Feature

Peta Jalan dan Makna Kontekstual Doa dalam Tawaf Ifadah

62
×

Peta Jalan dan Makna Kontekstual Doa dalam Tawaf Ifadah

Sebarkan artikel ini
Jemaah haji melakukan tawaf ifadah Jumat 6 Juni 2025 atau 10 Zulhijah 1446 (Foto SPA)

Tawaf ifadah bukan sekadar ritual fisik, melainkan peta jalan spiritual penuh makna. Dari komitmen iman, permohonan ampun, hingga harapan kebaikan dunia–akhirat, setiap doa membentuk narasi ketundukan yang mendalam.

Oleh: Oleh Piet Hizbullah Khaidir; Ketua STIQSI Lamongan; Sekretaris PDM Lamongan; Ketua Divisi Kaderisasi dan Publikasi MTT PWM Jawa Timur

Tagar.co – Setelah melaksanakan jumrah akabah dan Hari Tasyrik di Mina, para jemaah haji tinggal menyelesaikan satu amaliah yang merupakan rukun haji, yakni tawaf ifadah. Amaliah ini menjadi pamungkas dari rangkaian ibadah haji.

Sama seperti tawaf umrah yang wajib bagi jemaah haji tamatuk maupun umrah-umrah lainnya, baik yang wajib maupun sunah, tawaf ifadah meliputi tujuh kali mengelilingi Ka’bah, dilanjutkan dengan sai tujuh kali dari Safa ke Marwa, dan ditutup dengan tahalul sani. Apa makna yang bisa dipetik dari prosesi ini?

Tawaf Ifadah dan Amaliahnya

Sebagaimana tawaf pada umumnya, tawaf ifadah diawali dengan berbagai doa: doa dalam perjalanan menuju Masjidilharam, istigfar dan selawat selama perjalanan, doa masuk masjid, doa melihat Ka’bah, pernyataan iman dan janji setia mengikuti sunah Nabi Muhammad Saw., basmalah dan takbir, serta tasbih, tahmid, tahlil, dan doa sapu jagad.

Baca Juga:  Saudi Batasi Akses ke Makkah dan Hentikan Izin Umrah Jelang Musim Haji

Baca juga: Jamarat di Mina: Lautan Doa, Samudra Harap

Berbeda dengan tawaf wajib atau sunah lainnya, tawaf ifadah dilakukan setelah jemaah terlepas dari larangan ihram. Karena itu, jemaah boleh mengenakan pakaian ihram yang dikombinasikan dengan pakaian berjahit, atau langsung memakai pakaian biasa.

Setelah tawaf, disunahkan salat dua rakaat di dekat Makam Ibrahim atau di tempat mana pun di sekitar Masjidilharam. Dilanjutkan dengan doa—terutama permohonan ampunan dan tobat kepada Allah Swt. Jemaah juga disunahkan meminum air Zamzam sambil memanjatkan doa.

Selanjutnya, dilaksanakan sai, yakni berjalan sebanyak tujuh kali dari Safa ke Marwa. Di setiap putaran, dibaca pernyataan keimanan atas syiar Safa dan Marwa, dilanjutkan takbir dan berbagai doa, yang intinya adalah permohonan ampun, keteguhan iman dan Islam, serta permohonan lain sesuai hajat.

Setelah sai, jemaah melaksanakan salat sunah dua rakaat dan berdoa agar hajinya menjadi haji yang mabrur. Kemudian keluar melalui pintu Safa untuk tahalul, diakhiri dengan doa-doa pribadi dan umum.

Makna Doa dalam Tawaf Ifadah

Setidaknya ada tiga bentuk doa dalam tawaf ifadah:

  1. Doa komitmen iman dan kesetiaan, terlihat pada doa sebelum memulai tawaf di sudut Hajar Aswad, saat berada di Hajar Aswad, hingga menuju Makam Ibrahim. Misalnya:

    • “Allāhumma īmānan bika wa taṣdīqan bikitābika wa wafa’an bi ‘ahdika wa ittibā’an li sunnati nabiyyika Muḥammadin Saw.

    • Di sudut Hajar Aswad: “Bismillāhi Allāhu Akbar.”

    • Setelah itu dilanjutkan zikir: tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir.

    Doa-doa ini menegaskan komitmen spiritual, keyakinan yang kuat, dan penyerahan total kepada Allah sebagai Tuhan semesta alam.

  2. Doa permohonan ampun, banyak dibaca saat sa’i, antara lain:

    • Allāhumma innaka ‘afuwwun tuḥibbul ‘afwa fa‘fu ‘annī.”

    • Rabbighfir warḥam wa takarram wa tajāwaz ‘ammā ta‘lam, innaka ta‘lamu mā lā a‘lam. Allāhumma‘ghfir warḥam, innaka anta al-‘azzu al-akram.”

    Makna utama doa-doa ini adalah ketundukan total terhadap syariat Allah dan upaya memurnikan niat serta diri agar bersih dan siap menuju Marwa—simbol puncak kemuliaan manusia.

  3. Doa kebaikan pribadi dan umum, seperti:

    • Doa saat minum air zamzam: “Allāhumma innī as’aluka ‘ilman nāfi‘an wa rizqan wāsi‘an wa syifā’an min kulli dā’in wa saqamin.”

    • Doa sapu jagad: “Rabbana ātinā fi al-dunya ḥasanah wa fi al-ākhirati ḥasanah wa qinā ‘adzāban-nār.”

    Doa-doa ini mencerminkan permohonan atas ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, kesembuhan dari segala penyakit, serta kebaikan dunia dan akhirat—yang semua berujung pada ketaatan dan kedekatan kepada Allah Swt.

Baca Juga:  Safari Ramadan PDPM Lamongan Soroti Fenomena Kiai AI

Jika direnungi dengan mendalam, susunan doa-doa ini dapat menjadi semacam peta jalan spiritual, panduan dalam menyusun permohonan kepada Allah Swt.

Kontekstualisasi Makna Doa-Doa Tawaf Ifadah

Peta jalan doa ini, jika dipahami dalam konteks pengalaman Nabi Ibrahim As., akan semakin bermakna.

Ibrahim adalah bapak monoteisme—tokoh agung dengan keyakinan yang lurus dan kepasrahan total kepada Allah. Doa-doanya dikabulkan karena dibangun di atas dasar iman yang kukuh, lalu diwujudkan dalam bentuk kesetiaan dan kepatuhan penuh pada syariat.

Keimanan itu tidak dibangun sendirian. Ibrahim melibatkan seluruh keluarga: Siti Hajar yang tunduk ketika diberi tahu bahwa ia ditinggal atas perintah Allah, dan Ismail yang rela disembelih karena ketaatannya.

Urutan permohonan mereka pun serupa: dimulai dari komitmen iman dan kepasrahan, lalu permohonan ampun, dan akhirnya harapan akan segala bentuk kebaikan—baik di dunia maupun akhirat. Harapan pamungkas setiap jemaah haji pun sejalan:

Allāhummaj‘alnā ḥajjan mabrūran wa sa‘yan masykūran wa dzanban maghfūran wa tijāratan lan tabūrā. Wallāhu a‘lam.

Makkah, 11 Juni 2025

Baca Juga:  Siar Ramadan di Masjid Nailur Roja Jatinom

Penyunting Mohammad Nurfatoni