Feature

Belajar AIK di Luar Kelas: Rihlah Ilmiah STIT Muhammadiyah Bojonegoro di Yogyakarta

66
×

Belajar AIK di Luar Kelas: Rihlah Ilmiah STIT Muhammadiyah Bojonegoro di Yogyakarta

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonogoro dalam Rihlah Ilmiah ke Yogyakarta, Jumat (17/1/2026). (Tagar.co/M. Arif Susanto)

Rihlah ilmiah AIK menjadi ruang belajar alternatif bagi mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro untuk membaca sejarah, ideologi, dan realitas sosial Muhammadiyah.

Tagar.co — Pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di perguruan tinggi kerap terjebak dalam pendekatan normatif yang menekankan hafalan konsep, namun minim pengalaman reflektif.

Menyadari persoalan tersebut, STIT Muhammadiyah Bojonegoro melakukan terobosan pedagogis melalui Rihlah Ilmiah ke Yogyakarta, Jumat (17/1/2026), sebagai upaya mereorientasi pembelajaran AIK menuju pembentukan kesadaran kritis dan ideologis mahasiswa.

Baca juga: KKN STIT Muhammadiyah Bojonegoro Dorong Desa Mandiri Berbasis Potensi Lokal

Kegiatan ini diikuti puluhan mahasiswa lintas program studi dengan pendampingan unsur pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan. Rihlah Ilmiah dirancang sebagai ruang belajar alternatif yang menempatkan mahasiswa sebagai subjek aktif pembelajaran.

Dua lokus utama, yakni Museum Muhammadiyah dan Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dipilih untuk membuka akses langsung mahasiswa pada sejarah, ideologi, dan praksis gerakan Muhammadiyah.

Sementara itu, Pantai Indrayanti dan kawasan Malioboro difungsikan sebagai ruang refleksi spiritual dan laboratorium pembelajaran sosial.

Baca Juga:  Ramadan Berbagi, Mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro Santuni Yatim dan Gelar Lomba Santri
Mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonogoro di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (17/1/2026). (Tagar.co/M. Arif Susanto)

Ketua STIT Muhammadiyah Bojonegoro, Ibnu Habibi, menegaskan bahwa rihlah ilmiah merupakan respons institusional atas lemahnya internalisasi nilai AIK dalam proses pembelajaran formal.

Menurutnya, AIK tidak cukup diposisikan sebagai mata kuliah pelengkap kurikulum, melainkan harus menjadi kerangka berpikir dan bertindak mahasiswa.

“Mahasiswa perlu mengalami AIK, bukan sekadar mempelajarinya. Dengan menyaksikan langsung dinamika Muhammadiyah, nilai Islam berkemajuan menjadi lebih konkret dan operasional,” ujarnya.

Pandangan tersebut diperkuat dosen pengampu AIK, Nur Mashani Mustafidah. Ia menilai rihlah ilmiah membuka ruang dialektika antara teks, sejarah, dan realitas sosial. Dalam proses itu, mahasiswa diajak membaca ulang perjuangan K.H. Ahmad Dahlan serta transformasi Muhammadiyah sebagai respons atas problem umat dan bangsa.

“AIK tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah, tetapi harus dipahami sebagai etos perubahan yang relevan dengan tantangan kontemporer,” tegasnya.

Dari perspektif mahasiswa, kunjungan ke pusat-pusat persyarikatan menghadirkan pemahaman baru tentang identitas dan tanggung jawab sebagai insan akademik Muhammadiyah. Muhammadiyah tidak lagi dipersepsi semata sebagai organisasi, melainkan sebagai gerakan pemikiran dan aksi sosial yang menuntut keterlibatan aktif kader mudanya.

Baca Juga:  Mahasiswa STIT Mubo Hidupkan Masjid Desa lewat Gerakan Subuh Berjemaah dan Sembako Berkah
Mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonogoro di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (17/1/2026). (Tagar.co/M. Arif Susanto)

Agenda nonakademik pun dirancang sarat makna. Kunjungan ke Pantai Indrayanti menjadi ruang kontemplasi untuk meneguhkan dimensi spiritual dalam proses intelektual, sementara Malioboro menghadirkan pembelajaran sosial yang mempertemukan mahasiswa dengan realitas publik yang majemuk. Kedua ruang ini menegaskan bahwa AIK harus hadir secara utuh dalam kehidupan personal maupun sosial.

Ke depan, Rihlah Ilmiah AIK ini diproyeksikan sebagai model pembelajaran progresif yang dapat direplikasi dan dikembangkan secara sistemik di STIT Muhammadiyah Bojonegoro. Kampus mendorong agar AIK tidak hanya membentuk kompetensi religius, tetapi juga melahirkan kader intelektual yang kritis, solutif, dan berdaya transformasi.

Dengan demikian, perguruan tinggi Muhammadiyah diharapkan mampu memainkan peran strategis dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya paham nilai, tetapi juga mampu menggerakkan perubahan sosial berlandaskan Islam berkemajuan. (#)

Jurnalis M. Arif Susanto Penyunting Mohammad Nurfatoni