Feature

Bagaimana Menjaga Diri dan Keluarga dari Siksa Api Neraka?

37
×

Bagaimana Menjaga Diri dan Keluarga dari Siksa Api Neraka?

Sebarkan artikel ini
Menjaga dari Api Neraka: Dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid Al-Islah, Ketua PCM Menganti Nur Syamsi mengajak jemaah mendidik keluarga dengan akidah lurus, salat yang istikamah, dan niat amal yang murni karena Allah.
Ustaz Nur Syamsi, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Menganti saat memberikan tausiah pada Pengajian Ahad Pagi di halaman masjdi Al-Islah Sidowungu, Menganti Gresik, Jawa Timur, Ahad, 11 Mei 2025 (Tagar.co/ Nadhirotul Mawaddah).

Dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid Al-Islah, Ketua PCM Menganti Nur Syamsi mengajak jemaah mendidik keluarga dengan akidah lurus, salat yang istikamah, dan niat amal yang murni karena Allah.

Tagar.co – Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kecamatan Menganti, Nur Syamsi, S.Ag., menyampaikan tausiyah dalam Kajian Ahad Pagi di halaman Masjid Al-Islah, Sidowungu, Menganti, Gresik, Jawa Timur, Ahad (11/5/2025).

Dengan nada santai namun menyentuh, ia berbicara kepada jemaah tentang tema besar: bagaimana menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka?

Baca juga: Menjaga Fitrah lewat Telinga, Mata, dan Hati

“Allah itu begitu sayang kepada kita, sehingga Allah sering sekali memanggil kita. Hanya saja kita tidak merasa,” ucap Nur Syamsi, sembari merujuk ayat ke-6 surah At-Tahrim yang menyerukan, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Ia mengingatkan, salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah peringatan-peringatan dalam Al-Qur’an. Seperti firman-Nya dalam surah Al-Kahfi ayat 49: “Tidak ada satu pun yang kecil maupun besar, melainkan tercatat semuanya.” Pesan ini, kata Nur Syamsi, menjadi alarm spiritual agar setiap Muslim lebih berhati-hati dalam bertindak.

Baca Juga:  Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Ego dan Polarisasi, Dorong Persatuan Substantif Berbasis Gagasan dan Amal

Iman, Ibadah, dan Niat yang Lurus

Nur Syamsi menekankan pentingnya hidup sesuai tuntunan Ilahi. “Siapa yang mengikuti petunjuk Allah, hidupnya akan tenang, tidak ada rasa takut. Saat diberi banyak, bersyukur dan berkurban. Saat diberi sedikit, tetap bersedekah. Dan saat diuji, bersabar,” tuturnya.

Ia juga menguatkan jemaah agar tidak takut pada neraka jika terus menjaga keimanan. “Rasulullah Saw. sudah berjanji, semua umatnya akan masuk surga, kecuali yang tidak mau. Maka jangan enggan mengikuti Nabi,” tegasnya, merujuk pada hadis riwayat Bukhari.

Suasana persiapan Pengajian Ahad Pagi di halaman masjdi Al-Islah Sidowungu, Menganti, Gresik, Jawa Timur, Ahad, 11 Mei 2025 (Tagar.co/Nadhirotul Mawaddah).

Mendidik Keluarga ala Lukman

Merujuk kembali ke Surah At-Tahrim ayat 6, ia menafsirkan makna “jagalah” sebagai “didiklah”. Dalam hal ini, Nur Syamsi mengutip metode Lukman mendidik anak dalam Surah Lukman 13: “Wahai anakku, janganlah menyekutukan Allah.”

“Syirik adalah kezaliman terbesar. Bahkan syirik kecil seperti riya, bisa membuat amal sia-sia,” ujarnya. Ia pun mengingatkan bahwa orang yang terlihat saleh sekalipun bisa masuk neraka jika niatnya bukan karena Allah: seperti orang mati syahid yang berperang untuk pujian, alim ulama yang belajar demi popularitas, dan dermawan yang bersedekah demi dipuji.

Baca Juga:  Haedar Nashir Kritik Gaya Pemimpin Panggung

Salat dan Kesabaran

Selain pendidikan akidah, ibadah salat juga menjadi penekanan penting. Ia mengutip Surah Thaha 132: “Perintahkan keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah atasnya…”

“Jangan jadikan bekerja sebagai alasan meninggalkan salat. Allah tidak minta rezeki dari kita, justru Dia-lah pemberi rezeki,” pesannya menutup kajian.

Tausiyah Nur Syamsi terasa menyentuh karena mengalir dari keimanan yang diyakini, bukan sekadar teori. Sebuah pengingat sederhana, bahwa dakwah paling kuat justru lahir dari hati yang dekat dengan Ilahi. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni