
Setelah puncak haji, jemaah menghadapi masa jeda sebelum pulang. Inilah waktu paling rawan: antara lalai dan istikamah, antara menjaga kemabruran atau kehilangan bekas ibadah.
Oleh Piet Hizbullah Khaidir; Ketua STIQSI Lamongan; Sekretaris PDM Lamongan; Ketua Divisi Kaderisasi dan Publikasi MTT PWM Jawa Timur
Tagar.co – Setelah puncak haji di Armuzna dan tawaf ifadah, terdapat satu masa yang patut diwaspadai oleh jemaah haji Indonesia. Masa itu bukan terkait primbon Jawa atau hitungan klasik lainnya, melainkan jeda waktu tunggu kepulangan yang menyimpan potensi bahaya: godaan untuk lalai dari tujuan beribadah haji. Jeda ini bisa menjadi pengganggu kemabruran.
Baca juga: Peta Jalan dan Makna Kontekstual Doa dalam Tawaf Ifadah
Bagi jemaah gelombang pertama dengan kloter pertengahan atau akhir, mereka masih akan tinggal di Makkah sekitar satu hingga dua pekan. Sedangkan bagi jemaah gelombang kedua yang langsung menuju Makkah, jeda waktu di kota suci bisa mencapai 10–12 hari, ditambah 8–10 hari di Madinah. Masa ini harus disikapi dengan hati-hati dan penuh kesadaran. Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan?
Fokus pada Niat Haji
Setiap jemaah haji Indonesia hampir pasti telah menanti bertahun-tahun untuk berangkat ke Tanah Suci. Bekal materi dan ilmu telah disiapkan dengan susah payah. Panggilan haji adalah rezeki dari Allah yang amat membahagiakan.
Sejak awal mendaftarkan diri, niat berhaji sudah ditanamkan—dibuktikan dengan menabung dan melunasi biaya porsi haji sedikit demi sedikit. Ketika panggilan itu datang, seluruh daya upaya dikerahkan demi bisa menunaikan rukun Islam kelima.
Niat yang ikhlas hanya untuk Allah, demi meraih rida-Nya, harus menjadi panduan utama. Seluruh rangkaian ibadah diniatkan sebagai upaya mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya. Prosesi haji harus dituntaskan dengan sebaik-baiknya—baik rukun, wajib, maupun sunah—tanpa ada yang terlewat atau dikurangi kualitas dan kuantitasnya.
Fokus ini harus terus dijaga, bahkan dalam masa tunggu kepulangan. Jangan sampai jeda waktu justru melalaikan dari tujuan utama haji. Sebab, kemabruran itu hanya dapat diraih jika ibadah ritual tetap terjaga, akhlak kepada Allah dan sesama manusia terus meningkat.
Fokus pada Amaliah di Tanah Suci
Selama berada di Haramayn (Makkah dan Madinah), jemaah haji perlu memusatkan perhatian pada amal kebaikan, baik ibadah ritual maupun sosial.
Amaliah ritual dapat berupa qiyamul lail, membaca Al-Qur’an (baik sekadar qira’ah maupun tilawah dan tartil), menjaga salat rawatib, memperbanyak salat sunah seperti dhuha, hajat, istikharah, witir, serta memperbanyak zikir—shalawat, istigfar, tahlil, tahmid, tasbih, takbir, la hawla, hasbunallah, dan lainnya sesuai tuntunan hadits Nabi Muhammad Saw. Akan lebih baik jika dilakukan di Masjidilharam atau Masjid Nabawi.
Adapun amaliah sosial bisa berupa membantu sesama jemaah, menjalin silaturahim, dan menjaga diri dari rafats (ucapan kotor), fusuq (perbuatan maksiat), serta jidal (perdebatan). Semua ini menjadi sarana melatih keistiqamahan, yang kelak dapat terus dilanjutkan setelah kembali ke tanah air.
Fokus Ibadah dalam segala Kondisi
Ibadah bukan hanya dalam bentuk ritual yang formal. Dalam segala kondisi dan situasi, kita bisa menghadirkan ibadah sebagai bentuk penghambaan kepada Allah Swt. Duduk, berdiri, belajar, bercengkerama, bahkan diam sekalipun, bisa bernilai ibadah jika diniatkan dengan benar.
Oleh karena itu, masa jeda menunggu kepulangan harus dimanfaatkan sebagai momen pembiasaan diri dalam kebaikan. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa makna. Biasakan niatkan segala aktivitas sebagai bentuk ibadah—baik itu yang mubah, sunah, apalagi yang wajib.
Keberhasilan mencapai keistiqamahan adalah tanda bahwa ibadah haji telah membekas dalam kehidupan seseorang. Seperti disebutkan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani, istiqamah lebih utama daripada seribu karamah. Dan dalam hadis pun dijelaskan bahwa amal terbaik adalah yang dikerjakan secara konsisten, meski sedikit.
Akhirnya, ibadah haji harus menjadi media untuk menghapus dosa, menumbuhkan tobat, serta membentuk pribadi yang istiqamah dalam kebaikan. Manfaatkan jeda waktu sebelum pulang dengan sebaik-baiknya sebagai latihan menjaga kemabruran dan meneguhkan tekad menjadi hamba yang lebih dekat dengan Allah.
Makkah, 12 Juni 2025
Penyunting Mohammad Nurfatoni












