
Baru kelas 5 di SD Muhammadiyah Manyar Gresik, Muhammad Jibril Aaron berani menjadi asisten walking tour guide. Ia menemani mahasiswa asing yang sedang kuliah di Indonesia.
Tagar.co – Muhammad Jibril Aaron Al R
Rasyid adalah siswa kelas V Ummu Kulsum SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik, Jawa Timur. Ahad (8/12/2024) pagi itu menjadi momen berharga baginya bisa menjadi assistent walking tour guide.
Aaron, sapaan akrabnya, merasa senang bisa menjadi pemandu bagi 11 mahasiswa asing yang sedang menjalankan perkuliahan di Indonesia. Sejak awal kedatangannya ke kafe Sualoka Gresik ia sudah merasa excited. Di cafe itulah menjadi titik kumpul dan pemberangkatan rombongan walking tour.
Acara ini digagas oleh Yayasan Gang Sebelah bekerja sama dengan Universitas International Semen Indonesia (UISI) Gresik. Bertajuk Cultural Field Trip with OIA (Office Of Institutional Advancement).
Terdapat 11 mahasiswa asing yang tergabung dalam program ini. Mereka berasal dari negara-negara yang berbeda, di antaranya Yaman, Iran, Turki, Bangladesh, Afghanistan, Thailand, dan Rusia.
Sebelum perjalanan dimulai, peserta diajak untuk mencicipi jajanan tradisional khas Gresik. Ada pudak, jenang jubung, kue lumpur, maupun kue tok yang dibentuk mirip dengan buah dan sayur. Kebanyakan peserta terkecoh dengan bentuk kue tok yang benar-benar mirip aslinya.
“Is it fruit?” tanya Anam Abbas, Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya Jurusan Teknik Mesin. Ia bertanya kepada Aaron yang kebetulan berada di dekat meja tempat kudapan tersebut disajikan.
“No, that’s made from simple ingridient like egg, potatoes, and powder. But however the shape looks like fuit,” jawab Aaron dengan bahasa Inggris yang masih terbata-bata.
Sementara itu, Ellena Yankova, salah satu peserta Cultural Field Trip dari Rusia mengaku jatuh hati pada kue lumpur dan pudak. “It’s sweet but tasty,” ujar Ellena yang saat ini kuliah di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) jurusan Bahasa Indonesia tersebut.
Tak lama kemudian, rombongan berjalan melalui jalur yang sudah ditentukan oleh panitia. Dengan perasaan senang dan gembira, Aaron yang menjadi assistant walking tour kali ini bergegas membantu guide tour utama sambil mendampingi mahasiswa berbincang.
Menurutnya, hal tersebut tidak mudah, namun kesempatan emas kali ini harus ia gunakan sebaik-baiknya. “Tentu saja untuk mempraktikkan bahasa Inggris yang sudah saya pelajari selama di kelas unggulan SDMM,” tutur siswa Internasional Class Program (ICP) SDMM ini.
Terkesan dengan Gresik
Para peserta walking tour melewati jalur heritage andalan Kota Gresik. Di antaranya kampung kemasan, jalan HOS Cokroaminoto, gardu suling, kawasan Bandar Grissee, alun-alun Gresik, klenteng Kim Hin Kiong, kampung arab, makam Nyai Ageng Pinatih, dan terakhir singgah di Rumah Gajah Mungkur.
Perjalanan ini membuat peserta walking tour terkesan. Seperti yang diutarakan oleh Ava Thursina. Mahasiswi dari Turki tersebut sangat takjub ketika melihat alun-alun Gresik.
“Surabaya must have a place like this. There are many streefood, many big trees, huge play ground, and the air is cooler,” celetuknya.
Di penghujung Cultural Field Trip, peserta dikenalkan warisan budaya tak benda asal Gresik, yaitu Damar Kurung. Pada kegiatan tersebut Aaron ditunjuk sebagai guide khusus saat acara crafting Damar Kurung.
Secara bersama-sama, seluruh peserta membuat kerajinan damar kurung. Mereka tidak hanya diajarkan cara proses mewarnai saja, namun dikenalkan sejak proses awal membuat kerangka, cara memaku, hingga menggambar.
Para mahasiswa tersebut sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Bagi mereka, menata dan memaku adalah hal baru dan pertama kali dilakukan. Selanjutnya pada tahap menggambar, mereka tidak ada yang mau mencoba karena bagi mereka itu sulit.
Menurut mereka, damar kurung mempunyai pattern yang berbeda dari seni lukis yang lain. Akhirnya para mahasiswa ini lebih memilih untuk mewarnai gambar yang sudah jadi. Di akhir kegiatan, tak lupa para rombongan berserta tour guide mendokumentasikan kegiatan yang sudah dilalui.
Sebagai reward, para mahasiswa tersebut boleh membawa pulang damar kurung yang dilukis oleh masing-masing peserta sebagai oleh-oleh khas Gresik. (#)
Jurnalis Bening Satria Prawita Diharja Penyunting Nely Izzatul












