – Barisan seragam biru dongker tampak rapi berjajar di pelataran depan gedung bertuliskan Mega Andalan Teknopark. Di tengahnya, terbentang spanduk besar bertuliskan “Factory Visit Industrial Engineering 2025 – Universitas Muhammadiyah Lamongan”.
Hari itu, sebanyak 40 mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) bersama dosen pembimbing mengunjungi PT Mega Andalan Kalasan (MAK), sebuah perusahaan manufaktur alat kesehatan ternama di Yogyakarta.
Baca juga: Batik Gedog Jadi Jembatan Diplomasi Budaya di Summer Course Umla 2025:
Kunjungan ini merupakan bagian dari program pembelajaran luar kampus yang bertujuan memperkaya wawasan mahasiswa tentang praktik industri manufaktur modern. Selama di lokasi, para mahasiswa mengikuti sesi pemaparan materi, dialog interaktif dengan pihak perusahaan, serta tur ke berbagai unit produksi seperti workshop robotik fabrikasi, area CNC machining, hingga laboratorium pengujian part.
Gunawan, perwakilan PT MAK, dalam sambutannya menekankan pentingnya pemahaman praktis bagi calon insinyur. “Teori saja tidak cukup. Dunia kerja menuntut kita memahami proses produksi dari hulu ke hilir, dengan efisiensi dan inovasi sebagai kunci utamanya,” ungkapnya di hadapan rombongan.
Sementara itu, dosen pendamping Rohmat, S.T., M.Sc., menyampaikan apresiasi atas kesempatan yang diberikan oleh pihak PT MAK. Ia berharap pengalaman ini menjadi inspirasi konkret bagi mahasiswa untuk lebih siap menghadapi tantangan dunia industri.
Kunjungan ini bukan sekadar wisata edukasi. Di balik seragam biru dan semangat kolektif itu, ada proses pembelajaran penting tentang presisi, teknologi, dan budaya kerja pabrikan yang tak bisa didapatkan dari ruang kelas semata. Dari Jogja, para mahasiswa Teknik Industri UMLA membawa pulang pengalaman yang memperkaya pengetahuan sekaligus membangun mimpi mereka di dunia rekayasa manufaktur. (#)
Jurnalis Rio Achmad Nugroho Penyunting Mohammad Nurfatoni












