Telaah

Teologi Al-Humazah: Panggilan Kemanusiaan

330
×

Teologi Al-Humazah: Panggilan Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini

Surah yang sering dihafal ini ternyata menyimpan kritik tajam terhadap budaya celaan, kesombongan, dan ilusi kekayaan. Al-Humazah bukan sekadar bacaan, tetapi peta moral untuk membangun iman yang hidup dan bertanggung jawab.

Oleh M. Arif Susanto; Dosen STIT Muhammadiyah Bojonegoro, Jawa Timur

Tagar.co – Surah Al-Humazah adalah salah satu surah yang paling akrab di telinga umat Islam. Ia dibaca dalam salat, dihafalkan sejak masa kanak-kanak, dan dilantunkan hampir tanpa beban.

Namun, di balik kelancaran hafalan itu, sering tersembunyi persoalan mendasar: kedalaman makna surah ini belum sepenuhnya menjelma menjadi kesadaran hidup dan tanggung jawab sosial.

Di sinilah letak problem teologis sekaligus etis kita. Al-Qur’an tidak pernah diturunkan sekadar untuk diingat oleh lisan, tetapi untuk dihidupkan oleh nurani dan diwujudkan dalam tindakan. Ketika jarak antara bacaan dan kesadaran semakin lebar, agama berisiko terjebak dalam ritualisme yang kering dari nilai kemanusiaan.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Insyirah: Satu Kesulitan Beragam Jalan Keluar

Surah Al-Humazah dibuka dengan kata yang sangat keras: “wailun”—ancaman serius yang dalam Al-Qur’an hanya digunakan untuk menandai dosa-dosa besar. Sejak ayat pertama, Allah menegaskan bahwa mencela, mengumpat, merendahkan martabat orang lain, serta menimbun harta dengan kesombongan bukanlah kesalahan ringan, melainkan pelanggaran mendasar terhadap tatanan moral ilahi.

Baca Juga:  Surah Qaf dan Bisikan Lembut Allah kepada Manusia

Teologi surah ini dengan jelas menempatkan etika sosial—terutama etika lisan dan sikap terhadap sesama—sebagai inti iman. Keberagamaan tidak cukup berhenti pada ibadah personal, tetapi harus memancar dalam cara manusia memperlakukan manusia lainnya. Di hadapan Allah, kesalehan ritual yang tidak melahirkan kesalehan sosial kehilangan bobotnya.

Pertanggungjawaban Individu

Lebih jauh, Al-Humazah mengajarkan prinsip pertanggungjawaban individu. Setiap ucapan, perbuatan, bahkan bisikan batin tidak pernah lepas dari pengawasan-Nya. Gambaran Neraka Hutamah yang “membakar hingga ke hati” bukan sekadar deskripsi fisik siksaan, melainkan simbol teologis yang dalam: dosa-dosa sosial dan moral merusak pusat kemanusiaan manusia itu sendiri.

Hati yang dipenuhi kesombongan, penghinaan, dan kerakusan akan menuai konsekuensi yang setimpal. Di sini, keadilan ilahi ditegakkan secara personal, adil, dan proporsional.

Surah ini juga meluruskan ilusi besar manusia tentang harta. Harta sering diperlakukan seolah mampu memberi rasa aman mutlak dan keabadian semu. Al-Humazah membongkar ilusi itu dengan tegas: harta tidak bisa menunda kematian, apalagi menyelamatkan manusia dari hisab Allah.

Baca Juga:  KKN STIT Muhammadiyah Bojonegoro Dorong Desa Mandiri Berbasis Potensi Lokal

Nilai manusia tidak ditentukan oleh akumulasi kekayaan, melainkan oleh ketakwaan, empati, dan sejauh mana harta menjadi sarana kemaslahatan sosial.

Ironisnya, pesan teologis yang sedemikian kuat sering berhenti di hafalan. Lisan fasih membaca ayat tentang bahaya mencela, tetapi jari tetap ringan menuliskan ujaran merendahkan di ruang digital.

Panggilan Kemanusiaan

Ayat tentang kecaman terhadap penimbunan harta terus dilantunkan, sementara kepedulian sosial justru tersingkir. Fenomena ini menyingkap krisis keberagamaan: agama dipraktikkan sebagai simbol, bukan sebagai kekuatan transformasi.

Karena itu, Surah Al-Humazah seharusnya dibaca sebagai panggilan kemanusiaan. Ia mengajak umat Islam menjadikan iman sebagai sumber manfaat, bukan ancaman bagi sesama.

Pesan moralnya sangat kontekstual: menjaga lisan, memuliakan martabat manusia, mengelola harta dengan tanggung jawab sosial, serta menumbuhkan kepekaan terhadap penderitaan orang lain.

Jika nilai-nilai ini benar-benar dihidupkan, Islam tidak hanya hadir sebagai identitas religius, melainkan sebagai kekuatan etik yang menghadirkan rahmat bagi seluruh manusia. Di situlah Al-Humazah menemukan maknanya yang paling luhur—bukan sekadar dihafal, tetapi dihidupkan. (#)

Baca Juga:  Belajar AIK di Luar Kelas: Rihlah Ilmiah STIT Muhammadiyah Bojonegoro di Yogyakarta

Penyunting Mohammad Nurfatoni